AI dalam Coding: Dulu Sempat Di Benci Sekarang beralih menjadi ketergantungan

Saya adalah seorang mahasiswa prodi teknik informatika di universitas pamulang, dan senang berbagi pengalaman atau apapun mengenai TechLife dan Bussiness
·waktu baca 3 menit
Tulisan dari Muhamad Yoga tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Tiga bulan lalu aku ngerasain langsung gimana implementasi AI dalam proses coding sehari-hari bisa ngubah cara kerja developer. Aku dapat technical test dari sebuah instansi, dengan stack yang belum pernah aku sentuh sama sekali: Go, lengkap dengan Gin dan GORM, waktu pengerjaan cuma beberapa hari.
Dulu, situasi kayak gini bikin aku panik. Buka tutorial YouTube durasi empat jam, ikutin step by step, baru ngerti separonya pas video udah selesai. Sekarang caranya beda. Aku langsung buka editor, mulai nulis struktur project, dan tiap kali stuck, aku tanya ke AI assistant kenapa error itu muncul dan apa bedanya pendekatan Go dari Node.js yang aku kenal. Bukan minta AI nulisin semua kode, tapi minta dia jelasin logika di baliknya.
Hasilnya, aku kelar bikin sistem subscription lengkap dengan proteksi supaya satu user cuma bisa punya satu langganan aktif, pakai partial unique index di database. Tiga hari belajar Go dari nol sambil kerja jadi mungkin, karena AI berfungsi kayak senior developer yang selalu available, nggak pernah capek dijawabin pertanyaan dasar berulang-ulang.
Banyak orang di luar dunia development salah paham soal ini. Mereka pikir developer sekarang tinggal copy-paste dari AI terus kelar. Kenyataannya nggak sesederhana itu. AI kasih kode yang kelihatan jalan, tapi kalau developer nggak paham kenapa kode itu jalan, begitu ada bug yang lebih rumit, dia bakal stuck lagi dari nol.
Aku ngerasain sendiri pas debug fitur raise hand di aplikasi kelas online berbasis Socket.IO. Dua bug nyangkut di state management bikin tombol angkat tangan kadang nggak sinkron antar user. AI bantu aku nemuin di mana letak logic yang kelewat, tapi yang nentuin fix mana yang bener tetap aku, karena cuma aku yang paham alur bisnis aplikasinya secara utuh. Posisi AI buat aku lebih kayak rubber duck yang bisa ngobrol balik, ketimbang otak pengganti.
Belajar Hal Baru Nggak Harus Lewat Tutorial Panjang
Di luar kerjaan, aku lagi coba bikin game edukasi buat anak-anak pakai Godot. Aku belum pernah pegang Godot sama sekali. Dulu pendekatan aku selalu cari tutorial lengkap dari awal sampai akhir dulu sebelum mulai proyek sendiri. Sekarang aku langsung bikin prototipe kasar, dan belajar sambil jalan tiap kali ketemu masalah konkret.
Cara ini kerasa lebih nempel di kepala. Konsep node dan scene di Godot jadi lebih masuk akal karena langsung nyambung ke masalah nyata yang lagi aku hadapin, bukan konsep abstrak dari video yang belum tentu relevan sama proyekku.
Fundamental Tetap Wajib, AI Cuma Mempercepat Jalannya
Developer yang jago tetap harus paham algoritma, database, sampai arsitektur sistem. AI nggak ngubah itu. Yang berubah adalah waktu yang dibutuhin buat sampai ke titik paham. Dulu butuh berminggu-minggu baca dokumentasi dan nyoba-nyoba sendiri. Sekarang proses trial and error itu ditemenin partner yang bisa jelasin instan, meski keputusan akhir tetap ada di tangan developer-nya.
Buat developer yang masih ragu pakai AI karena takut skill-nya nggak berkembang, coba lihat dari pengalaman sendiri dulu. AI yang aku pakai buat technical test Go itu nggak nulisin kode dari nol buat aku. Dia bantu aku ngerti kenapa pendekatan Go beda dari Node.js, dan aku yang nentuin implementasinya. Bedanya ada di situ: siapa yang mikir, bukan siapa yang ngetik.
