Indahnya Toleransi Beragama di Aceh Tenggara

An Employee at PLN, Social media activist, Passionate Green Energy & Green Economy
·waktu baca 3 menit
Tulisan dari Muhammad Areev tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan
Sebagai orang yang pernah tinggal di Aceh Tenggara selama 3 tahun, saya amat senang dapat memahami kebudayaan di sana dan dibuat takjub bagaimana mereka menjaga toleransi dalam beragama. Aceh Tenggara merupakan sebuah kabupaten yang berada di provinsi Aceh. Kabupaten Aceh Tenggara berada di atas pegunungan dengan ketinggian di atas 1.000 meter di atas permukaan laut.

Aceh Tenggara hasil dari pemekaran kabupaten Aceh Tengah, awal didirikannya ketika tanggal 6 desember 1957 dibentuknya panitia tuntutan rakyat Alas dan Gayo Lues mengadakan rapat yang dihadiri 60 kepala adat dan suku Alas dan Gayo Lues yang menghasilkan dua pilihan.
1. Ibu kota Aceh Tengah dipindahkan dari Takengon ke Kutacane
2. Jika tidak memungkinkan memindahkan ibukota ke Kutacane,maka kewedanan Alas dan gayo lues di jadikan satu kabupaten yang tidak terlepas dari Provinsi Aceh.
Akhirnya pilihan jatuh kepada poin kedua di mana didirikan Kabupaten baru Aceh Tenggara dengan ibukota Kutacane.
Dari segi kependudukan Aceh Tenggara lebih multikultural dibandingkan dengan kabupaten Aceh lainnya. Sebutlah Banda Aceh kebanyakan dihuni oleh masyarakat suku Aceh murni, kemudian ada Aceh bagian tengah (Aceh Tengah, Bener Meriah, dan Gayo Lues) yang kebanyakan dihuni masyarakat suku Gayo dan Aceh. Namun Aceh Tenggara dihuni lebih dari 3 suku berbeda. Ada suku Alas sebagai penghuni tetap kabupaten Aceh Tenggara, suku Singkil, Aceh, Karo, Batak Toba, Gayo, Jawa, Minangkabau, Mandailing, Nias dan suku Aneuk Jamee.
Hidup dalam kemajemukan tentu sulit untuk mengharapkan tidak terjadinya gesekan-gesekan di tengah masyarakat. Namun, salah satu keunikan dari kabupaten ini adalah hampir sama sekali tidak terdengar gesekan atau kerusuhan di tengah masyarakat yang melibatkan SARA (Suku, Agama, dan Ras). Masyarakat Aceh Tenggara cukup bijak dalam menjaga perdamaian dalam kehidupan yang majemuk.
Banjir bandang 11 April 2017 silam di Aceh Tenggara menjadi saksi bagi saya bagaimana solidaritas masyarakat Aceh Tenggara terhadap sesama masyarakat yang terkena musibah banjir tanpa peduli latar belakang suku, agama dan ras. Mereka bersama membersihkan jalan, rumah, menyediakan makanan untuk korban banjir.
Kabupaten Aceh Tenggara memiliki dua umat beragama yakni islam sebagai mayoritas dan kristen. Adanya dua keyakinan ini tentu saja menghadirkan banyak tempat beribadah kedua agama ini, masjid dan Gereja. Saat hari jumat tiba masyarakat yang beragama islam menunaikan salat jumat dengan khidmat di masjid, mereka yang non muslim turut menghentikan aktivitas mereka, menutup kedai, toko menghormati mereka yang sedang menunaikan salat jumat. Sebaliknya, pada hari minggu ketika umat kristiani mengadakan ibadah mereka dapat melaksanakan ibadah dengan tenang dan nyaman tanpa ada gangguan dari umat islam.
Inilah perbedaan yang kita harapkan. Perbedaan yang dapat menyatukan kita bersama. Bukan perbedaan yang saling alergi antara satu dengan yang lainnya. Sikap toleransi masyarakat Aceh Tenggara ini patut di contoh oleh kabupaten lain di Indonesia terutama di Aceh.
Sebagai penganut agama islam, kita seharusnya tidak perlu alergi dengan mereka yang non islam, begitu juga sebaliknya. Toh, perbedaan itu sebuah keniscayaan. Di akhir tulisan ini saya ingin mengutip perkataan salah satu pakar hadits terbaik yang dimiliki Indonesia Almarhum Prof. Dr. KH. Ali Mustafa Yaqub, MA. Dalam ceramahnya beliau pernah mengungkapkan alasan mengapa Bung karno membuat Masjid Istiqlal berdekatan dengan katedral. Bukan tanpa alasan, melainkan supaya orang tahu indonesia itu negara yang majemuk. Saat orang islam masuk ke dalam masjid kadang mereka akan mendengarkan suara lonceng di katedral begitu juga mereka yang ada di dalam katedral kadang kala akan mendengarkan suara azan. Inilah perbedaan yang harus dimaklumi bersama.
