Memaknai Hari Lahan Basah Sedunia

Muhammad Yusuf Awaluddin
Pemerhati Masalah Iklim dan Pengajar di Departemen Kelautan, Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan, Universitas Padjadjaran
Konten dari Pengguna
3 Februari 2024 13:30 WIB
·
waktu baca 5 menit
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-link-circle
more-vertical
Tulisan dari Muhammad Yusuf Awaluddin tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan
Buruh tani menanam padi di area persawahan Tamarunang, Kabupaten Gowa, Sulawesi Selatan, Kamis (16/6/2022). Foto: Arnas Padda/ANTARA FOTO
zoom-in-whitePerbesar
Buruh tani menanam padi di area persawahan Tamarunang, Kabupaten Gowa, Sulawesi Selatan, Kamis (16/6/2022). Foto: Arnas Padda/ANTARA FOTO
ADVERTISEMENT
Masih teringat dalam ingatan saya sebuah momen 2 tahun lalu saat para kepala negara G20 berjalan beriringan memasuki kawasan Taman Hutan Raya, Denpasar Bali. Presiden Joko Widodo berada paling depan diikuti oleh pemimpin negara G20 lainnya. Foto-foto kegiatan tersebut menghiasi media cetak dan media daring baik dalam maupun luar negeri.
ADVERTISEMENT
Para petinggi G20 itu menembus kawasan hutan mangrove berbalut baju putih menikmati terik matahari Bali dan semilir angin pantai serta vegetasi hijau yang memanjakan mata. Momen itu adalah rangkaian kegiatan Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) G20 berupa penanaman mangrove, sebagai bagian dari komitmen terhadap perlindungan lingkungan, termasuk di dalamnya adalah lahan basah.
Presiden Joko Widodo bersama para kepala negara anggota G20 dalam agenda penanaman mangrove di Bali tahun 2022 (Foto: BPMI SETPRES)
Lahan basah, wilayah daratan yang terendam air secara permanen ataupun musiman, memiliki keanekaragaman hayati yang sangat tinggi dah habitat yang juga unik. Lahan basah ini bisa terbentuk secara alami maupun buatan manusia. Mangrove, danau, sungai, lahan gambut, muara, dan delta adalah contoh lahan basah yang terbentuk secara alami. Sedangkan sawah, kolam ikan dan ladang garam adalah buatan manusia.
ADVERTISEMENT
Tentu kita cukup mengenal contoh-contoh tersebut, bukan? Ternyata lahan basah memiliki peran krusial dalam menyediakan air saat musim kering, menampung air saat banjir, menyediakan air untuk pertanian, menyerap karbon dan termasuk area yang paling produktif. Oleh karena itu, upaya perlindungan dan pelestarian lahan basah menjadi agenda penting yang perlu kita lakukan dalam menghadapi perubahan iklim dan demi kelangsungan hidup masa depan kita.
Perserikatan Bangsa Bangsa (PBB) telah menyatakan tanggal 2 Februari sebagai Hari Lahan Basah Sedunia sejak 30 Agustus 2021. Hal yang melatarbelakanginya adalah dari Konvensi Lahan Basah di Ramsar, Iran pada tanggal 2 Februari 1971. Konvensi tersebut lahir karena keresahan warga dunia karena semakin tergerusnya lahan basah yang ada saat itu. Sedangkan Indonesia turut meratifikasi Konvensi Lahan Basah sejak tahun 1991.
ADVERTISEMENT
Perjanjian tersebut tentu bukan hanya pepesan kosong, tetapi penuh dengan makna. Sebuah langkah tepat mengingat sumber daya alam Indonesia yang sangat besar. Untuk kawasan hutan mangrove saja, kita memiliki 3,3 juta hektar hutan, seperti pernyataan Presiden Joko Widodo saat KTT G20 di Bali. Harapannya tentu saja dapat meningkatkan kepedulian terhadap lahan basah sehingga mampu mengembalikan dan memperluas lahan basah yang kita miliki.
Pada tahun ini PBB memiliki tema khusus dalam peringatan tahunan ini, tema kali ini berjudul “Lahan Basah dan Kesejahteraan Manusia”. Tema ini cukup menarik karena mengedepankan aspek keseimbangan antara lingkungan dan kesejahteraan. Selama ini, lahan basah memang memiliki peran bagi kesejahteraan manusia. Nilai ekonomisnya dalam dolar cukup tinggi, mencapai 45-160 kali lebih besar selama setahun daripada hasil dari ekosistem lahan pertanian (Zhang, 2001)
ADVERTISEMENT
Sayangnya, lahan basah mengalami ancaman yang cukup serius. Salah satu contohnya adalah konversi lahan basah menjadi lahan tinggal. Konversi ini terjadi karena tingginya permintaan lahan tinggal dan arus urbanisasi. Lahan basah pun akan semakin berkurang, dan ini berbahaya terutama bagi perubahan iklim yang sedang kita hadapi.
