Tantangan dan Upaya Melestarikan Bahasa Daerah sebagai Warisan Budaya Indonesia

Mahasiswa Pendidikan Guru Sekolah Dasar (PGSD) Universitas Muhammadiyah A. R. Fachruddin
·waktu baca 6 menit
Tulisan dari Muhammad Badur Kencana Kuning tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Bahasa daerah merupakan bahasa yang digunakan dalam suatu daerah di Indonesia sebagai alat dalam berkomunikasi. Bahasa daerah merupakan salah satu unsur penting dalam kekayaan budaya Indonesia yang mencerminkan identitas suatu daerah. Keanekaragaman bahasa di Indonesia tidak hanya menjadi aset budaya, tetapi juga sebagai bagian dari sejarah dan warisan nenek moyang yang harus dijaga.
Menurut Ref. menunjukkan bahwa fungsi dan kedudukan bahasa daerah yaitu:
1. Lambang kebanggaan daerah,
2. Lambang identitas daerah,
3. Alat berkomunikasi didalam keluarga dan masyarakat.
Adapun kedudukan bahasa daerah yaitu sebagai penunjang bahasa nasional, sumber bahan pengembangan bahasa nasional, bahasa pengantar pada tingkat permulaan disekolah dasar di daerah tertentu untuk memperlancar pengajaran bahasa Indonesia dan mata pelajaran lain. Jadi, bahasa-bahasa daerah ini secara sosial politik merupakan bahasa kedua.
Dalam era globalisasi dan digitalisasi, perkembangan teknologi informasi telah memengaruhi berbagai aspek kehidupan. Gempuran bahasa asing yang semakin masif dapat mengancam keberlanjutan bahasa daerah (Ananda, 2023; Yusuf, 2023). Bahasa daerah yang merupakan salah satu wujud kekayaan budaya, kini menghadapi ancaman kepunahan di berbagai belahan dunia (Simanjuntak et al., 2024).
Berdasarkan data dari Badan Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi (Kemendikbud Ristek) Republik Indonesia, jumlah bahasa daerah di Indonesia adalah sekitar 718 bahasa. Menurut data dari Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa (2021), lebih dari 20 bahasa daerah di Indonesia telah punah, sementara sebagian besar lainnya berada dalam kondisi terancam.
Dalam mempertahankan dan menjaga daerah bukanlah hal yang mudah, terutama pada era globalisasi seperti sekarang, dimana teknologi berkembang pesat yang dapat mempengaruhi penggunaan bahasa. Berikut ini ada beberapa tantangan yang dihadapi dalam pelestarian bahasa daerah, yaitu:
1. Dominasi bahasa Indonesia dan bahasa asing
Kedudukan bahasa Indonesia sebagai bahasa negara memiliki fungsi bahasa utama dalam pendidikan, pemerintahan, dan media. Selain itu, bahasa asing seperti bahasa Inggris semakin mendominasi sebagian besar konten digital. Hal ini dapat membuat generasi muda lebih terbiasa dengan bahasa asing dibandingkan bahasa daerahnya.
2. Kurangnya penggunaan dalam kehidupan sehari-hari dan sumber belajar yang menarik
Bahasa daerah sering kali tidak digunakan dalam kehidupan sehari-hari, terutama pada generasi muda, sehingga bahasa daerah menjadi kurang dikenal dan dilestarikan. Kemudian banyak bahasa daerah yang belum memiliki sumber belajar yang menarik, seperti buku pelajaran, kamus digital, dan aplikasi belajar dalam bahasa daerah masih sangat terbatas dibandingkan dengan bahasa Indonesia atau bahasa asing.
3. Adanya tekanan sosial
Beberapa anak enggan menggunakan bahasa daerah karena mereka merasa bahwa bahasa tersebut kurang modern (ketinggalan zaman) atau tidak relevan dengan kehidupan sehari-hari. Tekanan dari teman sebaya juga menjadi faktor yang membuat banyak anak lebih memilih menggunakan bahasa Indonesia atau bahasa asing dalam percakapan mereka.
Adapun strategi yang dapat dilakukan untuk memastikan bahwa bahasa daerah tetap hidup tanpa harus mengurangi bahasa Indonesia sebagai bahasa persatuan. Upaya yang dapat dilakukan adalah sebagai berikut.
1. Penggunaan bahasa daerah dalam percakapan sehari-hari
Lingkungan keluarga di rumah merupakan tempat pertama bagi seorang anak untuk belajar bahasa atau berbicara, sehingga dalam hal ini peran orang tua sangat penting dalam menjaga keberlanjutan bahasa daerahnya. Jika orang tua tidak memperkenalkan atau menggunakan bahasa daerah secara aktif dalam percakapan di rumah, maka anak-anak nantinya akan cenderung tidak terbiasa atau bahkan bisa saja kehilangan kemampuannya untuk memahami dan berbicara dalam bahasa daerah tersebut. Untuk meningkatkan penggunaan bahasa daerah dalam kehidupan di rumah, ada beberapa upaya yang dapat dilakukan, diantaranya:
a. Orang tua setidaknya dapat membiasakan berkomunikasi dalam bahasa daerah dalam kondisi tertentu, seperti pada saat kumpul keluarga.
b. Orang tua dapat menceritakan dongeng atau legenda daerah menggunakan bahasa daerah untuk membantu anak secara tidak langsung dalam memahami bahasa daerah tersebut.
c. Memperkenalkan lagu-lagu dan permainan tradisional yang melibatkan komunikasi lisan dalam bahasa daerah untuk melatih penggunaan bahasa daerah pada anak-anak.
