News
·
23 Juli 2021 12:59
·
waktu baca 3 menit

Dampak Buruk Media Sosial

Konten ini diproduksi oleh Muhammad Areev
Di zaman yang serba digital saat ini, sulit untuk menemukan orang yang tidak memiliki media sosial terutama Instagram yang paling digandrungi saat ini. Tanggal 06 Oktober 2010 Kevin systrom dan Mike Krieger mulai mengembangkan platform berbagi foto yang bernama Instagram. Tahun ke tahun perkembangan Instagram semakin cepat dengan pengguna yang membeludak. Tahun 2012 Mark Zuckerberg, pendiri Facebook mencoba mengakuisisi Instagram dengan harga sekitar 1 Miliar dolar. Di bawah pimpinan Marc, perkembangan instagram semakin menunjukkan taringnya sebagai media sosial paling banyak digunakan, dengan beberapa perubahan pada fitur edit foto insta story dan lain sebagainya.
ADVERTISEMENT
Seiring perkembangan platform media sosial berbagi foto ini, anak muda menjadi pengguna paling dominan. Maklum, media sosial ini paling digemari oleh anak muda zaman sekarang untuk berbagi kegiatan dan aktivitas mereka kepada sesama temannya.
Dampak Buruk Media Sosial  (9105)
searchPerbesar
Media Sosial. Foto: pixabay.com
Saya termasuk pengguna aktif platform media sosial instagram ini. Kemarin malam saya kaget ketika membaca sebuah artikel yang berjudul “Instagram, Media Sosial Paling Buruk bagi Kesehatan Mental”. Dalam artikel itu disebutkan ada sebuah survei di inggris terhadap 1.500 remaja dan orang dewasa muda di inggris.
Dari 5 platform media sosial yang dimasukkan dalam survei itu, Youtube menjadi platform media sosial paling positif karena mampu menyehatkan dengan memberikan informasi kesehatan tepercaya. Selain itu, Youtube juga dianggap platform media sosial yang mampu untuk mengatasi kesepian, depresi dan kecemasan. Twitter berada di urutan kedua, diikuti oleh Facebook, kemudian Snapchat, dan terakhir Instagram.
ADVERTISEMENT
Selain youtube yang mempunyai dampak positif, hasil penelitian keempat platform media sosial lainnya itu berdampak negatif bagi pengguna terutama menurunnya kualitas tidur, bullying, citra tubuh, dan FOMO (Merasa orang lain lebih senang dan menarik daripada kita). Tidak seperti YouTube, keempat media sosial lainnya terkait dengan meningkatkan depresi dan kecemasan.
Penelitian sebelumnya menyebutkan, anak muda yang menghasilkan waktunya lebih dari dua jam sehari untuk berselancar di media sosial cenderung mengalami tekanan psikologis.
"Sering melihat teman atau orang yang selalu bepergian atau bersenang-senang, bisa membuat anak muda merasa ketinggalan karena orang lain seperti sedang menikmati hidup. Perasaan ini akan membuat mereka selalu membandingkan dan merana," tulis hasil survei itu.
Media sosial juga bisa memberi harapan yang tidak realistik dan menciptakan perasaan ketidakcukupan serta kepercayaan diri rendah.
ADVERTISEMENT
Hal itu bisa menjelaskan mengapa Instagram mendapat nilai terburuk dalam hal citra tubuh dan kecemasan. Salah satu responden menulis, "Instagram dengan mudah membuat gadis dan wanita merasa tubuh mereka kurang ideal sehingga banyak orang mengedit fotonya agar mereka tampak sempurna".
Semakin sering anak muda membuka media sosial, makin besar pula mereka merasa depresi dan cemas.
Wajar saya kaget dengan survei tersebut, dalam sehari jika dikalkulasikan saya menghabiskan lebih kurang 3 jam hanya untuk scrolling di Instagram. Saya mencoba memantaunya di fitur instagram 'aktivitas anda-waktu '.
Saya yakin bukan hanya saya, mereka anak muda yang memiliki smartphone juga begitu. Secara tidak sadar, kita telah menghabiskan banyak waktu hanya untuk melihat hal yang kurang bermanfaat dan sangat berpotensi berdampak pada mental.
ADVERTISEMENT
Namun, sekarang saya sedikit membatasi dengan meng-hide story teman dan mengikuti akun-akun informatif. Terkesan sombong memang, namun kesehatan mental kita lebih penting dari apapun, daripada waktu kita hanya dihabiskan untuk scrolling yang tidak bermanfaat.
Melihat foto mereka yang sedang melakukan perjalanan, foto mereka yang berduaan dengan pasangan, foto mereka dengan segala kemewahannya. Tanpa sadar hal tersebut dapat mempengaruhi kondisi mental dan psikologis, menganggap mereka yang di foto adalah orang yang paling bahagia atau menarik dibandingkan dengan kita sendiri (FOMO). Padahal mereka hanya membagikan momen bahagia saja, sementara dibelakang itu banyak momen yang kurang menyenangkan yang tidak mereka bagikan.
Penting untuk mengingatkan para pemuda, terutama diri sendiri supaya tidak terlalu banyak menghabiskan waktu untuk hal yang kurang bermanfaat dan produktif. Memang, tidak ada yang dapat melarang kita untuk menggunakan media sosial, karena bermedia sosial tanggung jawab pribadi masing-masing. Namun jika penggunaan yang berlebihan dapat mengganggu kondisi psikologis dan mental, alangkah baiknya kita membatasi waktu dalam penggunaan media sosial terutama instagram yang telah terbukti buruk bagi kesehatan mental.
ADVERTISEMENT
Baca Lainnya
Sedang memuat...
S
Sedang memuat...
·
Sedang memuat...
S
Sedang memuat...
·
Sedang memuat...
S
Sedang memuat...
·
Sedang memuat...
S
Sedang memuat...
comment0 01 April 2020
Sedang memuat...
S
Sedang memuat...
comment0 01 April 2020
Sedang memuat...
S
Sedang memuat...
comment0 01 April 2020
Sedang memuat...
S
Sedang memuat...
comment0 01 April 2020
Sedang memuat...
S
Sedang memuat...
comment0 01 April 2020