Agama Bukan Tentang Takut Neraka, Tapi Cinta pada Tuhan

Mahasiswa Prodi Ilmu Al- Qur'an dan Tafsir UIN Syarif Hidayatullah Jakarta
·waktu baca 2 menit
Tulisan dari Muhammad Akhyar tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Dari kecil kita sering dengar: “Jangan maksiat, nanti masuk neraka!” atau “Kalau nggak salat, dosa besar!” Lama-lama kita tumbuh dengan rasa takut, bukan cinta. Seolah agama itu semacam alarm bahaya, bukan pelita yang menuntun pulang.
Padahal, esensi agama bukan sekadar soal hukuman dan pahala. Agama itu tentang hubungan antara makhluk dan Sang Pencipta. Hubungan yang dibangun bukan karena takut dijauhkan dari surga, tapi karena rindu didekatkan kepada-Nya. Bukan karena terpaksa, tapi karena ingin hadir di hadapan-Nya dengan hati lapang.
Bayangkan hubunganmu dengan orang tua. Kalau kamu hanya patuh karena takut dihukum, apa itu cinta? Tapi jika kamu menaati karena sayang, karena paham bahwa mereka ingin yang terbaik untukmu itulah bentuk cinta sejati. Begitu pula hubungan kita dengan Allah. Taat bukan karena ancaman, tapi karena kerinduan.
Shalat, puasa, zakat, sedekah, semua itu bukan sekadar kewajiban yang mengekang, melainkan ekspresi cinta. Seperti seseorang yang sedang jatuh cinta selalu ingin memberi, selalu ingin hadir, selalu ingin dekat. Karena cinta itu bukan hanya perasaan, bukan hanya kata, tapi gerakan.
Tentu, rasa takut tetap penting. Ia adalah pagar yang menjaga kita agar tidak tersesat. Tapi bukan itu fondasinya. Fondasi yang kuat justru cinta yang membuat kita rela bangun dini hari demi sujud panjang, cinta yang membuat kita menangis dalam doa meski tak ada yang melihat, cinta yang membuat kita ikhlas memberi walau dalam kesempitan.
Agama bukan beban yang menakutkan, tapi pelukan yang menenangkan. Ia bukan sekadar larangan, tapi cahaya yang menuntun. Ia tidak memenjarakan, justru membebaskan: dari ego, dari gelisah, dari kesia-siaan.
Kalau kamu merasa agama terlalu menekan dan menakutkan, mungkin bukan ajarannya yang salah. Mungkin kita hanya terlalu lama diajari takut, hingga lupa bahwa Tuhan lebih dulu memperkenalkan diri-Nya sebagai Ar-Rahman dan Ar-Rahim Maha Pengasih dan Maha Penyayang.
Maka mari pulang, bukan karena takut diseret, tapi karena cinta yang menggeret hati kita untuk kembali kepada-Nya.
