Konten dari Pengguna

ASN di Usia 40 Tahun, Ketika "Life Begins at Forty" Bertemu Realitas Karier

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Muhammad Bachtiyar tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Gambar dihasilkan oleh AI (Chat GPT)
zoom-in-whitePerbesar
Gambar dihasilkan oleh AI (Chat GPT)

Ada satu titik dalam hidup seorang Aparatur Sipil Negara (ASN) yang jarang dirayakan tapi selalu terasa. Hari ketika usia genap 40 tahun. Tidak ada SK baru, tidak ada seremoni. Tapi banyak ASN diam-diam berhenti sejenak, menatap nomor induk pegawainya, dan bertanya sudah sampai mana perjalanan ini membentuknya?

Schopenhauer pernah menulis, empat puluh tahun pertama kehidupan memberi kita teksnya, tiga puluh tahun berikutnya memberi komentarnya. Jung menegaskannya lebih tajam. Hidup baru benar-benar dimulai di usia empat puluh, karena sebelum itu manusia hanya sedang melakukan riset. Gagasan ini bahkan menjelma buku laris 1932, Life Begins at Forty karya Walter Pitkin lahir dari optimisme bahwa empat puluh bukan senja, melainkan gerbang menuju babak paling matang dalam hidup.

Riset psikologi kepribadian modern menguatkan intuisi ini. Karakter seseorang cenderung mengeras seperti gips sejak usia sekitar tiga puluh, dan perubahannya berjalan pelan hingga benar-benar mengendap di usia empat puluh. Menjadikannya versi dirinya yang paling matang, entah baik, biasa saja, atau kurang baik.

Ketika Usia 40 Melahirkan Versi Terbaik Seseorang

Klaim ini bukan sekadar filsafat Barat. Dalam khazanah keislaman, QS Al-Ahqaf ayat 15 secara khusus menyoroti usia 40 tahun. Digambarkan sebagai titik saat seseorang dianjurkan bersyukur atas nikmat yang diterimanya dan kedua orang tuanya, sembari memohon sisa hidup diisi kebaikan dan keturunan yang saleh.

Ulama tafsir mencatat usia ini sebagai titik ketika akal mencapai kematangan penuh, cara berpikir jernih, dan sikap relatif menetap. Pada umumnya orang tidak banyak berubah lagi setelahnya, sekaligus mulai mengurangi keterlibatan dalam hiruk-pikuk duniawi untuk fokus pada hal yang lebih bermakna.

Ada pula pengamatan bahwa hampir semua nabi diutus setelah mencapai usia ini, meski ada pengecualian seperti Nabi Isa pada usia 30. Pola ini dipahami sebagai isyarat bahwa 40 adalah puncak kesiapan seseorang memikul tanggung jawab besar. Nasihat yang sering dikutip pun senada. Begitu mencapai usia ini, seseorang dianjurkan lebih berhati-hati menjalani sisa hidupnya, karena siapa dirinya sesungguhnya sudah cukup jelas terlihat.

Matematika Sederhana Seorang ASN

Bagi ASN, angka ini punya makna lebih konkret. Rata-rata seseorang diterima menjadi ASN di usia 25–30 tahun. Artinya, di usia 40 ia sudah menjalani 10–15 tahun sebagai abdi negara. Cara ia menyusun laporan, merespons atasan, memandang publik yang dilayaninya, menyikapi tekanan dan godaan birokrasi, semua sudah mengendap menjadi kebiasaan yang sulit diubah.

Di sinilah keresahan yang jarang diucapkan terbuka. Jati diri ASN di usia 40 bukan lagi potensi bebas dibentuk, melainkan hasil dari proses yang sudah berlalu. Proses yang diisi pembelajaran, pendidikan, dan mentor yang baik akan mengendap jadi kematangan kokoh.

Sebaliknya, proses yang hanya diisi rutinitas kosong akan mengendap jadi kekosongan yang sama dan sudah terlanjur nyaman dengannya. Justru perjalanan menuju 40 inilah, bukan angka 40 itu sendiri, yang paling menentukan.

Pertanyaan berikutnya lebih menohok. Merujuk UU ASN Nomor 20 Tahun 2023, batas usia pensiun berjenjang: 58 tahun untuk administrasi/fungsional ahli pertama-muda, 60 tahun untuk pimpinan tinggi/ahli madya, 65 tahun untuk ahli utama, bahkan 70 tahun untuk profesor dan peneliti utama. Artinya, ASN di usia 40 masih punya 18 tahun tersisa di jalur eselon, sekitar 20 tahun di jalur pimpinan tinggi/ahli madya, dan bisa 25–30 tahun di jalur fungsional tertentu.

Sisa waktu itu panjang. Tapi bagaimana jika di usia 40 seorang ASN justru merasa belum mapan. Belum mapan karier, belum mapan finansial, bahkan belum yakin kemampuannya terasah di posisi yang ia duduki? Ini bukan situasi langka. Di sinilah pertanyaan paling jujur muncul. Bertahan karena telanjur di jalur ini, atau mengakui jiwanya mungkin bukan di sini?

Dalam dunia usaha, perpindahan jalur ini punya beberapa contoh yang cukup terkenal. Henry Ford adalah insinyur yang gagal sekali sebelum sukses di usia 39; Donald Fisher pengembang properti yang banting setir total ke ritel di usia 41 dan melahirkan Gap; Sam Walton pemilik toko kecil yang baru membangun Walmart di usia 44; Vera Wang mantan atlet dan jurnalis yang baru masuk dunia mode di usia 40. Pola yang sama selalu muncul. Bukan orang yang tiba-tiba berbakat, melainkan orang yang sudah lama berproses—bahkan sempat gagal atau ditolak—di jalur lain, sebelum menemukan arah yang tepat justru di ambang usia 40.

Bedanya, seorang ASN menanggung pertaruhan lebih berat. Jjaminan pensiun terputus jika keluar sebelum masa kerja tertentu, status sosial yang melekat pada gelar abdi negara, dan belasan tahun stabilitas yang harus dipertimbangkan matang-matang sebelum dilepas. Ini bukan keputusan dorongan sesaat, dan tak ada jawaban tunggal yang benar untuk semua orang.

Namun bertahan di jalur yang salah demi stabilitas semata juga berharga mahal. Bayangkan 16–20 tahun ke depan dijalani dengan jiwa yang tahu ia berada di tempat keliru. Sistem karier ASN sendiri, dengan jenjang kepangkatan yang lebih banyak berjalan di atas rel senioritas ketimbang kapasitas aktual, jarang dirancang untuk menampung pertanyaan semacam ini. Apalagi memfasilitasi seseorang beralih arah.

Sebagai penutup, jika benar hidup "baru dimulai" di usia 40 seperti sudah dibahas di atas, maka pertanyaan yang lebih jujur untuk setiap ASN di persimpangan usia ini bukan lagi "sudah jadi apa saya". Jawabannya sudah tertulis di sepuluh atau lima belas tahun yang telah dilalui.

Pertanyaan yang tersisa justru lebih berat. Dengan versi diri yang sudah terbentuk ini, matang atau belum, sisa 16 hingga 20 tahun masa kerja saya mau dipakai untuk apa? Dan jika jawabannya ternyata bukan di sini, apakah saya cukup berani mengakuinya sebelum waktu itu habis?