Konten dari Pengguna

Qiwamah dalam Keluarga Muslim: Antara Kepemimpinan, Keadilan, dan Kesalingan

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Muhammad arief rahman soleh tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Ilustrasi dibuat oleh pengguna dengan bantuan ai
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi dibuat oleh pengguna dengan bantuan ai

Konsep qiwamah sering jadi bahan perdebatan setiap kali muncul pernyataan “suami adalah pemimpin bagi istri”. Ada yang memahaminya sebagai izin untuk mengatur semua hal dalam rumah tangga, bahkan sampai hal-hal yang sangat pribadi. Ada juga yang menolaknya mentah-mentah karena dianggap tidak sejalan dengan semangat kesetaraan. Di tengah dua kutub ekstrem ini, kita perlu mengulas qiwamah dengan lebih pelan, jernih, dan dekat dengan realitas keluarga Muslim hari ini.

Qiwamah Bukan Lisensi Menjadi Penguasa Rumah Tangga

Dalam banyak tafsir dan kitab fikih, qiwamah dipahami sebagai tanggung jawab kepemimpinan laki-laki dalam keluarga. Artinya, suami memang diberi peran memimpin, tapi kata “memimpin” di sini lebih dekat dengan makna mengurus, melindungi, dan menanggung, bukan sekadar memerintah. Qiwamah muncul bersama beban kewajiban: menafkahi, menjaga, melindungi, dan memastikan keluarga berjalan di atas nilai-nilai Islam.

Kalau dilihat dari sisi bahasa, qawwam itu orang yang “berdiri tegak” mengurus sesuatu secara serius dan berkelanjutan. Bukan hadir sesekali, lalu menghilang ketika ada masalah. Jadi, laki-laki yang malas mencari nafkah, tidak peduli dengan pendidikan anak, dan cuek terhadap kondisi mental istrinya, sebenarnya sedang mengkhianati makna qiwamah, walaupun di mulut ia mengaku “kepala keluarga”. Qiwamah bukan identitas otomatis hanya karena laki-laki; ia harus dibuktikan dengan amanah.

Sebaliknya, qiwamah juga bukan dalil untuk membenarkan sikap otoriter. Kalau keputusan suami selalu harus diikuti meski jelas merugikan, menzalimi, atau bertentangan dengan ajaran agama, itu bukan lagi kepemimpinan, tapi kediktatoran berbaju agama. Dalam Islam, kepemimpinan selalu melekat dengan tanggung jawab dan akan dimintai pertanggungjawaban, bukan sekadar hak untuk didengar dan ditaati.

Di Mana Letak Keadilan dalam Qiwamah?

Pertanyaan besar berikutnya: apakah qiwamah otomatis berarti suami di atas istri dalam segala hal? Di sini penting membedakan antara peran yang berbeda dan nilai kemanusiaan yang setara. Laki-laki dan perempuan sama-sama mulia di hadapan Allah, sama-sama bisa tinggi derajatnya karena takwa, bukan karena jenis kelamin. Perbedaan peran dalam keluarga tidak boleh diartikan bahwa satu pihak lebih berharga dari yang lain.

Keadilan dalam qiwamah berarti setiap anggota keluarga mendapat hak dan menjalankan kewajibannya secara proporsional. Suami memimpin, tapi tidak boleh sewenang-wenang. Istri taat dalam kebaikan, tapi tetap punya ruang untuk menyampaikan pendapat, menolak keputusan yang jelas salah, dan menjaga harga dirinya. Keadilan juga berarti kerja domestik, pengasuhan, dan urusan rumah tangga tidak sepenuhnya dibebankan kepada istri seolah-olah ia “asisten rumah tangga permanen”.

