Konten dari Pengguna

Kenapa Masa Kecil Kita Selalu Terasa Lebih Nyata daripada Hari Ini?

Muhammad Akhyar

Muhammad Akhyar

Mahasiswa Prodi Ilmu Al- Qur'an dan Tafsir UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

·waktu baca 2 menit

comment
2
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Muhammad Akhyar tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

(sumber: pixabay.com)
zoom-in-whitePerbesar
(sumber: pixabay.com)

Pernah nggak sih kamu lagi bengong, tiba-tiba keinget bau tanah waktu main hujan pas kecil? Atau rasa jajanan SD yang sekarang nggak pernah seenak dulu?

Lucunya, masa kecil itu udah lewat bertahun-tahun, tapi masih terasa lebih hidup daripada banyak hari yang kita jalani sekarang.

Pertanyaannya: kenapa kenangan masa kecil sering terasa lebih nyata, lebih penuh, lebih berwarna dibanding hidup kita hari ini?

1. Karena Saat Kecil, Kita Hidup Tanpa Filter

Anak-anak mengalami dunia sebagaimana adanya.

Lagi hujan, ya lari.

Lihat pelangi, langsung takjub.

Nangis kalau sedih, ketawa kalau senang.

Nggak ada pencitraan. Nggak mikir “malu” atau “gengsi”.

Makanya semua momen terekam dalam kondisi paling murni.

Itu yang bikin kenangan masa kecil jadi ‘utuh’.

2. Karena Dunia Dulu Masih Baru Buat Kita

Waktu kecil, semua hal masih “pertama kali”:

Pertama kali naik sepeda.

Pertama kali lihat laut.

Pertama kali bohong dan ketahuan.

Otak kita merekam pengalaman pertama dengan lebih kuat dan lebih emosional.

Setelah dewasa? Kita udah lihat semuanya. Semuanya jadi “biasa aja”.

3. Karena Kita Dulu Punya Waktu untuk Benar-Benar Hadir

Anak kecil bisa main tanah dua jam tanpa mikirin apa-apa.

Nggak ada notifikasi, to-do list, atau chat kerja yang belum dibalas.

Mereka benar-benar hadir di momen itu.

Sekarang?

Kita scroll sambil makan, mikir sambil mandi, kerja sambil stres.

Jadi wajar kalau masa kecil terasa lebih nyata. Kita dulu benar-benar hadir. Sekarang… kadang cuma numpang lewat.

4. Karena Dulu Kita Belum Takut Kehilangan

Anak kecil nggak mikir masa depan.

Mereka nggak takut gagal, ditinggal, atau dinilai.

Semua dijalani. Semua dimaafkan. Semua dilupakan.

Sekarang?

Kita bawa beban banyak banget:

Harapan orang lain

Luka yang belum sembuh

Ketakutan yang nggak selesai

Kita bukan lagi si anak kecil yang berani lari hujan-hujanan. Kita udah jadi orang dewasa yang mikir, “Nanti sakit nggak ya?”

Masa kecil terasa lebih nyata bukan karena waktu itu lebih indah.

Tapi karena kita benar-benar hadir di dalamnya.

Kita benar-benar hidup.

Mungkin jawabannya bukan di masa lalu, tapi di cara kita menjalani hari ini.

Mungkin kalau kita belajar hadir sepenuh hati lagi

Tanpa terlalu sibuk jadi orang lain,

Tanpa lupa melihat langit dan mendengar suara angin

Kita bisa merasa hidup… sekali lagi.