Frankenstein: Kisah Sebuah Ambisi dan Tanggung Jawab yang Datang Darinya

Mahasiswa Universitas Sebelas Maret
·waktu baca 4 menit
Tulisan dari Muhammad Abiyuansyah Haidar tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan
“I ought to be thy Adam, but I am rather the fallen angel, whom thou drivest from joy for no misdeed.” Kalimat tersebut merupakan potongan dialog yang dilontarkan oleh sang monster kepada penciptanya, Victor Frankenstein sebagai curahan hatinya kepada orang yang menciptakannya. Bagi orang yang belum membaca atau mengetahui isi cerita dari novel frankenstein mungkin akan kebingungan dalam memahami arti dari potongan dialog tersebut apalagi kalimat tersebut ditulis dengan tulisan inggris lawas yang sudah jarang ditemui. Bagi yang belum tahu, Frankenstein or Modern Prometheus adalah novel karya Mary Shelley, seorang penulis dari abad ke 19 yang merupakan salah satu penulis wanita paling influental yang melalui novel frankenstein ini memberikan pengaruh besar terhadap genre gothic horror dan genre science fiction.
Novel ini menceritakan tentang Victor Frankenstein, seorang pemuda ambisius yang memiliki ambisi di luar nalar di bidang sains, ia ingin menjadi orang pertama yang mampu memnghidupkan orang mati. Dirinya beranggapan bahwa penemuan ini nantiny akan membawa kemajuan yang besar bagi dunia sains dan bagi umat manusia. Demi memenuhi ambisinya, ia mendedikasikan hidupnya belajar mengenai berbagai ilmu sains yang harapannya bisa ia gunakan untuk mewujudkan ide gilanya tersebut. Singkat cerita ia berhasil mewujudkannya, diciptakan dari potongan-potongan tubuh manusia yang satukan, ia berhasil meniupkan nyawa pada kumpulan potongan tubuh tersebut. Victor menjadi manusia pertama yang memberikan nyawa pada makhluk mati, namun bukannya merasakan kebahagian karena mampu mewujudkan ambisinya ia justru berlari ketakukan dari makhluk yang ia buat dengan tangannya sendiri.

Dari tindakannya ini hidupnya berubah menjadi suatu mimpi buruk yang tidak pernah terpikirkan olehnya. Singkat cerita, ia bertemu kembali dengan makhluk ciptaannya disaat dia sedang menyendiri meratapi kemalangan yang belakang ini menimpanya. Di momen pertemuan inilah potongan dialog di atas muncul, keluar dari mulut sang monster ( sebutan Victor untuk makhluk ciptaannya) sebagai sebuah curahan hati terhadap kemalangan-kemalangan yang menimpa dirinya setelah ia diberi kehidupan oleh Victor.
Akibat dari rupanya yang dianggap menakutkan sang monster dikucilkan oleh manusia. Semua percobaannya untuk membentuk hubungan dengan manusia gagal karena orang-orang sudah takut lebih dulu saat melihat rupanya. Di tambah juga dengan penciptanya yang kabur setelah melihatnya bangkit untuk pertama kali menambah rasa sengsara dalam dirinya. Ia datang menemui penciptanya untuk meminta pertanggung jawaban atas perbuatannya yang telah meniupkan nyawa dalam dirinya. “I ought to be thy Adam, but I am rather the fallen angel, whom thou drivest from joy for no misdeed.” Kalimat ini adalah metafora dimana sang monster sebagai makhluk ciptaan victor adalah layaknya Adam sang manusia pertama di muka bumi, akan tetapi perlakuan yang diterimanya membuatnya lebih mirip seperti lucifer sang malaikat yang terbuang.
Ini hanyalah sebagian dari sekian banyak hal menarik yang ada dalam kisah novel ini. Frankenstein adalah novel dengan berbagai tema yang menarik untuk dikulik. Ini adalah novel tentang ambisi, tanggung jawab, peran dari orang tua hingga bahaya dari manusia yang berusaha memainkan peran dewa. Buku ini mengemas tema, penokohan dan alur ceritanya dengan kata-kata dan kalimat-kalimat yang bisa dibilang indah dan puitis. Gaya penulisan ini merupakan salah satu daya tarik dari novel ini, akan tetapi bisa jaadimerupakan kekurangan bagi sebagian orang. Penulisan kata yang puitis membuat penyampaian informasi menjadi lebih lambat dan bertele-tele karena banyaknya penggunaan kata untuk mencapai penyusunan kalimat yang indah tersebut. Ditambah dari fakta bahwa Frankenstein merupakan product of its time, yang dimana novel ini ditulis menggunakan bahasa inggris yang cukup berbeda dengan bahasa inggris yang digunakan pada zaman sekarang. Ada banyak kosakata yang sulit ditambah dengan penyusunan kata yang berbeda dibandingkan sekarang membuatnya menjadi sulit untuk dibaca terutama bagi yang belum terbiasa dengan bahasa inggris pada zaman tersebut.
Terlepas dari hal-hal tersebut, Frankenstein tetaplah buku yang patut dibaca terutama bagi peminat buku. Buku ini menawarkan insight mengenai unsur-unsur yang nantinya meng-influence genre gothic horror dan science fiction. Gaya penulisannya mungkin bukan sesuatu yang bisa disukai oleh semua orang tetapi bagi yang bisa mengesampingkan gaya penulisan tersebut akan disuguhkan dengan cerita yang emosional, tragis, dan pastinya menarik.
