Masjid Al Faroch Satukan Jamaah Bulak dalam Maulid Akbar Nabi Muhammad SAW
Tulisan dari Muhammad Irfan Aziz tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Lantunan shalawat menggema di Masjid Al Faroch, Jalan Bulak Rukem Timur 2/3, Surabaya, dalam peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW yang digelar Yayasan Al Faroch Surabaya, Sabtu (5/9/2026) malam. Kegiatan bertajuk Maulid Kubra tersebut menjadi ruang kebersamaan bagi masyarakat Bulak. Jamaah dari berbagai kalangan, mulai dari anak-anak, pemuda, hingga orang tua, tampak mengikuti rangkaian acara dengan khidmat.

Sejumlah tamu undangan turut hadir dalam kegiatan tersebut, di antaranya Kepala Kecamatan Bulak, Hudaya, S.STP, serta Kepala Kelurahan Bulak, Anis Pudji Astutik, S.Sos. Kehadiran keduanya menjadi bagian dari dukungan terhadap kegiatan keagamaan dan kebersamaan masyarakat di wilayah Bulak. Rangkaian kegiatan diawali dengan penampilan grup samroh dan pembacaan ayat suci Al-Qur'an oleh Ustaz M. Jailani Abdillah. Jamaah kemudian bersama-sama melantunkan shalawat bersama grup hadrah Syifa’ul Qolby Surabaya sebelum memasuki acara inti.
Puncak kegiatan diisi dengan tausiyah oleh KH. MS. Khudlori, S.Ag., Pengasuh Pondok Pesantren Syifaul Qulub. Dalam tausiyahnya, KH. MS. Khudlori mengajak jamaah untuk meningkatkan kecintaan kepada Rasulullah SAW dan meneladani akhlaknya dalam kehidupan sehari-hari.
“Kita harus meneladani akhlak dan kesabaran dari Rasulullah,” menjadi salah satu pesan utama yang disampaikan kepada jamaah.
Menurutnya, kecintaan kepada Rasulullah tidak cukup hanya diwujudkan melalui peringatan Maulid atau lantunan shalawat, tetapi juga harus tercermin dalam perilaku dan kehidupan sehari-hari. Pesan tersebut sejalan dengan firman Allah SWT dalam Surah Al-Ahzab ayat 21 yang menyebutkan bahwa Rasulullah SAW merupakan suri teladan yang baik bagi orang-orang yang beriman.
Dalam tausiyahnya, KH. MS. Khudlori juga menyinggung tradisi peringatan Maulid Nabi. Ia menyampaikan bahwa peringatan Maulid dalam bentuk tradisi seperti saat ini memang tidak dilaksanakan pada masa Rasulullah SAW. Namun, peringatan tersebut dapat menjadi momentum untuk meningkatkan kecintaan kepada Nabi Muhammad SAW serta mengenang dan meneladani perjuangannya.
Dalam tausiyahnya, KH. MS. Khudlori juga menyinggung kisah Abu Lahab, seorang kafir Quraisy yang dikenal sebagai paman sekaligus penentang Nabi Muhammad SAW. Dalam sejumlah literatur Islam, Abu Lahab dikisahkan memperoleh keringanan azab pada setiap hari Senin, hari yang bertepatan dengan kelahiran Rasulullah SAW. Kisah tersebut dikaitkan dengan kegembiraannya ketika menerima kabar kelahiran Nabi Muhammad SAW hingga membebaskan Tsuwaibah, perempuan yang menyampaikan kabar tersebut dan kemudian turut menyusui Rasulullah SAW.
Kisah Abu Lahab tersebut menjadi salah satu pembahasan sejumlah ulama mengenai ekspresi kegembiraan atas kelahiran Rasulullah SAW. Meski demikian, terdapat perbedaan pandangan di kalangan ulama mengenai penafsiran serta penggunaan kisah tersebut sebagai argumentasi dalam tradisi peringatan Maulid Nabi. Karena itu, pesan utama dalam peringatan Maulid tidak berhenti pada seremonial semata, melainkan bagaimana umat Islam mampu menjadikan Rasulullah sebagai teladan dalam kehidupan.
Kegiatan Maulid Kubra di Masjid Al Faroch juga menjadi momentum untuk mempererat silaturahmi masyarakat. Kehadiran jamaah dari berbagai kalangan menunjukkan bahwa kegiatan keagamaan masih menjadi ruang penting untuk memperkuat kebersamaan warga. Melalui kegiatan tersebut, Yayasan Al Faroch Surabaya berharap kecintaan kepada Nabi Muhammad SAW tidak hanya diwujudkan melalui peringatan tahunan, tetapi juga melalui upaya untuk menerapkan akhlak Rasulullah dalam kehidupan sehari-hari. Maulid Kubra malam itu pun tidak hanya menjadi peringatan kelahiran Nabi Muhammad SAW, tetapi juga menjadi ruang bagi masyarakat Bulak untuk berkumpul, bershalawat, berdoa, dan mempererat persaudaraan.

