Konten dari Pengguna

Sexual Masochism Disorder: Kenikmatan Sebuah Rasa Sakit

Muhammad Azzam Firdaus Tsani

Muhammad Azzam Firdaus Tsani

Mahasiswa Psikologi Universitas Brawijaya

·waktu baca 6 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Muhammad Azzam Firdaus Tsani tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Sumber: Pixabay
zoom-in-whitePerbesar
Sumber: Pixabay

Apa itu masokhisme?

Pernah tidak kamu lihat ada orang yang saat dipukul, bukannya mengeluh sakit, tetapi malah merasa nikmat? Mungkin Kamu telah menyaksikan salah satu fenomena unik nih. Orang yang seperti itu biasa disebut dengan masokhis yang dalam bahasa ilmiah disebut penderita Sexual Masochism Disorder (SMD).

SMD yang biasa dikenal dengan gangguan masokhisme seksual ini merupakan sebuah kelainan dalam merasakan gairah fantasi seksual yang berulang dan intens akibat dipermalukan, dipukul, diikat, dan berbagai aktivitas disiksa lainnya.

Wah, ngeri ya? Tujuannya apa sih kok bisa sampai seperti itu?

Seseorang yang dengan sengaja ingin diperlakukan seperti itu tidak memiliki tujuan fungsional yang konkret selain mendapatkan kenikmatan seksual, lho. Namun, perlu diperhatikan juga nih bahwa risiko penderita masokhisme dapat berujung sampai accidental death saat mempraktikkan asphyxiophilia dan praktik autoerotic lainnya. Asphyxiophilia ini merupakan kelainan seksual yang berhubungan dengan pembatasan pernapasan, sedangkan autoerotic merupakan rangsangan seksual terhadap diri sendiri secara internal. Jadi, bila Kamu menderita gangguan ini, tolong batasi diri ya.

Ternyata, Masokhisme ini berkaitan erat dengan salah satu paraphilia lain nih. Sexual Masochism Disorder dikategorikan dalam subkelompok yang sama dengan Sexual Sadism Disorder (SSD). Apakah SSD itu? Sexual Sadism Disorder atau yang biasa disebut dengan sadisme ini merupakan kepuasan seksual dengan menyakiti orang lain secara fisik. Keduanya masuk dalam preferensi algolagnia, yaitu sebuah kecenderungan seksual yang penderitanya mendapatkan gairah dan kenikmatan seksual dari rasa sakit secara fisik.

Bagaimana caranya mendiagnosis seseorang yang menderita masokhisme?

Kriteria diagnostik SMD diterapkan pada seseorang yang mengaku secara terbuka bahwa Dia menderita masokhisme. Jadi, bukan sembarang orang bisa terdiagnosis SMD. Semisal nih, orang yang dimaksud menyatakan bahwa Dia memiliki kesulitan psychosocial karena preferensi masokhismenya, Dia dapat terdiagnosis dengan gangguan masokhisme seksual. Jika Dia menyatakan tidak ada hambatan seperti kecemasan, obsesi, rasa bersalah, malu, dan tidak terhambat dalam mengejar tujuan pribadi lainnya, Dia dapat dipastikan memiliki minat seksual masokhis, tetapi tidak boleh terdiagnosis dengan gangguan masokhisme seksual, lho teman-teman.

Nah, untuk memahami lebih lanjut mengenai diagnosis SMD, Kita ambil referensi dari buku “The Diagnostic and Statistical Manual of Mental Disorders” (DSM-5). Di buku ini, terdapat 2 kriteria seseorang untuk dapat disebut sebagai penderita masokhisme, yaitu:

  1. Memiliki gairah seksual yang berulang dan intens dari tindakan dipermalukan, dipukuli, diikat, dan dibuat menderita selama minimal 6 bulan. Kurun waktu ini harus dipahami sebagai pedoman konvensional, bukan sebagai tolok ukur absolut. Hal ini ditujukan supaya gangguan tersebut dapat terdiagnosis dalam jangka waktu yang jelas, tetapi dalam waktu yang singkat.

  2. Fantasi, dorongan seksual, dan perilaku seksual yang dialami penderitanya menyebabkan penderitaan yang signifikan secara klinis sehingga mengganggu aktivitasnya dalam kehidupan sehari-hari seperti bekerja, sekolah, bermain, dsb.

Kriteria-kriteria diagnosis tersebut terdapat tambahan kalau muncul gejala lain seperti asphyxiophilia sehingga penanganannya berbeda. Selain itu, ada ketentuan tambahan juga dari sudut pandang pengontrolan lingkungan. Apa saja itu?

  1. Dalam lingkungan yang terkendali: Berlaku bagi seseorang yang tinggal di lingkungan yang membatasi masokhisme. Jadi, penderitanya dapat diawasi dengan baik dari orang sekitar.

