Penggunaan Tanda Hubung (-) dan Tanda Pisah (—) dalam bahasa Indonesia

Mahasiswa Pendidikan Guru Sekolah Dasar (PGSD) Universitas Muhammadiyah A. R. Fachruddin
·waktu baca 5 menit
Tulisan dari Muhammad Badur Kencana Kuning tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Dalam penulisan bahasa Indonesia, penggunaan tanda baca yang tepat memiliki peran yang sangat penting karena jika kita menulis kalimat dengan tanda baca yang salah dapat mempengaruhi makna kalimat tersebut secara keseluruhan. Tanda baca dalam bahasa Indonesia sangat beragam, diantaranya yang akan dibahas yaitu tanda hubung (-) dan tanda pisah (—).
Tanda hubung (-) dan tanda pisah (—) merupakan dua jenis tanda baca yang digunakan dalam penulisan bahasa Indonesia. Keduanya memiliki fungsi penggunaan yang berbeda, namun memiliki bentuk yang hampir sama. Oleh karena itu, penggunaannya sering kali masih membingungkan.
Artikel ini akan membahas tentang penggunaan tanda baca hubung (-) dan tanda baca pisah (—) dalam bahasa Indonesia yang tepat sesuai dengan ketentuan-ketentuannya.
Tanda Hubung (-)
Dalam penulisan, tanda hubung dilambangkan dalam bentuk garis horizontal pendek (-). Tanda hubung berupa en dash (-). Berikut beberapa ketentuan penggunaan tanda hubung (-) dalam bahasa Indonesia.
1. Pemenggalan kata
Tanda hubung (-) digunakan untuk menandai bagian kata yang terpenggal atau terpisah oleh pergantian baris.
Contohnya:
• Nelayan pesisir itu berhasil membudidayakan rum-
put laut.
• Ketika sedang menonton sepak bola di televisi, ayah meng-
hampiri dan menyuruhku tidur karena sudah larut malam.
2. Menyambung unsur kata ulang
Tanda hubung (-) digunakan untuk menyambung unsur kata ulang.
Contohnya:
• anak-anak
• mondar-mandir
• berulang-ulang
• kemerah-merahan
• kehijau-hijauan
3. Menyambung penulisan tanggal, bulan, dan tahun
Tanda hubung (-) digunakan untuk menyambung tanggal, bulan, dan tahun.
Contohnya:
• 10-05-2023
• 03-11-2019
4. Mengeja huruf satu per satu
Tanda hubung (-) digunakan untuk menyambung huruf yang telah dieja satu per satu.
Contohnya:
• Jakarta dieja: J-a-k-a-r-t-a
• Dokter dieja: D-o-k-t-e-r
5. Memperjelas hubungan bagian kata atau ungkapan
Tanda hubung (-) digunakan untuk memperjelas hubungan bagian kata.
Contohnya:
• ber-gantung
• ber-evolusi
• se-Jakarta
• ke-tiga tahun
6. Merangkai bahasa Indonesia dengan bahasa lain
Tanda hubung (-) digunakan untuk merangkai unsur bahasa Indonesia dengan unsur bahasa lain, baik bahasa daerah maupun bahasa asing.
Contohnya:
• ber-pariban (dalam bahasa Batak yang artinya bersaudara sepupu)
• me-recall
• di-back up
• men-download
Tanda Pisah (—)
Dalam penulisan, tanda pisah dilambangkan dengan garis horizontal yang lebih panjang daripada tanda hubung. Tanda pisah dapat berupa em dash (—). Berikut beberapa ketentuan penggunaan tanda pisah (—) Dalam bahasa Indonesia.
1. Membatasi penyisipan kata atau kalimat yang memberi keterangan
Tanda pisah (—) dapat digunakan untuk membatasi pengisian kata atau kalimat yang memberi penjelasan di luar bangun utama kalimat.
Contohnya:
• Keberhasilan itu—kita sependapat—dapat dicapai jika kita mau berusaha keras.
• Ulfa terjatuh—saya yakin dia kesakitan—dari sepedanya dan masuk ke got depan rumahku.
