Kumparan Logo

Sandal Jepit, Modal Mbah Agus Tapaki Puncak Gunung-gunung Jawa Tengah

kumparanTRAVELverified-green

clock
comment
3
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Mbah Agus (Foto: The Slacker Hiker TV/Youtube)
zoom-in-whitePerbesar
Mbah Agus (Foto: The Slacker Hiker TV/Youtube)

Bila membicarakan tentang pendaki gunung, yang pertama terbayang mungkin adalah sekumpulan anak muda atau anggota mahasiswa pecinta alam dengan tas raksasa yang berisikan tenda serta peralatan gunung lainnya dan mengenakan sepatu yang cukup kuat untuk menggebuk maling.

Sejumlah barang tersebut merupakan sejumlah peralatan yang dianggap “wajib” untuk menjamin keselamatan para pendaki menghadapi medan dan cuaca yang tak menentu di pegunungan.

Tas gunung dibutuhkan untuk menampung logistik seperti makanan, pakaian ganti, kompor lapangan, sleeping bag, nesting, jas hujan, obat-obatan dan perangkat elektronik. Tenda dibutuhkan untuk tempat bermalam, sementara sepatu gunung akan sangat membantu menghadapi medan licin dan menghindari gesekan-gesekan yang menimbulkan luka.

Melihat vitalnya barang-barang tersebut beranikah kamu mendaki hingga puncak dengan hanya bermodalkan sandal jepit, tongkat dan plastik berisikan jas hujan dan 2 botol air 600ml?

Pastinya sebagian besar dari kita tak akan berani ataupun mau melakukan hal tersebut.

instagram embed

Namun hal ini tidak berlaku bagi Agus Pratikno atau yang sering dipanggil dengan Mbah Agus. Diumur yang menginjak 56 tahun, Mbah Agus berhasil menapaki semua gunung di Jawa Tengah dan juga satu gunung di Jawa Barat (Ciremai) dengan hanya bermodalkan peralatan-peralatan seadanya tersebut.

Sendal jepit yang Mbah Agus gunakan pun harganya sangat murah. Hanya 6000 rupiah! Dengan modifikasi khusus yaitu mengikatkan tali headlamp dibagian belakang sendal sebagai penyangga.

Sendal tersebut dapat awet digunakan untuk mendaki hingga 8 gunung.

instagram embed

Tak cuma itu, Mbah Agus yang memiliki sejumlah riwayat penyakit seperti masalah pernapasan dan darah rendah ini tidak pernah sekalipun bermalam di gunung alias ngecamp.

Mbah Agus selalu melakukan pendakian dengan sistem “tektok” yaitu pendakian yang hanya diselingi dengan istirahat sejenak tanpa mendirikan tenda.

Belum cukup? Mbah Agus selalu melakukan pendakian solo tanpa ditemani siapapun kecuali bila bertemu dengan pendaki lainnya di sepanjang jalur pendakian.

instagram embed

“Nggak pernah ngecamp dan selalu tektok . Panutan saya Mbah Hargo (bapaknya Mbah Marijan),” kata Mbah Agus kepada Kumparan.

Mbah Agus selama ini terinspirasi dari warga lokal di sekitar gunung yang mendaki tanpa adanya persiapan khusus dan tanpa membawa peralatan apapun bahkan sebagian tanpa alas kaki.

Pendakian “tektok” dilakukan bukan tanpa alasan, baginya cara pendakian tersebut merupakan cara yang paling tidak mengotori gunung karena logistik yang dibawa jauh lebih sedikit sehingga sampah yang dihasilkan dapat dikontrol.

Mbah Agus dengan tegas mengkritik “oknum-oknum” pendaki masa kini yang cenderung merusak alam dan mengatakan bahwa apa yang ia lakukan semata-mata untuk menjaga kelestarian gunung.

instagram embed

Terkait masalah safety, Mbah Agus memiliki sudut pandang tersendiri. “Masalah safety lebih enak tektok ada badaipun cuek tetap jalan. Intinya mudah melawan dingin harus dari dalam dengan cara jalan terus sedangkan tenda api unggun itu melawan dingin dari luar. Kena hujan atau badai selesai,” kata Mbah Agus.

Mbah Agus bercerita bahwa untuk mencapai puncak Gunung Merbabu setinggi 3142 meter di atas permukaan laut (Mdpl) ia hanya membutuhkan waktu 5 jam. Sementara kebanyakan pendaki yang jauh lebih muda membutuhkan waktu sekitar 8 jam, belum ditambah waktu bermalam di tenda.

Saat muda aksi Mbah Agus jauh lebih “nekat”, ia mendaki Gunung Merapi dimulai dengan berjalan kaki dari rumahnya yang berjarak 30 km dari basecamp Kinahrejo sebelum memulai pendakian gunung setinggi 2930 Mdpl. Jalur pendakian Kinahrejo juga tergolong ekstrim dan berbahaya karena merupakan kawasan yang biasa teraliri lahar saat Gunung Merapi meletus.

instagram embed

Namun apa yang dilakukan Mbah Agus bukan tanpa resiko, ia sempat terjatuh ke jurang saat melakukan pendakian malam hari ke Gunung Merbabu lewat jalur Batur Wonolelo. Mbah Agus harus menyelematkan diri sendiri dengan perlahan memanjat sambil berpegangan pada semak-semak yang kuat hingga akhirnya berhasil naik kembali ke jalur pendakian.

Meski tangan dan kaki terluka akibat semak-semak yang berduri Mbah Agus tetap melanjutkan pendakian.

Mbah Agus juga sempat beberapa kali tersesat saat melakukan pendakian, namun dia tetap tenang karena sebelumnya telah mempelajari peta gunung yang ia daki dan telah memiliki pengalaman survival di mana Mbah Agus sudah cukup paham dengan tumbuhan-tumbuhan yang terpaksa harus ia makan ketika tersesat.

Selain itu Mbah Agus memiliki sebuah teori yang ia pegang teguh dan membuatnya selalu tenang saat tersesat di pegunungan Jawa Tengah.

instagram embed

“Dengan acuan gunung di Jawa Tengah, jika kita tersesat maka kita asal jalan aja selama 12 jam pasti ketemu desa. Ini yang menguatkan mental kita jadi tidak panik. Beda kalau di luar Jawa mungkin seminggu aja belum ketemu desa.” ujar Mbah Agus yang mendapat dukungan 100% dari Istrinya untuk mendaki.

Selain tersesat, kita tentunya akan bepikiran bahwa mendaki sendiri akan terasa “horor” terlebih lagi kawasan gunung diidentikkan dengan hal-hal berbau mistis dan sebagai jalan menuju alam lain. Namun, entah untuk menguatkan mental para calon pendaki atau sebuah pernyataan yang tak memiliki pesan tersirat, Mbah Agus mengatakan bahwa selama ini ia tak pernah melihat, mendengar dan mendapat gangguan dari makhluk halus.

Hidup mati di tangan Tuhan, bisa di manapun dan kapanpun, kenapa mesti takut? Takut itu manusiawi cuma bagaimana kita menetralisirnya

Ke depannya Mbah Agus memiliki keinginan besar untuk mendaki Semeru. Perjalanan menuju Semeru dia akan lakukan dengan mengayuh ontel dari Jogja ke Malang.

Caiyo Mbah Agus!

instagram embed

Kerukunan dan saling tolong di Gunung itu harus dipertahankan dan dibawa dalam kehidupan sehari hari