  2. Dalam remisi penuh: Tidak ada gangguan dalam kehidupan sehari-hari selama 5 tahun terakhir walaupun berada di lingkungan yang tidak terkendali. Jadi, penderitanya sudah dalam tahap rehabilitasi walaupun lingkungan sosialnya tidak mendukung.

Apa yang menyebabkan masokhisme ini bisa terjadi?

Menurut para ahli psikologi, konten pornografi yang melibatkan aksi dipermalukan, dipukuli, diikat, dan dibuat menderita, mengambil peran signifikan lho dalam hal ini. Ditambah lagi dengan kekerasan seksual yang dialami pada masa anak-anak bisa menjadi latar belakang gangguan paraphilia termasuk masokhisme. Selain itu, ketidaksadaran dalam menemukan fetisisme ini juga terkadang dapat terjadi sehingga seseorang menjadi lebih penasaran untuk mengeksplorasi "apa sih yang membuatku merasa bergairah?".

Apakah kasus penderita masokhisme adalah hal yang jarang?

Prevalensi gangguan masokhisme seksual sampai saati ini masih belum diketahui secara pasti ya. Di Australia, pernah dilakukan penelitian dengan wawancara telepon. Wawancara ini sampai melibatkan lebih dari 19.000 partisipan yang diperkirakan 2,2% pria dan 1,3% wanita yang terlibat dalam sadomasochism dalam 12 bulan terakhir. Persentase yang cukup kecil. Namun, topik ini bersifat privasi dan pribadi sehingga kecil kemungkinan wawancara telepon akan mengungkapkan tingkat prevalensi yang sebenarnya.

Perbandingan metode survei baru-baru ini menemukan bahwa survei internet menunjukkan tingkat pengakuan pengalaman paraphilia yang jauh lebih tinggi daripada survei/wawancara telepon. Namun, tetap saja hal ini tidak dapat mengindikasikan tingkat prevalensi secara tepat.

Apakah biasanya ada penyakit bawaan lain?

Kita perlu memahami terlebih dahulu apa itu diagnosis banding dan diagnosis komorbiditas. Diagnosis banding merupakan pembedaan 2 penyakit atau lebih sehingga menghasilkan gambaran klinis serupa, sedangkan diagnosis komorbiditas adalah diagnosis terhadap penyakit penyerta selain penyakit utamanya. Diagnosis banding untuk gangguan masokhisme seksual, seperti fetis transvestisme, gangguan sadisme seksual, hiperseksual, alkohol, dan gangguan penggunaan zat adiksi, muncul juga sebagai diagnosis komorbiditas. Maka dari itu, Kita perlu berhati-hati dalam mengevaluasi bukti gangguan masokhisme seksual supaya paraphilia lain dapat dideteksi sebagai bagian dari diagnosis banding.

Bagaimana penanganannya secara klinis?

Tidak semua perilaku masokhisme dikategorikan secara klinis ya teman-teman. Perawatannya hanya untuk pasien yang mengalami kesulitan atau disfungsi dan mereka yang berisiko menempatkan diri dalam bahaya. Ada sedikit penelitian yang mendalami pilihan perawatan untuk penderita paraphilia nonkriminal, seperti terapi (analitis, perilaku, dan kognitif) yang dapat dilakukan untuk membantu kesadaran seksualitas pada masa kanak-kanak, rasa bersalah, rasa malu, penghinaan, hukuman, dan rasa sakit.

Kesimpulan

Agak rumit ya? Tetapi setidaknya setelah membaca sampai di sini, Kita dapat menyimpulkan bahwa Sexual Masochism Disorder merupakan sebuah gangguan seksual yang perlu adanya perhatian dalam penanganannya. Sulitnya mengidentifikasi seseorang yang mengalami gangguan ini, menyebabkan Kita perlu berhati-hati saat menemui seseorang yang memiliki gejala-gejala masokhisme. Bila kita mengenal seseorang yang memiliki gejala-gejala masokhisme, Kita sarankan orang tersebut untuk segera melakukan terapi supaya tidak terjadi hal-hal yang tidak diinginkan.

Daftar Pustaka

American Psychiatric Association. (2013). Diagnostic and statistical manual of mental disorders (DSM-5®). American Psychiatric Pub.

Balon, R. (2016). Practical guide to paraphilia and Paraphilic disorders. Springer.

Richters J, Grulich AE, Visser RO, Smith A, Rissel CE. Sex in Australia: autoerotic, esoteric and other sexual practices engaged in by a representative sample of adults. Aust N Z J Public Health. 2003;27(2):180–90.

Joyal, C. C., & Carpentier, J. (2016). The prevalence of Paraphilic interests and behaviors in the general population: A provincial survey. The Journal of Sex Research, 54(2), 161-171. https://doi.org/10.1080/00224499.2016.1139034

McManus, M. A., Hargreaves, P., Rainbow, L., & Alison, L. J. (2013). Paraphilias: Definition, diagnosis and treatment. F1000Prime Reports, 5. https://doi.org/10.12703/p5-36