Gen Z dan Jam Kerja: Mau Bekerja Keras dengan Batas yang Jelas

Mahasiswa S1 Prodi Sistem Informasi, Universitas Pamulang
ยทwaktu baca 3 menit
Tulisan dari Muhammad Akhdan Ali tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan
Work Life Balance: Bekerja Keras Tanpa Mengorbankan Kehidupan

Gen Z kini memiliki pandangan yang berbeda terhadap work life balance di dunia kerja. Dulu, atasan menganggap karyawan yang bertahan di kantor sampai larut malam sebagai teladan. Sekarang banyak anak muda melihat lampu kantor yang masih menyala itu sebagai lampu merah. Gen Z tetap mau bekerja keras demi karier, tetapi mereka juga ingin memiliki life balance antara pekerjaan dan kehidupan pribadi. Sebelum itu, mereka bertanya: apa yang harus saya korbankan?
Gen Z dan Jam Kerja: Istirahat Menjaga Kinerja Tetap Stabil
Dalam survei Jakpat pada Februari 2024, 655 responden Gen Z yang sudah atau berencana bekerja menjawab pertanyaan tentang alasan keseimbangan hidup dan kerja itu penting. Sebanyak 74 persen menyebut kesehatan mental dan 69 persen mengaitkannya dengan semangat kerja. Masing-masing 68 persen memilih alasan menurunkan stres dan meningkatkan kinerja.
Gaji dan Jam Kerja Sama-Sama Menentukan
Survei Jakpat pada 2022 menanyakan alasan Gen Z Indonesia ingin mengundurkan diri. Responden dapat memilih lebih dari satu alasan. Gaji yang tidak sesuai dengan beban kerja menempati urutan pertama (64,9 persen), disusul jam kerja yang tidak teratur dan berlebihan (56,9 persen) dan budaya kerja yang toksik (52,4 persen). Tidak adanya keseimbangan hidup dan kerja dipilih 37,2 persen responden.
Tekanan ekonomi ikut memperkuat gambaran ini. Dalam survei Deloitte 2026 di Inggris, biaya hidup menjadi kekhawatiran terbesar anak muda (44 persen Gen Z). Meski begitu, tujuan karier yang paling banyak dipilih tetap keseimbangan kerja dan hidup (20 persen Gen Z).
Ambisi Ada, Kursi Panasnya Dihindari
Sebagian orang menyebut sikap ini kurang ambisi. Data Deloitte 2026 menunjukkan gambaran lain. Hanya 6 persen responden (Gen Z dan milenial) menjadikan jabatan pemimpin tujuan karier utama, tetapi 76 persen Gen Z dan 67 persen milenial ingin suatu hari menduduki posisi senior.
Mereka ragu karena melihat beban di posisi atas. Di antara responden yang tidak memprioritaskan jabatan pemimpin, Gen Z menyebut stres dan burnout (50 persen), tanggung jawab berlebihan (50 persen), dan kekhawatiran soal keseimbangan hidup (41 persen) sebagai hambatan terbesar. Survei ini melibatkan lebih dari 22.500 responden di 44 negara.
Gaji dan Fleksibilitas Menarik Calon Pemimpin
Gaji yang lebih tinggi menjadi faktor teratas yang membuat jabatan pemimpin menarik bagi Gen Z (53 persen). Pengaturan kerja fleksibel menyusul di urutan kedua (42 persen), lalu kejelasan jalur menuju posisi pemimpin (36 persen).
Pesan untuk Kantor dan Fresh Graduate
Perusahaan sebaiknya menetapkan jam kerja yang jelas supaya pekerja muda betah. Atasan yang tidak kehabisan tenaga membuat posisi manajer layak diperjuangkan, dan fleksibilitas menambah daya tarik di mata anak muda.
Fresh graduate boleh bernegosiasi sejak wawancara. Tanyakan jam kerja dan aturan lembur, hitung apakah gajinya sepadan, lalu cek opsi hybrid. Pertanyaan itu menunjukkan kamu merencanakan karier jangka panjang.
Ruang Bernapas di Luar Jam Kantor
Gen Z mau bekerja keras selama pekerjaan itu tidak menggerogoti kesehatan dan tidak menghabiskan seluruh waktu mereka. Perusahaan yang ingin mempertahankan talenta muda perlu memberi ruang bernapas di luar jam kantor, di samping gaji yang sepadan. Responden Jakpat sendiri menilai keseimbangan hidup dan kerja ikut mendongkrak kinerja mereka.
