Konten dari Pengguna

Merawat Ekosistem Literasi melalui Kegiatan Poetry Party di Kampus AS

M Arif Rahman Hakim

M Arif Rahman Hakim

Fulbright Visiting Scholar at the Ohio State University- Amerika Serikat, Dosen & Peneliti Pusat Studi ASEAN UIN Fatmawati Sukarno Bengkulu, Scholar in Residence Fellow Faculty of Education-Universitas Islam Internasional Indonesia (UIII)

·waktu baca 3 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari M Arif Rahman Hakim tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Di tengah iklim akademik global yang kerap ditandai oleh target publikasi, kompetisi intelektual, dan ritme kerja yang cepat, ruang-ruang sederhana untuk merawat kemanusiaan dalam pendidikan sering kali terpinggirkan. Namun, pengalaman saya mengikuti sebuah poetry party di Program studi Literacies, Literature, and Learning, College of Education and Human Ecology, the Ohio State University, justru menghadirkan pelajaran penting tentang bagaimana ekosistem literasi dapat dijaga tetap hidup, hangat, dan bermakna.

Merawat Ekosistem Literasi melalui Kegiatan Poetry Party di Kampus AS
zoom-in-whitePerbesar

Kegiatan ini dikemas secara sederhana: ramah tamah, perkenalan antar peserta yang terdiri atas profesor dan mahasiswa pascasarjana, serta menikmati snack dan cokelat hangat. Akan tetapi, di balik kesederhanaannya, poetry party ini memuat praktik literasi yang mendalam. Puisi menjadi medium utama untuk mengekspresikan gagasan, pengalaman, dan refleksi personal dalam suasana yang cair, egaliter, dan humanis.

Sebagai seorang Fulbright Visiting Scholar di College of Education, the Ohio State University, saya memaknai kegiatan ini bukan sekadar agenda sosial, melainkan sebagai praktik nyata bagaimana literasi dipahami sebagai aktivitas sosial dan kultural, bukan semata keterampilan teknis membaca dan menulis.

Literasi sebagai Praktik Sosial

Dalam perspektif New Literacy Studies, literasi dipandang sebagai praktik sosial yang selalu terikat pada konteks, relasi, dan nilai-nilai tertentu (Street, 2003). Poetry party ini mencerminkan pandangan tersebut secara nyata. Puisi tidak diposisikan sebagai teks akademik yang harus dianalisis secara formal, melainkan sebagai praktik literasi yang hidup (lived literacy) yang menghubungkan pengalaman personal dengan komunitas intelektual.

Melalui pembacaan dan diskusi puisi, peserta terlibat dalam proses negosiasi makna, saling mendengarkan, dan membangun pemahaman bersama. Literasi, dalam konteks ini bisa menjadi sarana membangun relasi, empati, dan refleksi kritis.

Community of Practice dalam Ruang Akademik

Kegiatan ini juga dapat dipahami melalui konsep community of practice yang diperkenalkan oleh Lave dan Wenger (1991). Sebuah komunitas praktik ditandai oleh keterlibatan bersama (mutual engagement), tujuan bersama (joint enterprise), dan repertoar praktik yang dibagikan (shared repertoire).

Professor Caroline Clark bersama dengan berbagai sumber literasi dan sastra yang sengaja ia bawa ke kegiatan Poetry Party di College of Education & Human Ecology, Ohio State University, Amerika Serikat (Sumber: Dokumentasi Pribadi)

Poetry party berfungsi sebagai ruang komunitas praktik di mana para faculty members dan mahasiswa pascasarjana berpartisipasi secara setara. Tidak ada hierarki yang kaku antara profesor dan mahasiswa; yang ada adalah keterlibatan kolektif dalam praktik literasi melalui puisi. Relasi antar kolega terasa cair, dialogis, dan saling menguatkan. Inilah bentuk pembelajaran sosial yang sering kali luput dari desain kurikulum formal, namun justru sangat berpengaruh dalam pembentukan identitas akademik.

Humanizing Pedagogy: Pendidikan yang Memanusiakan

Lebih jauh, praktik seperti poetry party mencerminkan prinsip humanizing pedagogy, sebuah pendekatan pendidikan yang menempatkan pengalaman, emosi, dan martabat manusia sebagai pusat pembelajaran (Freire, 1970; Salazar, 2013). Dalam ruang ini, peserta tidak dituntut untuk “menjadi akademisi ideal”, melainkan diundang untuk hadir sebagai manusia seutuhnya dengan cerita, kerentanan, dan imajinasi.

Profesor Adrian Rodgers mengajak saya, para Profesor dan semua peserta Poetry Party yang hadir untuk foto selfie bersama (Dokumentasi Pribadi)

Puisi menjadi medium yang aman untuk pengungkapan diri (self-expression) dan refleksi kolektif. Pendidikan, dengan demikian, tidak hanya mentransmisikan pengetahuan, tetapi juga memelihara hubungan dan rasa memiliki (sense of belonging) dalam komunitas akademik.

Menjaga Ekosistem Literasi agar Tetap Hidup

Meskipun terdengar sederhana, kegiatan seperti ini memiliki makna strategis dalam menjaga ekosistem literasi. Ekosistem literasi tidak tumbuh secara instan atau melalui kebijakan besar semata, melainkan melalui praktik-praktik kecil yang konsisten, bermakna, dan berakar pada relasi manusia.

Para Profesor dari Program Studi Literacies, Literature and Learning, College of Education & Human Ecology, Ohio State University, Amerika Serikat terlihat membaur dan menikmati membaca puisi yang sudah ia siapkan secara bergantian (Sumber: Dokumentasi Pribadi)

Pengalaman ini memberi pelajaran bahwa pelestarian literasi, khususnya literasi sastra dan reflektif memerlukan ruang-ruang informal yang dirawat dengan kesadaran pedagogis. Puisi, dalam hal ini dapat menjadi jembatan antara intelektualitas dan kemanusiaan. Bagi saya, kegiatan poetry party di College of Education & Human Ecology- Ohio State University menegaskan bahwa pendidikan yang bermakna tidak selalu lahir dari forum resmi atau ruang kelas formal. Justru, dalam ruang-ruang sederhana yang hangat dan dialogis, literasi menemukan denyut hidupnya dan pendidikan kembali pada hakikatnya: memanusiakan manusia.