Konten dari Pengguna

Gen Z, Media Sosial, dan Pergeseran Batas Keterbukaan

Muhamad Rosit

Muhamad Rosit

Dosen Komunikasi Politik Universitas Pancasila

·waktu baca 5 menit

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Muhamad Rosit tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Foto: Shutter Stock
zoom-in-whitePerbesar
Foto: Shutter Stock

Media sosial tidak hanya digunakan untuk menyampaikan pesan komunikasi, tetapi juga untuk mengekspresikan diri, menjalin pertemanan yang lebih personal dan intim. Menariknya, bagi Gen Z, mereka lebih nyaman dan terbuka ketika berkomunikasi dengan teman online di media sosial.

Jika dulu sebelum ada media sosial, keterbukaan diri (self-disclosure) lebih mungkin terjadi dalam hubungan offline, kepercayaan dan kedekatan emosional dikembangkan melalui interaksi langsung (face to face). Dengan interaksi langsung, komunikasi dibentuk melalui pesan verbal dan nonverbal dengan menunjukkan ekspresi wajah, gerak tubuh, postur dan intonasi suara guna menginterpretasikan makna percakapan untuk membangun kepercayaan dan kedekatan secara emosional.

Hal tersebut juga didukung melalui teori jarak komunikasi (proksemik) yang dikembangkan oleh Edward T. Hall. Berdasarkan teori ini jarak komunikasi dibagi menjadi 4 zona, yaitu jarak intim (o-44 cm), jarak personal (45 cm – 1,2 m), jarak sosial (1,2-3,6 m) dan jarak publik (di atas jarak 3,6 m) untuk mengatur kedekatan komunikasi secara emosional.

Jadi jika kedekatan jarak komunikasi selalu dikaitkan dengan jarak fisik, namun media sosial memiliki pendekatan dan situasi yang berbeda. Seseorang dengan jarak yang sangat jauh secara fisik dan letak geografis, tatapi melalui pertemanan dan komunikasi yang intens di media sosial, pertemanan menjadi lebih dekat secara emosional.

Rupanya hadirnya media sosial mengubah cara komunikasi interpersonal Gen Z. Mereka lebih nyaman ketika menjalin relasi di dunia maya. Media sosial menjadi ruang untuk menceritakan pengalaman, perasaan, kegelisahan, dan bahkan bisa menceritakan persoalan pribadi kepada teman online di media sosial.

Teori penetrasi sosial yang dikembangkan dua ahli psikolog asal Amerika Serikat, Irwin Altman dan Dalmas Taylor melalui proses hubungan interpersonal berlangsung melalui cara yang berbeda. Menurut Teori tersebut bahwa tahapan perkembangan hubungan pertemanan memiliki lapisan seperti kulit bawang merah mulai dari lapisan terluar yang berisi informasi umum hingga lapisan terdalam yang mencakup informasi pribadi, perasaan, hingga pengalaman yang lebih intim.

Pertemanan di dunia maya tidak serta merta melalui tahapan hubungan seperti yang digambarkan oleh teori penetrasi sosial. Justru mereka jauh lebih nyaman dan terbuka ketika berkomunikasi melalui orang yang mungkin baru beberapa hari dikenal di media sosial. Jadi proses hubungan interpersonal melalui tahapan dan waktu belum tentu berlaku seiring dengan hadirnya media sosial.

Fenomena itu dikuatkan berdasarkan temuan penelitian Tiara Eristina dari Universitas Negeri Padang yang dipublikasikan dalam jurnal Social, Humanities, and Educational Studies pada tahun 2025. Adapun temuan penelitian itu berdasarkan hasil polling yang sudah dilakukan di salah satu komunitas game online sebanyak 83 dari 115 remaja menyatakan lebih nyaman menjalin pertemanan secara online dibandingkan offline.

Peneliti juga melakukan survei untuk menggali fenomena ini lebih lanjut terhadap 51 remaja komunitas game online. Hasilnya menunjukkan bahwa 67,3% remaja terlibat aktif dalam interaksi sosial secara online, dengan 45,1% diantaranya melakukan interaksi setiap hari. Aktivitas yang paling sering dilakukan mencangkup obrolan ringan (84,3%), bermain game online bersama (50,8%), dan saling berbagi informasi dan pengalaman pribadi (33,3%).

Kemudian, sebanyak 60,8% responden menganggap penting memiliki teman online untuk memperluas dan membangun relasi, memperoleh hiburan, serta mendapatkan dukungan emosional seperti mendengarkan cerita, memberikan saran, dan memperoleh afiliasi dan validasi sosial dari teman online melalui respon positif terhadap unggahan seperti, cerita yang disukai dan pujian yang didapatkan dari teman online.

Data ini menegaskan bahwa relasi pertemanan online menjadi fakta di era media sosial. Hal ini karena perubahan komunikasi di dunia maya akan membentuk pola dan gaya komunikasi Gen Z dalam mengekspresikan relasi kedekatan emosional.

Mengapa lebih Terbuka?

Setidaknya ada beberapa faktor mengapa pertemanan di dunia maya bagi Gen Z lebih nyaman dan terbuka dibandingkan pertemanan secara offline. Pertama, alasan tidak terlalu terikat pada status sosial. Pertemanan di dunia maya lebih cair tanpa melihat status sosial teman kita. Kerapkali kesenjangan pendidikan, ekonomi, dan status sosial lain menjadi penghambat kedekatan diri dalam relasi pertemanan Gen Z, meskipun relasi pertemanan sudah berjalan cukup lama.

Kedua, tidak terlalu khawatir terhadap penilaian orang. Pertemanan online memungkinkan gen z mengungkapkan diri tanpa harus melalui tatap muka, sehingga tidak ada rasa segan, canggung dan takut dinilai. Bahkan mereka bisa menggunakan akun anonim yang satu sama lain tidak pernah mempermasalahkannya.

Ketiga, mudah menemukan orang yang memiliki pengalaman yang sama. Pengguna media sosial setiap tahun kian betambah terutama dikalangan Gen Z. Dengan demikian, mencari teman memiliki minat yang sama, pengalaman dan seirama (serupa) di dunia maya jauh lebih mudah dibandingkan dengan pertemanan secara offline. Kesamaan tersebut membuat pertemanan lebih mudah dalam membangun rasa kepercayaan, kedekatan emosional, dan keterbukaan satu sama lain.

Oleh karena itu, media sosial telah mengubah Gen Z dalam menjalin relasi pertemanannya. Layar handphone atau laptop yang selama ini menciptakan jarak fisik, tetapi tidak bisa selalu menciptakan jarak secara emosional. Justru sebaliknya, melalui komunikasi pertemanan online yang intens, hubungan menjadi jauh lebih dekat, terbuka dan nyaman satu sama lain.

Gen Z mungkin menghabiskan lebih banyak waktunya di dunia maya, tetapi kodrat manusia untuk didengar, dipahami, diperhatikan dalam pergaulan sosial tidak berbeda dengan generasi lainnya. kini, sebagai kebutuhan tersebut, mereka menemukan ruang digital untuk memenuhi kebutuhan sosialnya yang mungkin belum pernah terpikirkan oleh generasi-generasi sebelumnya.