Konten dari Pengguna

Refleksi Kemerdekaan: Menjaga Kapal Menumbuhkan Peradaban

Muhamar Fakhri Usman

Muhamar Fakhri Usman

Muhamar Fakhri Usman is a second semester student in the political science study program at Muhammadiyah University of Jakarta.

·waktu baca 3 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Muhamar Fakhri Usman tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

This image was created with perplexity AI
zoom-in-whitePerbesar
This image was created with perplexity AI

Kemerdekaan Indonesia ibarat sebuah kapal besar yang diluncurkan dengan gemuruh sorak sorai pada 17 Agustus 1945. Kapal itu dibangun dari kayu tekad para pejuang, layar harapan yang terkembang, dan kompas cita-cita luhur sebagaimana tertulis dalam Pembukaan UUD 1945. Namun delapan dekade kemudian, sudahkah kapal ini berlayar menuju pelabuhan yang dijanjikan? Ataukah kita justru terombang-ambing di samudra kepentingan yang tak bertepi?

Peradaban suatu bangsa sering diibaratkan pohon besar: akarnya adalah sejarah, batangnya adalah sistem politik, dan daunnya adalah kesejahteraan rakyat. Pohon itu akan kokoh jika akarnya menancap dalam dan batangnya tak keropos. Sayangnya, ketika akar sejarah kita mulai dilupakan dan batang politik termakan rayap korupsi, daun kesejahteraan pun mulai berguguran Inilah peringatan bahwa refleksi kemerdekaan bukan sekadar ritual tahunan, melainkan upaya menyirami kembali akar nilai dan cita-cita bangsa.

Indonesia didirikan bukan hanya untuk merdeka dari penjajah, tetapi untuk menghadirkan keadilan sosial, mencerdaskan kehidupan bangsa, dan melindungi segenap tumpah darah. Tujuan itu adalah mercusuar di ujung perjalanan kapal kita. Namun mercusuar hanya berguna bila mata para nakhoda tidak terbutakan oleh kabut kekuasaan yang sempit. Maka, kita semua warga negara perlu menyalakan kembali obor kesadaran: bahwa kemerdekaan sejati bukanlah bebas tanpa arah, melainkan bebas untuk menuju mercesuar yang kita inginkan sebagai sebuah kapal bernama Indonesia.

Kemerdekaan yang diwariskan kepada kita sejatinya membawa misi yang terang: melindungi segenap bangsa, mencerdaskan kehidupan rakyat, dan menegakkan keadilan sosial. Itulah kompas yang seharusnya menuntun kapal besar bernama Indonesia. Namun, kompas itu sering tampak berputar tak tentu arah ketika nakhoda yang memegang kendali lebih sibuk dengan pelayaran pribadi. Akibatnya, kapal kita kerap terombang-ambing di samudra pragmatisme dan kekuasaan yang sempit.

Kini saatnya kita bertanya, sudahkah peradaban Indonesia yang sedang tumbuh ini berpijak pada nilai kemanusiaan, keadilan, dan kebijaksanaan? Ataukah kita sibuk menebang pohon kita sendiri demi keuntungan sesaat? Refleksi kemerdekaan adalah ajakan untuk kembali memandang akar dan batang peradaban itu, merawatnya dengan integritas, agar pohon peradaban terus subur dan, kapal bernama Indonesia tetap tegap menembus gelombang zaman dan berlabuh di pelabuhan yang diimpikan para pendiri bangsa.

Refleksi kemerdekaan bukanlah nostalgia kosong, melainkan upaya untuk menimbang kembali arah peradaban yang kita bangun. Apakah kemerdekaan hari ini telah membuat rakyat berdaulat atas nasibnya sendiri? Apakah hukum benar-benar menjadi penopang keadilan, bukan alat kekuasaan? Pertanyaan-pertanyaan ini bukan untuk melemahkan, tetapi untuk menyadarkan bahwa kemerdekaan yang tidak dijaga kesadarannya akan mudah terkikis oleh waktu. Di tengah derasnya arus globalisasi, kita bisa saja hanyut dan kehilangan identitas jika tidak kembali ke akar nilai yang melahirkan bangsa ini.

Kebinekaan, gotong royong, dan integritas bukan hanya kata indah dalam pidato, tetapi fondasi yang menjaga kapal Indonesia tetap utuh. Tanpa itu, kemerdekaan hanya akan menjadi layar yang robek terlihat megah dari jauh tetapi tak mampu menggerakkan kapal ke pelabuhan cita-cita.

Maka, momentum kemerdekaan tahun ini seharusnya menjadi panggilan untuk merawat kembali pohon peradaban yang sedang kita tumbuhkan. Kita tidak mewarisi kemerdekaan untuk sekadar dikenang, tetapi untuk dijaga dan diperkokoh. Sebab, kemerdekaan sejati bukanlah akhir dari perjuangan, melainkan awal dari tugas abadi: memastikan bahwa setiap warga Indonesia bisa berdiri di tanahnya dengan kepala tegak, hati merdeka, dan masa depan yang tidak lagi samar.