2. Menegaskan adanya aposisi atau keterangan yang lain
Tanda pisah (—) dapat digunakan juga untuk menegaskan adanya keterangan aposisi atau keterangan yang lain.
Contohnya:
• Gerakan Pengutamaan Bahasa Indonesia—amanat Sumpah Pemuda—harus terus digelorakan.
• Atlet sekelas M. Zohri—penyabet medali perak di Kejuaraan Atletik Asia—seharusnya mendapat apresiasi yang pantas atas usahanya mengharumkan nama bangsa Indonesia.
3. Menggantikan kata “sampai dengan” atau “sampai ke”
Tanda pisah (—) dapat digunakan antara dua bilangan, tanggal, atau tempat yang berarti “sampai dengan” atau “sampai ke”.
Contohnya:
• Tanggal 15—26 Oktober 2019
• Dari tahun 2023—2025
• Jakarta—Surabaya
• Medan—Lampung
Tanda hubung (-) dan tanda pisah (—) memiliki beberapa perbedaan, perbedaan utamanya adalah fungsi dan penggunaannya dalam penulisan bahasa Indonesia. Tanda hubung (-) biasanya digunakan untuk menyambung atau merangkai unsur kata, contohnya seperti pada kata ulang, serta menandai bagian kata yang terpenggal oleh pergantian baris. Sementara itu, tanda pisah (—) biasanya digunakan untuk memisahkan kata atau kalimat yang bersifat penegasan atau penjelasan tambahan, serta digunakan untuk menandai antara dua bilangan, tanggal, atau tempat.
Kemudian perbedaan yang kedua antara tanda hubung (-) dan tanda pisah (—) adalah bentuknya, yang dimana tanda hubung memiliki garis horizontal yang lebih pendek daripada tanda pisah.
Adapun kesalahan atau masalah yang sering muncul dalam penggunaan tanda hubung (-) dan tanda pisah (—) pada penulisan bahasa Indonesia, diantaranya sebagai berikut:
1. Ibu – ibu sedang mengikuti lomba memasak.
Dalam penulisan kalimat diatas itu salah. Seharusnya, tidak ada penggunaan spasi sebelum dan sesudah tanda hubung sehingga perbaikan kalimatnya menjadi : “Ibu-ibu sedang mengikuti lomba memasak.”
2. Peperangan itu terjadi pada tahun 1928-1930.
Dalam penulisan seperti diatas itu salah. Seharusnya, tanda baca yang digunakan adalah tanda pisah, bukan tanda hubung sehingga perbaikan kalimatnya menjadi : “Peperangan itu terjadi pada tahun 1928—1930.”
Dengan memahami tentang perbedaan dan ketentuan-ketentuan penggunaan antara tanda baca hubung (-) dan tanda baca pisah (—) dengan tepat dalam penulisan bahasa Indonesia akan membantu penulis untuk meningkatkan kualitas penulisannya dan membuat tulisan lebih mudah dipahami.
Daftar Pustaka
Indonesia, T. P. P. B. (2016). Pedoman umum ejaan bahasa Indonesia.
Tim, B. I. P. (2017). Pedoman Umum Ejaan Bahasa Indonesia dan Pembentukan Istilah. Bhuana Ilmu Populer.
Indonesia, T. P. P. B. (2016). Pedoman umum ejaan bahasa Indonesia.
Saputra, R. R. (2020). Bahasa Indonesia. Deepublish.
Sriyanto, S. (2015). Ejaan.
Nurdjan, S. (2014). Dasar-Dasar Memahami Bahasa Indonesia. Read Institute Press.
Sugono, D. (2013). Mahir berbahasa Indonesia dengan benar. Gramedia Pustaka Utama.
Ifnaldi, I. (2021). Bahasa Indonesia untuk Perguruan Tinggi. Andhra Grafika.
Muhammad Badur Kencana Kuning, Mahasiswa Pendidikan Guru Sekolah Dasar (PGSD) UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH A. R. FACRUDDIN
