Konten dari Pengguna

Tabuik Pariaman: Tradisi Tahunan yang Sarat Sejarah dan Nilai Keagamaan

Muhammad Alghifari Taufiq

Muhammad Alghifari Taufiq

Mahasiswa Prodi Ilmu Komunikasi Universitas Pamulang sejak tahun 2024

·waktu baca 2 menit

comment
1
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Muhammad Alghifari Taufiq tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Oleh Muhammad Alghifari Taufiq

Mahasiswa Ilmu Komunikasi, FIKOM Universitas Pamulang

Suasana tradisi Tabuik di Pariaman. (Gambar: AI)

Tabuik merupakan tradisi tahunan masyarakat Kota Pariaman, Sumatera Barat, yang dilaksanakan antara tanggal 1 hingga 10 Muharram dalam kalender Islam. Tradisi ini bertujuan memperingati gugurnya cucu Nabi Muhammad, Husain bin Ali, dalam Perang Karbala pada 10 Muharram, yang dikenal sebagai Hari Asyura. Tabuik telah menjadi bagian penting dari budaya masyarakat Sumatera Barat sejak ratusan tahun lalu.

Asal-Usul Tradisi Tabuik

Tradisi Tabuik diyakini diperkenalkan ke Pariaman oleh perantau Muslim dari India Selatan yang beraliran Syiah pada abad ke-19 hingga awal abad ke-20. Kata "Tabuik" berasal dari bahasa Arab tabut yang berarti "peti kayu". Dalam perkembangan lokal, pengaruh bahasa Minangkabau mengubah penyebutannya menjadi "tabuik".

Dalam tradisi ini, tabuik mengacu pada representasi makhluk legenda Buraq—sebuah sosok bersayap dengan kepala manusia—yang membawa peti jenazah Husain bin Ali menuju surga setelah kesyahidannya di Karbala. Setiap tahunnya, masyarakat Pariaman membuat replika Buraq dengan peti jenazah di punggungnya, yang kemudian diarak dalam puncak perayaan.

Simbolisme Tabuik tidak hanya mengenang peristiwa duka di Karbala, tetapi juga menegaskan keagungan Allah Subhanahu wa Ta'ala dalam memuliakan hamba-Nya yang syahid di jalan kebenaran.

Tahapan dalam Tradisi Tabuik

Tabuik merupakan ritual kolosal yang melibatkan banyak warga. Terdapat tujuh tahapan utama dalam pelaksanaan tradisi ini, yakni:

  1. Mengambil Tanah – Dilakukan di lokasi khusus sebagai bagian dari ritual awal.

  2. Menebang Batang Pisang – Melambangkan bagian tubuh manusia yang akan digunakan dalam prosesi.

  3. Mataam – Upacara ratapan mengenang syahidnya Husain.

  4. Mengarak Jari-Jari – Pengangkutan rangka tabuik yang telah dirakit.

  5. Mengarak Sorban – Pawai membawa sorban simbolis milik Husain.

  6. Tabuik Naik Pangkek – Penyatuan bagian-bagian tabuik menjadi satu kesatuan besar.

  7. Hoyak Tabuik – Prosesi menggoyang-goyangkan tabuik oleh para peserta sebelum dibuang ke laut.

Puncak perayaan berlangsung pada hari ke-10 Muharram. Tabuik akan diarak meriah menuju pantai, lalu dihanyutkan ke laut menjelang waktu Magrib, sebagai simbol pelepasan duka dan kembalinya ruh Husain kepada Sang Pencipta.

Tabuik yang siap dihanyutkan ke laut dan disaksikan oleh ribuan masyarakat. (Foto: ANTARA FOTO/IGGOY EL FITRA)

Makna dan Pesan Moral Tradisi Tabuik

Esensi utama dari tradisi Tabuik adalah memperingati pengorbanan dan perjuangan Husain bin Ali melawan kezaliman dalam Perang Karbala pada tahun 61 Hijriah. Tabuik bukan hanya tentang mengenang kesedihan, tetapi juga menumbuhkan semangat perlawanan terhadap ketidakadilan dan menghidupkan nilai-nilai keberanian, kesetiaan, serta keadilan.

Tradisi ini menjadi wujud nyata bagaimana sebuah komunitas menjaga memori kolektif mereka terhadap nilai-nilai luhur melalui kesenian dan ritual budaya.

Tertarik mau ikut? Catat tanggalnya jangan sampai ketinggalan!