Konten dari Pengguna

Tren Belanja Online dan FOMO Effect: Cerminan Emosi Konsumen Modern

Muhammad Ardiansyah

Muhammad Ardiansyah

Mahasiswa Program Studi Pendidikan Ekonomi di Universitas Pamulang

·waktu baca 2 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Muhammad Ardiansyah tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Sumber: https://pixabay.com/
zoom-in-whitePerbesar
Sumber: https://pixabay.com/

Kalau kita bicara teori ekonomi, konsumen sering digambarkan sebagai makhluk rasional: membeli barang atau jasa yang memberi manfaat paling besar dengan harga paling efisien. Tapi kalau kita amati di lapangan, cerita tidak selalu seindah itu. Banyak orang justru berbelanja karena dorongan emosional, gengsi, atau sekadar ikut-ikutan tren.

Lihat saja fenomena smartphone baru yang dirilis setiap tahun. Meski ponsel lama masih berfungsi dengan baik, banyak orang tetap rela mengantre demi membawa pulang seri terbaru. Fungsinya mungkin sama, tapi kepuasan yang dicari berbeda—ada unsur status sosial, kepercayaan diri, bahkan kebanggaan karena dianggap "up to date". Dalam teori perilaku konsumen, inilah yang disebut kepuasan subjektif atau utility yang tidak melulu soal fungsi barang.

Hal serupa juga tampak di tren kuliner. Begitu ada kafe viral di media sosial, antrean langsung mengular. Padahal banyak makanan lain dengan rasa yang tidak kalah enak dan harga lebih ramah di kantong. Fenomena ini memperlihatkan bahwa konsumsi bukan lagi sekadar memenuhi kebutuhan, tapi juga mengejar pengalaman, sensasi, dan momen sosial yang bisa dibagikan di media sosial.

Masalah muncul ketika pola belanja seperti ini menggeser prioritas. Tidak sedikit orang yang rela mengurangi belanja kebutuhan pokok demi membeli barang atau pengalaman yang lebih “prestisius”. Akibatnya, perencanaan keuangan bisa berantakan, bahkan berisiko menimbulkan tekanan finansial di kemudian hari.

Dari sisi pelaku usaha, perilaku konsumen yang cenderung emosional jelas menjadi peluang. Strategi pemasaran kini tidak lagi sekadar menonjolkan fungsi barang, tapi juga membangun citra dan gaya hidup. Lewat iklan yang persuasif, kolaborasi dengan influencer, hingga gimmick stok terbatas, konsumen didorong untuk segera membeli tanpa banyak berpikir.

Namun bagi konsumen, jika tidak bijak, pola ini bisa berbalik jadi masalah. Apalagi dengan fasilitas cicilan instan dan paylater yang membuat belanja terasa ringan di awal, tapi berat di belakang. Rasionalitas yang seharusnya jadi dasar pengambilan keputusan akhirnya sering terjebak dalam kepuasan sesaat.

Jadi, apakah konsumen Indonesia masih bisa disebut rasional? Jawabannya: ya, tapi tidak sepenuhnya. Untuk kebutuhan pokok, konsumen biasanya berhitung matang. Tetapi untuk urusan gaya hidup dan tren, keputusan lebih sering dipengaruhi emosi dan faktor sosial. Di situlah teori perilaku konsumen menarik untuk dikaji, karena menunjukkan bahwa manusia tidak hanya berbelanja dengan logika, tetapi juga dengan hati dan keinginan untuk diakui.