Dalam banyak keluarga modern, istri ikut bekerja dan berkontribusi pada ekonomi rumah tangga. Di titik ini, keadilan menuntut adanya pembicaraan ulang: bagaimana pembagian tugas di rumah, siapa yang mengurus anak, siapa yang bertanggung jawab pada pengambilan keputusan-keputusan penting. Qiwamah tidak otomatis gugur karena istri ikut mencari nafkah, tetapi gaya kepemimpinannya perlu berubah menjadi lebih dialogis, partisipatif, dan sensitif terhadap beban ganda yang dipikul istri.

Qiwamah sebagai Kerja Sama, Bukan Kompetisi

Sering kali, gagasan qiwamah dipahami seolah-olah suami dan istri berada dalam posisi saling berhadapan: kalau suami memimpin, berarti istri harus selalu di belakang. Padahal, gambaran ideal keluarga dalam Islam justru penuh dengan kerja sama dan kesalingan. Ada saling menguatkan, saling menutupi kekurangan, dan saling mengingatkan ketika salah. Kepemimpinan yang sehat justru memfasilitasi semua itu.

Di level praktik, kesalingan bisa terlihat dari hal-hal sederhana. Suami yang tidak gengsi membantu pekerjaan rumah, mengurus anak, atau mencuci piring, bukan berarti kehilangan wibawa qiwamah. Justru sebaliknya, ia sedang menunjukkan bahwa kepemimpinannya tidak hanya hadir di ruang tamu saat ada tamu, tapi juga di dapur dan ruang keluarga ketika istri kelelahan. Istri yang menghargai dan mendukung suami, tidak mengolok-olok di depan anak atau keluarga, juga sedang memperkuat wibawa kepemimpinan yang ia harapkan.

Kesalingan juga muncul dalam pengambilan keputusan. Suami memang punya posisi akhir dalam banyak perkara, tetapi keputusan yang diambil tanpa mendengar istri sering kali berujung konflik berkepanjangan. Musyawarah bukan sekadar formalitas, melainkan cara untuk memastikan bahwa keputusan keluarga bukan suara satu orang, melainkan hasil pertimbangan bersama. Di sini, qiwamah berjalan seiring dengan tasamuh (toleransi), syura (musyawarah), dan rahmah (kasih sayang).

Menafsir Ulang Qiwamah di Zaman Sekarang

Keluarga Muslim hari ini hidup di tengah tantangan baru: tuntutan ekonomi yang berat, paparan media sosial, distraksi gawai, dan nilai-nilai individualisme yang menggerus kebersamaan. Dalam konteks ini, qiwamah perlu dipahami sebagai kerangka tanggung jawab yang hidup dan adaptif, bukan slogan kaku yang hanya diulang tanpa makna praktis.

Di satu sisi, laki-laki perlu menyadari bahwa status “kepala keluarga” bukan hadiah yang bisa dinikmati tanpa usaha. Ia menuntut kedewasaan emosional, kemampuan mengelola emosi, kesiapan mendengar kritik, dan keberanian mengakui kesalahan. Suami yang hanya ingin ditaati tanpa mau belajar dan bertumbuh akan kesulitan mewujudkan qiwamah yang adil.

Di sisi lain, perempuan juga perlu melihat qiwamah bukan sebagai ancaman, tetapi sebagai struktur tanggung jawab yang bisa menjadi pelindung jika diterapkan dengan benar. Tentu, itu membutuhkan pasangan yang amanah. Karena itu, salah satu konsekuensi praktis dari konsep qiwamah adalah pentingnya memilih pasangan yang tidak hanya saleh secara ritual, tetapi juga matang secara karakter.

Akhirnya, qiwamah yang sehat akan terasa bukan dari seberapa sering kata itu dikutip dalam nasihat pranikah, melainkan dari rasa aman, nyaman, dan dihargai yang dirasakan anggota keluarga di dalam rumah. Bila kepemimpinan membuat istri tertekan dan anak takut bersuara, ada yang salah dalam cara qiwamah dipraktikkan. Namun bila qiwamah menghadirkan kejelasan peran, keadilan, dan ruang saling menguatkan, ia menjadi salah satu jalan penting menuju keluarga yang benar-benar sakinah, mawaddah, dan rahmah.