Persepsi Baru Terhadap Kebebasan dan Kebahagiaan

Dosen Universitas Negeri Makassar
Tulisan dari Muhammad Ammar Naufal tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Menarik sekali pembahasan dari buku The Psychology of Money. Salah satu babnya membahas tentang Freedom. Di situ dikatakan bahwa
Controlling your time is the highest dividend money pays.
Kebebasan menurutnya adalah mereka yang mampu memegang kendali atas waktunya, melebihi berharganya segepok uang.
Kebebasan sering dikaitkan dengan kebahagiaan. Persepsi kebahagiaan setiap orang berbeda-beda. Tidak sedikit yang beranggapan bahwa kebahagiaan itu kalau sudah kaya, mendapat pekerjaan idaman, punya istri cantik, punya warisan miliaran, punya kedudukan tinggi dan dihormati masyarakat.
Dalam buku The Psychology of Money, bab 7 tentang Freedom, dijelaskan sebaliknya, bahwa kebahagiaan itu kalau kita mengontrol hidup atau waktu kita. Contohnya, ketika ingin rekreasi, kita bisa melakukannya. Bermain bersama istri, anak dan keluarga, kita punya waktu dan tidak disibukkan dengan urusan kantor.
Dikisahkan seorang pengusaha sukses, Derek Sivers, pernah menulis surat ke temannya yang bertanya bagaimana ia bisa mencapai kekayaan luar biasa. Dia punya pekerjaan di Midtown Manhattan dengan gaji $20,000 per tahun. Dia tidak pernah makan di luar dan tidak pernah menggunakan jasa taksi. Biaya hidupnya sekitar $1000 per bulan dan penghasilannya $1800 per bulan. Dia bekerja selama dua tahun dan menyimpan uang sampai $12,000. Saat itu usianya 22 tahun.
Ketika uangnya mencapai $12,000, dia keluar dari pekerjaannya dan menjadi seorang musisi. Dia tahu bahwa dia bisa mendapatkan lebih dari itu untuk biaya hidupnya. Tapi dia memilih berhenti dan menjadi bebas. Dan dia tidak pernah lagi mendapatkan pekerjaan setelahnya.
Ketika selesai menceritakan kisahnya, temannya bertanya lagi terkait perusahaan yang dia punya. Dia berkata tidak, tidak lagi terlibat dengan perusahaannya. Itu tidak lebih hanya tumpukan uang di bank yang tidak punya perbedaan besar dalam hidupnya. Perubahan besar terjadi ketika ia berumur 22 tahun itu. Ketika dia free mengontrol waktunya.
-
Ada kisah menarik dari John D. Rockefeller, salah seorang konglomerat sukses sepanjang masa. Dia seorang yang misterius, banyak menghabiskan waktunya dengan dirinya sendiri. Dia jarang berbicara, bercuap-cuap, dan membuat dirinya susah diakses oleh orang lain dan selalu tetap menutup mulut ketika menjadi pusat perhatian.
Seorang pekerja kilang yang jarang mendengar Rockefeller bersuara, pernah mendengar dia berbicara, "He lets everybody else talk, while he sits back and says nothing." Ketika ditanya tentang kesenyapannya selama pertemuan/rapat, Rockefeller malah berpantun:
A wise old owl lived in an oak,
The more he saw the less he spoke,
The less he spoke, the more he heard,
Why aren't we all like that wise old bird?
Dengan kebiasaannya itu, Rockefeller sebenarnya bekerja bukan dengan apa yang ada ditangannya, bukan dengan membangun kereta api, bukan dengan mendirikan kilang minyak, tapi dia bekerja dengan pikirannya dan untuk membuat keputusan (make good decision). Tidak ada yang bisa membantah bahwa ia pernah mempekerjakan 10 juta orang di bawah perusahaannya.
Pekerjaan yang dilakukan Rockefeller saat itu, pada saat ini lebih dikenal sebagai job manager, official, dan professional. Ke semuanya adalah decision-making job. Hampir 41% pekerjaan itu bertumpu pada pikiran. Ketika pekerjaan pertukangan punya peralatan tukang yang ketika sudah selesai bekerja maka ditinggal di tempat kerja dan istirahat. Sementara seorang manajer dan profesional punya brain sebagai peralatannya dan itu tidak bisa diletakkan. Bermakna, pikiran bekerja 24/7. Kita mungkin masih berpikir proyek besar ketika sedang makan, tidur dan ketika melakukan aktivitas harian.
Membandingkan dengan generasi sebelumnya, kontrol atas waktu telah berkurang. Dan karena mengendalikan waktu adalah kunci kebahagiaan yang berpengaruh, kita tidak begitu kaget dengan orang-orang yang tidak merasa lebih bahagia daripada yang kita pikir lebih kaya dari sebelumnya.
Sekali lagi, setiap orang memiliki standar kebahagiaan masing-masing. Langkah pertama untuk mengetahuinya adalah tentukan apa yang membuat dan tidak membuat kita bahagia. Kontrol atas waktu adalah fakta kebanyakan orang yang mapan bahwa ia adalah faktor kebahagiaan.
Karl Pillemer, dalam bukunya 30 Lessons for Living, mewawancarai ribuan orang tua Amerika untuk mencari pelajaran hidup berharga yang mereka dapatkan dari pengalaman hidupnya. Dia menulis:
Tidak seorang pun yang mengatakan bahwa untuk menjadi bahagia kamu harus mencoba bekerja sekeras mungkin yang kamu bisa untuk mendapatkan uang untuk membeli apa yang kamu inginkan.
Tidak seorang pun mengatakan bahwa penting menjadi paling tidak sekaya orang-orang di sekitar kamu, dan jika kamu mempunyai itu lebih dari siapa pun maka itu disebut kesuksesan sejati.
Tidak seorang pun mengatakan bahwa kamu harus memilih pekerjaan kesukaanmu yang bisa mendatangkan pendapatan yang besar.
Nilai apa yang mereka berikan ke kita adalah tentang kualitas pertemanan (quality friendships), menjadi bagian dari sesuatu yang besar dan diri mereka sendiri, dan menghabiskan kualitas waktu dengan anak-anak mereka (keluarga).
Mereka juga mengatakan, "Your kids don't want your money (or what your money buys) anywhere near as much as they want you. Specifically, they want you with them." Tulis Pillemer.
Olehnya itu, segera ambil 'itu':
Controlling your time is the highest dividend money pays.
(Muhammad Ammar Naufal, Ph.D./ Dosen Universitas Negeri Makassar/Ketua Umum PPI Malaysia 2018-2019/Ketua 2 PP Lidmi)
