Konten dari Pengguna

Kampus sebagai Penggerak Literasi Keuangan bagi Masyarakat Unbanked

Muhamad Ropiki

Muhamad Ropiki

Seorang mahasiswa Universitas Pamulang

·waktu baca 2 menit

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Muhamad Ropiki tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Tangerang Selatan, Banten Literasi keuangan menjadi hal penting di tengah semakin berkembangnya berbagai layanan keuangan, terutama layanan berbasis digital. Masyarakat perlu memiliki pemahaman yang cukup mengenai cara mengelola keuangan, memilih layanan keuangan, serta mengenali risiko agar dapat menggunakan layanan tersebut secara aman dan bertanggung jawab. Hal ini menjadi perhatian dalam kegiatan “Kampus sebagai Penggerak Literasi Keuangan bagi Masyarakat Unbanked” yang diselenggarakan di Ruang Teleconference Universitas Pamulang (UNPAM), Kampus II Viktor, Banten, pada Selasa, 6 Oktober 2026.

Penulis saat mengikuti kegiatan literasi keuangan di Universitas Pamulang.
zoom-in-whitePerbesar
Penulis saat mengikuti kegiatan literasi keuangan di Universitas Pamulang.

Kegiatan yang mengusung konsep “Campus to Community” ini menjadi ruang untuk membahas pentingnya literasi dan inklusi keuangan, khususnya bagi masyarakat unbanked atau masyarakat yang belum memiliki akses terhadap layanan keuangan formal. Kegiatan ini melibatkan unsur perguruan tinggi, media, dan industri keuangan untuk memberikan pemahaman mengenai cara mengenal serta memanfaatkan layanan keuangan dengan lebih baik. Dengan begitu, literasi keuangan tidak hanya menjadi materi pembelajaran, tetapi juga dapat diterapkan dalam kehidupan sehari-hari.

Berdasarkan Survei Nasional Literasi dan Inklusi Keuangan (SNLIK) 2025, indeks literasi keuangan Indonesia mencapai 66,46 persen, sedangkan indeks inklusi keuangan berada di angka 80,51 persen. Perbedaan tersebut menunjukkan bahwa akses masyarakat terhadap layanan keuangan belum sepenuhnya diikuti dengan tingkat pemahaman yang sama. Karena itu, edukasi mengenai pengelolaan keuangan, keamanan transaksi, risiko layanan keuangan, hingga penggunaan layanan digital masih penting untuk terus dilakukan.

Dalam kondisi tersebut, perguruan tinggi memiliki peran strategis dalam mendorong peningkatan literasi keuangan. Mahasiswa tidak hanya mendapatkan pengetahuan melalui kegiatan perkuliahan, tetapi juga dapat menjadi penghubung antara informasi keuangan dengan masyarakat. Pengetahuan mengenai pengelolaan keuangan, perbankan, investasi, dan layanan digital dapat disampaikan kembali dengan bahasa yang lebih mudah dipahami, terutama kepada masyarakat yang masih memiliki keterbatasan akses maupun pemahaman terhadap layanan keuangan formal.

Melalui kegiatan ini, Universitas Pamulang diharapkan dapat terus mendorong mahasiswa untuk ikut berperan dalam meningkatkan literasi keuangan di masyarakat. Edukasi yang dilakukan di lingkungan kampus dapat dilanjutkan melalui kegiatan sosial dan komunitas sehingga masyarakat unbanked semakin memahami pentingnya mengelola keuangan dan menggunakan layanan keuangan secara bijak. Dengan demikian, kampus tidak hanya menjadi tempat memperoleh pendidikan, tetapi juga dapat menjadi penggerak perubahan dan jembatan antara pengetahuan keuangan dengan kebutuhan masyarakat