Konten dari Pengguna

81 Tahun Merdeka: Rakyat Masih Mencintai, Republik Sudahkah Menepati Janji?

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Muhammad Refi Syahputra tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Gambar tersebut diambil langsung dari sejumlah komunitas dan organisasi di Tangerang Selatan yang membentangkan bendera merah putih di Situ Gintung pada saat perayaan HUT RI 81.
zoom-in-whitePerbesar
Gambar tersebut diambil langsung dari sejumlah komunitas dan organisasi di Tangerang Selatan yang membentangkan bendera merah putih di Situ Gintung pada saat perayaan HUT RI 81.

Terhitung sudah 81 tahun Indonesia merdeka, sejak 17 Agustus 1945 di Jl. Pegangsaan Timur No 56, tepatnya di rumah seorang pengusaha dari negeri Yaman bernama Syekh Faraj bin Marta. Indonesia kita ini hadir untuk menyejahterakan seluruh rakyat dari Sabang sampai Merauke.

Kemerdekaan itu sejatinya bukan hanya menggulung penjajahan dari bangsa kolonialisme tetapi juga menggelar keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia. Memang faktanya awal kemerdekaan Republik Indonesia ini, kita masih memiliki banyak kekurangan yang harus dibenahi. Tiadanya infrastruktur yang memadai, ekonomi lemah, ketertinggalan pendidikan. Karenanya, para founder Republik ini menyadari bahwasanya syarat untuk pesimis sudah lengkap, tetapi mereka memilih untuk berjuang dengan penuh harapan. Republik Indonesia ini membutuhkan inspirasi yang berkemajuan bukan ilustrasi yang melemahkan bahkan membuat kacau.

Republik Indonesia ini didirikan atas dasar semangat para relawan atau volunteer yang mau berjuang meluangkan waktunya, tenaganya, hartanya bahkan mengorbankan nyawanya demi sebuah kemerdekaan yang haqiqi serta dapat dirasakan seluruh rakyatnya tanpa batas waktu dan tempat.

Republik ini masih bertumbuh

Walaupun Indonesia ini sudah berusia 81 tahun, kita harus menyadari bahwasanya kita masih banyak kekurangan dan permasalahan sosial yang segera di evaluasi secara signifikan. Prioritas kinerja pemerintahan, kesehatan yang belum merata dampaknya, ekonomi yang terpusatkan hanya di beberapa wilayah tertentu. Indonesia ini berdiri di atas dan untuk semua golongan tanpa mengenal latar belakang kepribadian tertentu.

Republik ini bukan hanya sekedar bercita-cita, tetapi Republik ini berjanji. Berjanji untuk mensejahterakan rakyat, berjanji untuk memberikan jaminan sosial, berjanji untuk melindungi seluruh segenap rakyatnya dari belenggu-belenggu kesengsaraan yang membuat rakyatnya belum merdeka dalam menjalani kehidupan di Nusantara ini.

Dahulu Republik ini dikenal sebagai macan asia yang terbangun dari tidurnya, namun akhir-akhir ini, di berbagai tempat pembicaraan, diskusi tentang Republik Indonesia ini justru seolah kempis dari harapan dan simbol tersebut, karena begitu masif dan aktifnya rasa pesimis tentang bangsa ini yang menyebar. Namun, Indonesia ini diisi oleh pejuang-pejuang tangguh yang terus mendemonstrasikan bahwasanya Republik ini dapat bangkit dari keterpurukan tersebut.

Pada hakikatnya pemimpin di Republik ini harus memberikan rasa optimisme kepada seluruh rakyatnya, melalui berbagai program kinerja yang dijanjikan dalam kampanye 5 tahun sekali. Pemimpin itu seharusnya mampu mendobrak yang macet dalam sistem, memimpin arah juang bangsa dalam peranan global dunia dan semestinya pemimpin memberikan harapan yang menjanjikan kepada rakyatnya bukan ratapan yang kosong tanpa arah yang jelas. Pada akhirnya Republik ini harus tetap bertumbuh walau banyak kerikil ditengah jalannya berkehidupan demokrasi.

