Seksisme yang Melanggengkan Praktik Patriarki

Mahasiswa Psikologi Universitas Islam Indonesia
·waktu baca 3 menit
Tulisan dari Muhammad Arfa tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Indonesia sebagai sebuah negara dengan latar belakang budaya patriarkal memiliki sejarah panjang dalam menempatkan laki-laki sebagai pemegang kekuasaan utama dalam berbagai struktur di kehidupan, baik dalam ruang domestik maupun publik. Ketimpangan ini tidak semata-mata ditopang oleh aturan-aturan formal, tetapi juga didasari dari perspektif masyarakat terhadap relasi laki-laki dan perempuan. Seksisme menjadi salah satu bentuk cara pandang tersebut, yang nantinya akan menjadi bentuk prasangka dan diskriminasi berbasis jenis kelamin. Seksisme tidak hanya tampil secara kasat mata dalam bentuk kekerasan atau pelabelan negatif terhadap perempuan, namun juga hadir dalam bentuk yang lebih halus, bahkan tampak seperti bentuk perhatian. Dalam kajian psikologi sosial, seksisme dibedakan menjadi dua bentuk: hostile sexism dan benevolent sexism. Keduanya berjalan berdampingan, saling memperkuat, dan menjadi bagian integral dari struktur patriarki.
Hostile sexism secara langsung menganggap remeh perilaku-perilaku perempuan yang dinilai keluar dari pemahaman perilaku tradisonal. Misalnya, perempuan yang memilih karier, bersuara lantang, atau tampil sebagai pemimpin sering kali dilabeli sebagai terlalu ambisius, tidak tahu diri, atau tidak layak dihormati. Di sisi lain, benevolent sexism adalah bentuk seksisme tersirat; memberikan pujian yang terdengar positif namun sesungguhnya membatasi, seperti perempuan perlu dilindungi dan masih banyak lagi.
Dalam masyarakat Indonesia, praktik patriarki mendapatkan ruang hidup yang sangat luas. Di banyak wilayah dan lapisan sosial. Laki-laki diberi peran sebagai pengambil keputusan utama, sedangkan perempuan diarahkan pada peran pengasuhan dan kepatuhan. Konstruksi ini tidak hanya hidup dalam ranah sosial, tetapi juga dilegitimasi oleh kebijakan negara, media, hingga sistem pendidikan. Ketika perempuan dituntut untuk menjadi “lemah lembut”, “tidak mendebat”, dan “tidak kritis”, sesungguhnya nilai-nilai patriarki sedang bekerja dalam bentuk yang paling ideologis. Lebih jauh, eksistensi perempuan di ruang publik sering kali dihadapkan pada pandangan bahwa mereka tidak sepenuhnya berhak atas posisi kekuasaan karena dianggap bertentangan dengan kodratnya.
Terlebih lagi yang membuat praktik patriarki semakin mengakar adalah kenyataan bahwa perempuan sendiri, dalam banyak kasus, ikut melanggengkannya. Melalui proses sosialisasi sejak dini, nilai-nilai patriarki tidak hanya diajarkan oleh laki-laki, tetapi juga oleh perempuan; baik sebagai ibu, guru, maupun tokoh masyarakat. Banyak perempuan yang tanpa sadar mengamini bahwa laki-laki memang seharusnya menjadi pemimpin, bahwa perempuan sebaiknya bersikap patuh, dan bahwa menjadi ibu rumah tangga adalah tujuan tertinggi seorang perempuan. Bahkan, tidak sedikit perempuan yang memandang sinis perempuan lain yang memilih jalur berbeda, seperti memilih untuk tidak menikah atau lebih fokus pada karier. Fenomena ini menunjukkan bagaimana struktur sosial patriarki telah membentuk subjek perempuan menjadi bagian dari mesin ideologis yang menindas dirinya sendiri.
Kesadaran kritis terhadap seksisme akan menjadi langkah awal yang penting dalam upaya membongkar sistem patriarki bahkan sistem-sistem pemerintah yang buruk dan dinilai seksis. Maka dari itu mari kita sejenak berdiskusi dan merencanakan hal apa yang bisa merubah pola pikir masyarakat dari dogma yang sudah mengakar di negeri ini. Tanpa perubahan pola pikir terhadap relasi gender yang setara dan saling menghargai secara manusiawi, karena dalam masyarakat yang setara, relasi antara laki-laki dan perempuan seharusnya tidak dibentuk berdasarkan siapa yang lebih lemah atau lebih kuat, tetapi pada prinsip kemampuan, kesetaraan, pilihan, dan penghargaan terhadap otonomi masing-masing individu.
