Konten dari Pengguna

Kurikulum Merdeka dan Realita yang Tak Semerdeka Itu

Muhammad Ardiansyah

Muhammad Ardiansyah

Mahasiswa Program Studi Pendidikan Ekonomi di Universitas Pamulang

·waktu baca 2 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Muhammad Ardiansyah tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Sumber: https://pixabay.com/
zoom-in-whitePerbesar
Sumber: https://pixabay.com/

Kurikulum Merdeka datang dengan semangat membebaskan guru dan siswa dari belenggu metode belajar yang kaku. Ide dasarnya keren yaitu guru punya keleluasaan lebih untuk mengatur pembelajaran sesuai kebutuhan siswa, sementara siswa bisa belajar lebih mandiri dan kreatif. Sayangnya, di lapangan, kebebasan ini justru memunculkan tantangan tersendiri, terutama bagi para guru yang harus menjalankan kurikulum ini.

Masalah terbesar yang seringkali terjadi adalah kesiapan guru dalam menghadapi perubahan ini. Tidak semua guru punya bekal atau pelatihan yang cukup untuk menerapkan gaya mengajar yang lebih fleksibel dan berorientasi pada kebutuhan siswa. Banyak guru masih terbiasa dengan cara mengajar yang konvensional, dan adaptasi ke metode baru jadi proses yang tidak mudah. Padahal, peran guru dalam Kurikulum Merdeka lebih kompleks yakni mereka harus menjadi fasilitator sekaligus pengembang materi pembelajaran.

Selain itu, beban guru dalam menyusun rencana pembelajaran juga semakin berat. Dalam Kurikulum Merdeka, guru harus membuat rancangan yang bersifat personal dan menyesuaikan dengan karakter siswa. Proses ini butuh waktu dan energi ekstra, sementara jam mengajar dan tugas administratif sudah cukup padat. Tidak jarang guru merasa kewalahan karena harus membagi waktu antara mengajar dan menyiapkan materi yang sesuai.

Kebebasan dalam merancang pembelajaran sebenarnya adalah peluang besar agar proses belajar jadi lebih efektif dan menyenangkan. Namun, ketika guru belum mendapatkan dukungan pelatihan yang memadai dan harus mengerjakan semuanya sendiri, semangat itu bisa berubah menjadi beban yang berat. Kondisi ini bisa menghambat kualitas pembelajaran dan membuat guru frustrasi.

Penting bagi pemerintah dan pihak terkait untuk menyadari bahwa perubahan kurikulum bukan hanya soal mengganti dokumen, tapi juga soal bagaimana menyiapkan guru secara matang. Pelatihan yang berkelanjutan dan pendampingan intensif sangat diperlukan agar guru bisa lebih percaya diri dan terampil menjalankan Kurikulum Merdeka.

Selain itu, pengurangan beban administrasi dan penyederhanaan prosedur perencanaan bisa sangat membantu guru fokus pada tugas utama mereka yaitu mengajar dan membimbing siswa. Kurikulum Merdeka harus menjadi solusi, bukan justru menambah masalah. Dibalik belajar merdeka, ada guru yang terjepit realita.

Pada akhirnya, Kurikulum Merdeka adalah peluang untuk membangun sistem pendidikan yang lebih adaptif dan manusiawi. Namun, tanpa perhatian serius terhadap kesiapan guru dan beban kerja mereka, kebebasan belajar yang diusung hanya akan menjadi mimpi yang sulit diwujudkan. Mendengarkan suara guru adalah langkah awal yang wajib dilakukan agar perubahan ini bisa membawa manfaat nyata bagi pendidikan Indonesia.