Republik ini masih dicintai Rakyatnya

Walaupun demikian, di sebuah wilayah, letaknya masih dalam jangkauan pusat administrasi kota Jakarta. Tepatnya di sebuah kecamatan Kebayoran Lama, tidak jauh dari stasiun, terdapat bangunan tempat tinggal di sepanjang pelataran rel stasiun, bangunan tersebut masih terbuat dari papan kayu tipis yang diselimuti lumut tebal, aliran listrik seadanya ditandai seliweran kabel yang digunakan untuk menggantungkan pakaian, memiliki atap dari genteng yang kadang-kadang tembus cahaya matahari masuk ke ruangan tersebut. Tentu bangunan tersebut jauh dari interior barang yang mewah dan pasti pemiliknya masih miskin.

Dengan keadaan lingkungan yang alakadarnya, mereka masih memasang bendera pusaka merah putih Indonesia setinggi-tingginya, tanpa memikirkan bahwasanya hidupnya jauh dari kata sejahtera. Mungkin mereka tidak memiliki banyak tabungan uang di bank-bank tempat penyimpanan uang, tetapi cinta mereka kepada bangsa ini begitu banyak dan tak pernah habis kemakan oleh waktu.

Dari ketinggian 1.276 mdpl, tepatnya di sebuah gunung Andong Kabupaten Magelang Jawa Tengah, terbentang bendera raksasa 80 metermeter. Selain itu, di Puncak Gunung Penanggungan perbatasan Mojokerto dan Pasuruan Jawa Timur berkibar bendera merah putih oleh para pendaki, sebuah tempat masih berkabut, jalan setapak, dinginnya udara, pemandangan indah dibelakangnya, mereka masih mencintai Republik ini dari sebuah tingginya tempat yang dilalui.

Menyusuri hamparan sawah dan pegunungan, terbentang bendera merah putih sepanjang 2,5 KM di sepanjang jalan tersebut dibawa masyarakat setempat (Bali) dengan hasil karya mereka yang dirajut sedemikian panjang. Lain tempat, yang belum sepenuhnya pulih dari bencana alam yang dahsyat, tepatnya Aceh terbentang bendera sepanjang 81 meter diiringi rasa bangga atas kemerdekaan yang telah diraih. Dan mereka masih mencintai Republik ini dari tempat yang jauh dari pusatnya perekonomian dan administrasi negara.

Dengan gedung tinggi, berkibar bendera merah putih setinggi 120 m di jalan Kota Depok, Margonda. Dan di Kalimantan Timur, Kota Samarinda tepatnya di simpang Lembuswana Samarinda, beberapa masyarakat sekitar berdiri dan memberikan hormat kepada bendera yang dibentangkan oleh satuan dinas pemadam dan beberapa instansi lainnya di belakang icon kota, Tugu Pesut. Mereka masih mencintai Republik ini tanpa syarat.

Jauh dari daratan dan kota, tepatnya di kedalaman dan keheningan laut yang dalam, dikibarkan bendera merah putih oleh beberapa penyelam, ini membuktikan bahwasanya cintanya kepada Republik ini masih nyata adanya dan berdampak nyata.

Republik Indonesia ini, walaupun masih banyak persoalan yang tidak absen dari benak rakyat kebanyakan, tetapi rakyat masih antusias menyambut kemerdekaan Republik ini. Walaupun wacana tentang Indonesia emas 2045 mendatang masih jauh dari kenyataan dan kisi-kisinya, masyarakat masih mencintai Republik ini tanpa syarat dan penuh harapan, keyakinan bahwasanya Republik ini akan terus bertumbuh dan melunasi janjinya walaupun masih banyak PR yang harus dituntaskan itu harus terus dijaga. karenanya, lebih baik berjuang dengan penuh harapan daripada menyerah dengan keputusasaan.