Simu Liu, Teh Boba, dan Perdebatan Cultural Appropriation di Era Globalisasi

Mahasiswa Hubungan Internasional di Universitas Sebelas Maret
·waktu baca 4 menit
Tulisan dari Azfa Fairuz tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Ketika teh boba disederhanakan demi pasar barat, apakah itu inovasi atau penghapusan identitas budaya? Pertanyaan ini memicu perdebatan hangat setelah salah satu aktor Asia berpengaruh di Hollywood angkat bicara.
Pada Oktober 2024, aktor Hollywood Simu Liu, yang dikenal lewat film Marvel dan Barbie, melontarkan tuduhan cultural appropriation terhadap sebuah bisnis FnB. Dalam acara Dragon’s Den di CBC, Liu mengkritik Bobba, brand minuman teh boba yang memperkenalkan versi boba dengan tiga bahan sederhana. Mereka mengklaim pendekatan ini sebagai disrupsi pasar boba tradisional dengan minuman yang lebih sehat dan praktis. Liu, yang tampil sebagai investor, menyuarakan kekhawatiran atas klaim tersebut. Ia mempertanyakan pemahaman tim Bobba terhadap makna budaya boba, dan menekankan pentingnya rasa hormat serta kesadaran terhadap akar budaya Asia (Campaign, 2024). Kejadian ini memicu sebuah perdebatan di internet. Apakah ini bentuk cultural appropriation? Atau justru kegagalan kita membedakan antara ekspresi budaya di era globalisasi dan eksploitasi budaya?
Definisi dan Konteks Cultural Appropriation
Cultural appropriation didefinisikan sebagai tindakan mengambil atau menggunakan elemen-elemen budaya lain-seperti simbol, praktik, atau gaya-yang memiliki nilai budaya, dan biasanya dilakukan oleh seseorang di luar budaya tersebut. Agar suatu tindakan dapat dianggap sebagai apropriasi budaya, biasanya harus ada kontroversi atau perdebatan yang signifikan di sekitar tindakan tersebut, bersama dengan tingkat pengetahuan atau kesadaran tertentu tentang signifikansi budayanya oleh pelaku apropriasi (Lenard & Balint, 2020). Namun, dalam era globalisasi ini, apropriasi dan apresiasi budaya memiliki batas yang kerap kali kabur. Dalam dunia yang dimana pertukaran informasi dapat terjadi dengan cepat dan tanpa penghalang, budaya mengalami pertukaran yang terus menerus, baik secara langsung maupun tidak. Dari sinilah muncul sebuah dilema: apakah setiap adaptasi yang dilakukan oleh orang luar otomatis dikategorikan sebagai apropriasi? Atau justru bentuk dari dinamika pertukaran budaya yang sehat dan tak dapat dihindari? Kasus Simu Liu dan Bobba menyoroti bagaimana sensitivitas budaya bertemu dengan tren global dan pasar kreatif. Menilai apakah ini apropriasi perlu melihat konteks, niat, dampak, dan pelibatan komunitas asal.
Antara Apropriasi, Apresiasi, dan Inovasi Budaya
Kritik Simu Liu terhadap Bobba memunculkan pertanyaan penting: apakah setiap inovasi terhadap budaya harus dianggap sebagai bentuk pelanggaran? Bobba, dalam hal ini, tidak menghapus unsur Asia dari produknya, melainkan mencoba menyederhanakan bahan dan tampilan untuk menjangkau pasar yang lebih luas. Pendekatan ini bisa dibaca sebagai upaya adaptasi, bukan sekadar modifikasi tanpa makna. Dalam konteks globalisasi, budaya memang tidak lagi tinggal diam di tempat asalnya. Ia bergerak, bertransformasi, dan berbaur melalui media, migrasi, dan pasar. Boba, seperti juga sushi, yoga, dan batik, telah menjadi produk global yang mengalami berbagai interpretasi lintas budaya. Dalam proses ini, perubahan bentuk atau penyajian sering kali tak terhindarkan. Menganggap setiap penyederhanaan budaya sebagai cultural appropriation bisa menjadi kontra-produktif. hal tersebut berisiko mengekang kreativitas, membatasi ekspresi lintas budaya, dan menciptakan esensialisme budaya yang kaku. Sebaliknya, pendekatan yang lebih bijak adalah menilai apakah perubahan tersebut dilakukan dengan kesadaran, menghormati nilai asal, dan membuka ruang bagi komunitas asal untuk turut diuntungkan—bukan hanya dijadikan simbol pasif dalam pasar global. Menyederhanakan budaya bukan berarti meniadakan maknanya. Justru menganggap hanya bentuk “tradisional” yang sah bisa menciptakan esensialisme budaya dan menghambat kreativitas di tengah masyarakat global yang semakin saling terhubung.
Dalam era globalisasi, budaya terus bergerak, berbaur, dan berubah bentuk. Tuduhan cultural appropriation penting untuk mencegah eksploitasi, tetapi jika digunakan terlalu longgar, justru bisa menghambat kreativitas dan pertukaran budaya yang sehat. Kasus Simu Liu dan Bobba menunjukkan bahwa tidak semua adaptasi budaya layak dicap sebagai apropriasi. Yang lebih krusial adalah melihat konteks, niat, dampak, serta sejauh mana komunitas budaya asal dilibatkan atau dihargai. Tantangan kita hari ini bukan menjaga budaya tetap kaku dan otentik, melainkan memastikan bahwa dalam setiap inovasi, makna dan penghormatan tetap terjaga.
Referensi
Campaign. (2024, October 16). Chinese-Canadian actor Simu Liu criticises boba brand for appropriating Asian culture. Campaign Asia. https://www.campaignasia.com/article/chinese-canadian-actor-simu-liu-criticises-boba-brand-for-appropriating-asian-cul/498892
Lenard, P. T., & Balint, P. (2020). What Is (the Wrong of) Cultural appropriation? Ethnicities, 20(2), 331–352. https://doi.org/10.1177/1468796819866498