Sebagai contoh, ekosistem mangrove memiliki kemampuan dalam menyerap karbondioksida dari udara dan menyimpanya dalam daun, batang, akar hingga tanah di bawahnya. Kemampuan menyimpan karbon dalam waktu yang lama inilah yang menjadikan mangrove dikenal sebagai ekosistem karbon biru yang punya peran penting bagi perubahan iklim.
Ancaman lainnya yang sering terjadi adalah pencemaran area lahan basah, seperti pencemaran plastik di pesisir, muara, serta area mangrove. Sehingga perlu adanya penyadaran atas tekanan yang cukup tinggi bagi berbagai kawasan lahan basah tersebut.
ADVERTISEMENT
Pelestarian lahan basah ini memang cukup mendesak, dan tidak bisa ditunda-tunda lagi. Sekretaris Jenderal Konvensi Ramsar Dr. Mumba menyuarakan 3 alternatif aksi nyata yang bisa dilakukan terkait tema yang diusung tahun ini. Pertama, kampanye untuk tidak mencemari area lahan basah. Janganlah lagi membuang sampah ke sungai, muara, kawasan pesisir dan mangrove.
Lebih baik buang saja pada tempatnya. Berbagai polutan rumah tangga, limbah kegiatan perikanan, hingga pertanian dan industri harus menjadi perhatian utama. Bila tingkat pencemarannya tinggi, maka kemampuan atau fungsi ekologis dari lahan basah itu pun akan berkurang. Pemerintah sebagai regulator bisa ambil peran dengan menyediakan tempat pembuangan sampah yang representatif dan juga ramah lingkungan.
Kedua, Dr. Mumba menyarankan kita untuk turut terlibat dalam upaya global pelestarian lahan basah yang berkelanjutan. Kita sadar bahwa upaya keberlanjutan itu tidak bisa dilaksanakan sendiri-sendiri, ada geombang besar di dunia ini yang juga turut terlibat dan berpartisipasi dalam penyelamatan dan pelestarian lingkungan hidup. Sebagai contoh, turut mengkampanyekan Hari Lahan Basah Sedunia di sosial media masing-masing, lalu turut memberikan penjelasan arti penting dari lahan basah, atau turut serta dalam organisasi internasional seperti Wetland International atau organisasi lainnya.
ADVERTISEMENT
Ketiga, terlibat dalam skala lokal untuk merestorasi kawasan lahan basah. Keterlibatan kita dalam skala lokal memiliki arti yang sama penting dengan skala global. Pendekatan yang berbasis komunitas lokal memiliki dampak yang cukup baik dalam upaya pelestarian lahan basah.
Program penanaman mangrove bisa dilaksanakan oleh komunitas yang ada di sekitar kita, baik dari lingkungan sekolah, kantor, hingga korporasi. Ambil peran aktif dalam komunitas lokal pelestari danau, pesisir dan lahan basah lainnya akan turut meningkatkan kepedulian dan pelestarian lingkungan basah.
Selain hal tersebut di atas, penulis juga memandang perlunya kolaborasi yang sangat baik para stakeholder dalam upaya pelestarian tersebut. Karena dengan kolaborasi yang baik, maka tujuan pelestarian dapat tercapai dengan baik.
ADVERTISEMENT
Sebagai contoh adalah kolaborasi masyarakat, pemerintah daerah, dan pemerintah pusat dalam pemulihan Daerah Aliran Sungai (DAS) Citarum. Pemerintah Provinsi Jawa Barat mengeklaim telah berhasil meningkatkan tingkat kebersihan di DAS Citarum ini dan menurunkan tingkat pencemaran yang terjadi. Tentu upaya tersebut perlu terus kita dukung sebagai masyarakat sesuai dengan perannya masing-masing.
Peringatan tahunan Hari Lahan Basah Sedunia ini tidak boleh sekadar seremonial rutin saja. Harus lebih dari itu. Pemerintah, sektor swasta dan masyarakat secara umum harus memiliki kepedulian dan pengetahuan yang cukup mengenai lahan basah. Sehingga lahan basah tidak saja penting bagi lingkungan itu sendiri, tetapi juga membawa kesejahteraan yang dirasakan oleh kita semua.