Jika orang tua mulai aktif menggunakan bahasa daerah dalam percakapan sehari-hari, maka anak-anak akan terbiasa dalam berbahasa daerah dan anak-anak tidak akan merasa asing dengan bahasa tersebut.
2. Peran dunia pendidikan dalam melestarikan bahasa daerah
Pendidikan peran penting dalam menjaga eksistensi bahasa daerah, dimana sekolah merupakan tempat anak-anak dan remaja memperoleh berbagai keterampilan, salah satu nya keterampilan dalam berbahasa. Dalam upaya nya, sekolah dapat memperkenalkan program muatan lokal yang mengajarkan siswa untuk menggunakan bahasa daerahnya dalam situasi tertentu, seperti penggunaan bahasa daerah dalam presentasi dan diskusi kelompok.
Selain itu, sekolah juga dapat membuat kegiatan ekstrakurikuler yang membantu siswa memahami bahasa daerah dalam menjaga keberlangsungannya. Sekolah juga dapat mengadakan suatu kegiatan atau perlombaan yang menggunakan bahasa daerah, seperti membaca puisi, mendongeng, dan berpidato dalam bahasa daerah.
3. Pemanfaatan teknologi digital untuk menarik minat generasi muda
Pemanfaatan teknologi digital adalah upaya untuk menggunakan teknologi digital sebagai alat untuk melestarikan bahasa daerah. Teknologi digital dapat membantu meningkatkan kesadaran dan kebanggaan masyarakat terhadap bahasa daerahnya, serta memperluas aksesibilitas dan ketersediaan sumber daya bahasa daerah.
Olaare (2024) menjelaskan bahwa pemanfaatan teknologi digital dapat meningkatkan aksesibilitas sumber daya bahasa dan menjadikannya lebih menarik bagi pengguna. Dalam konteks pelestarian bahasa, pemanfaatan media sosial, aplikasi edukasi, dan platform video dapat digunakan untuk menyebarkan konten-konten dalam bahasa daerah. Misalnya membuat vlog, podcast, dan animasi yang menggunakan bahasa daerah dengan gaya yang menarik untuk generasi muda.
Penggunaan teknologi diyakini dapat menjangkau generasi muda yang cenderung lebih akrab dengan teknologi, sehingga bahasa daerah tetap dapat diperkenalkan dan digunakan secara luas. Literasi digital ini mencakup keterampilan teknis dan kemampuan berpikir kritis untuk menggunakan berbagai platform digital secara efektif dalam pembelajaran dan pelestarian bahasa (Alom & Vijaykumar, 2024).
Dengan strategi yang tepat, diharapkan generasi muda tetap merasa bangga menggunakan bahasa daerahnya tanpa harus mengesampingkan peran bahasa Indonesia sebagai bahasa persatuan sehingga bahasa daerah dapat tetap hidup dan berkembang.
Daftar Pustaka
Indonesia, T. P. P. B. (2016). Pedoman umum ejaan bahasa Indonesia.
Tim, B. I. P. (2017). Pedoman Umum Ejaan Bahasa Indonesia dan Pembentukan Istilah. Bhuana Ilmu Populer.
Pamungkas, S. (2024). Bahasa Indonesia dalam berbagai perspektif. Penerbit Andi.
Abdin, N. (2021). Upaya Masyarakat dan Pemerintah dalam Mencegah Kepunahan Bahasa Daerah untuk Menghadapi Tantangan Revolusi Industri di Era 4.0. Akademika Jurnal, 18(2), 59-65.
Ningsih, G. W., Sinaga, S., & Surip, M. (2025). Menjaga Keseimbangan: Pelestarian Bahasa Daerah dalam Dinamika Bahasa Indonesia di Era Modern. Journal of Multidisciplinary Inquiry in Science, Technology and Educational Research, 2(2), 3518-3525.
Ibrahim, I., Syah, W., & Firmansah, M. (2024). Pelestarian Bahasa Daerah Berbasis Literasi Digital Bagi Masyarakat Desa. Amal Ilmiah: Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat, 6(1), 116-124.
Silalahi, M. D. (2025). TANTANGAN DAN STRATEGI PELESTARIAN BAHASA INDONESIA DALAM ERA DIGITAL. JOURNAL OF SCIENCE AND SOCIAL RESEARCH, 8(1), 1082-1089.
Dewi, N. L. P. P. (2022). Eksistensi Bahasa Bali di Era Industri 4.0: Merubah Tantangan Menjadi Peluang. Kalangwan Jurnal Pendidikan Agama, Bahasa dan Sastra, 12(2), 46-58.
Muhammad Badur Kencana Kuning, Mahasiswa Pendidikan Guru Sekolah Dasar (PGSD) UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH A. R. FACHRUDDIN
