Konten dari Pengguna

Sopan Santun: Sebuah Bahasa Tubuh atau Hirearki Sosial

Muhammad Adib Al-Fikri

Muhammad Adib Al-Fikri

Penulis dan pemerhati budaya-sosial. Mahasiswa Magister Kajian Budaya Universitas Padjadjaran.

·waktu baca 3 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Muhammad Adib Al-Fikri tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Ilustrasi anak sedang ngobrol dan mendengarkan nasehat ibunya. foto/istockphoto
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi anak sedang ngobrol dan mendengarkan nasehat ibunya. foto/istockphoto

Dari beberapa berita yang saya lihat, beberapa pendemo melakukan demonstrasi terhadap kebijakan pemerintah yang dianggap tidak tepat. Beberapa lainnya hanya berdiam ketika mendengar sebuah ceramah atau ocehan dari yang lebih tua darinya. Sedangkan lainnya harus menunduk ketika melewati beberapa bapak-bapak tua yang sedang duduk diantara mereka. Dan salah satu panglima tertinggi negara kita berkata bahwa, demo itu harus dilakukan dengan sopan santun. Jadi, apa itu sopan santun? Sebuah bahasa tubuh atau hirearki budaya?

Setidaknya mari kita lihat pada sumber terpercaya. Menurut tirto.id sopan santun adalah suatu unsur penting dalam sosialisasi, karena adanya upaya untuk menghormati yang tua dan mengayomi yang muda. Sedangkan menurut Pertiwi (2020), sopan santun diharuskan ada di dalam setiap individu, karena dengan menunjukkan sifat sopan santunlah seseorang akan dihargai dan disenangi sebagai makhluk sosial dimanapun ia berada. Pada kali ini saya berasumsi bahwa setiap tindakan yang kita buat, adalah upaya untuk mengatur bagaimana cara kerja individu di dalam lingkungan.

Ini yang menjadi dasar permasalahan saya. Pemikiran yang tak kunjung reda, bagaimana saya bisa berasalan kalau sopan santun adalah sebuah turunan, sedangkan tubuh kita adalah miliki kita.

Sebuah paradoks bilamana kita selalu menunduk ketika melewati orang tua, mencium tangan ketika bertemu orang tua, dan bahkan harus tunduk ketika berbicara. Ini adalah masalah ketika kita sendiri tidak bisa memaknai tubuh kita sebagai individualis terbebas dari hukum dan norma apapun. Saya selalu beranggapan bahwa tubuh seharusnya terbebas dari intervensi luar, seperti aturan, politik, dan konvensi sosial. Kita terbebani dengan ini semua, sehingga apapun yang kita lakukan, hanyalah benar dan salah diantaranya.

Tapi jika saya katakan bahwa sopan santun adalah hirearki sosial, saya kira ini lebih tepat. Karena tubuh ini selalu tertuju pada sebuah ajaran, dimana jika kita salah kita akan dibenarkan, dan jika kita benar maka ini patut jadi sebuah contoh turun menurun. Pertanyaannya adalah, apakah ini sebuah konvensi sosial? Dimana letak kebebasan tubuh itu.

Kita takut jika yang kita lakukan adalah salah, tetapi kita akan sebebas mungkin lakukan jika hal itu dibenarkan. Sebenarnya mana yang baik?

Pertanyaan ini harus kita temukan, dengan cara kita sendiri. Alih fungsikan pikiran ini sementara untuk sekedar pada diri sendiri tentang apa itu sopan santun, apakah sebagai bahasa tubuh dan hirearki sosial. Saya sendiri akan katakan bahwa sopan santun ketika menjadi suatu aturan tetap adalah kemunafikan, karena tubuh tidak bisa dikendalikan, kecuali hanya menurut pada tuannya. Yaitu tubuh kita sendiri.

Referensi:

  1. Menumbuhkan Sikap Sopan Santun dalam Kehidupan Sehari-hari Melalui Layanan Klasikal Bimbingan dan Konseling Kelas IX SMA Negeri 3 Sukadana, Hesti Pertiwi, 2020.

  2. https://tirto.id/apa-itu-perilaku-sopan-santun-dan-contohnya-di-rumah-sekolah-gAYs (Di akses pada tanggal 13 Januari 2025)