Jerman Berubah, Indonesia Berbenah dalam Transisi Energi

Project Manager Energy System, M.Sc. Graduate TU Berlin, more then 5 Years Experience in PV Systems
·waktu baca 6 menit
Tulisan dari Muhammad Bagus Dwi Saputra tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Jerman tengah meninjau ulang kebijakan yang selama ini mendukung pertumbuhan energi terbarukan, sementara Indonesia merencanakan perluasan energi bersih dalam skala besar. Perbedaan pendekatan kedua negara menunjukkan tantangan yang sama, yaitu mengubah kebijakan menjadi hasil nyata.
Energi kini bukan lagi sekadar persoalan ekonomi. Energi berkaitan erat dengan keamanan nasional, stabilitas politik, dan masa depan perekonomian global. Invasi Rusia ke Ukraina dan terganggunya pasokan gas Rusia menunjukkan betapa rentannya suatu negara ketika sistem energinya terlalu bergantung pada sumber dari luar negeri. Jerman, yang sebelumnya sangat bergantung pada gas Rusia, menghadapi krisis energi dengan lonjakan harga dan kekhawatiran terhadap keberlanjutan pasokan.
Krisis tersebut memberikan pelajaran penting. Ketahanan energi bukan hanya tentang memastikan listrik tersedia hari ini, tetapi juga tentang kemampuan suatu negara untuk memproduksi, memperoleh, dan membayar energi pada masa mendatang.
Dalam konteks ini, energi terbarukan semakin penting. Namun, Jerman dan Indonesia mengambil pendekatan yang berbeda. Jerman sedang mempersiapkan perubahan terhadap kebijakan yang membantu mendorong pertumbuhan energi terbarukan, sedangkan Indonesia merencanakan peningkatan kapasitas pembangkit energi terbarukan dan penyimpanan energi. Keduanya menghadapi pertanyaan mendasar: bagaimana membangun sistem energi yang lebih bersih, terjangkau, dan andal?
Jerman: Mengubah Sistem yang Berhasil Mendorong Energi Terbarukan
Jerman memperkenalkan Undang-Undang Sumber Energi Terbarukan, atau Erneuerbare-Energien-Gesetz (EEG), pada tahun 2000. Pada tahap awal, kebijakan ini memberikan kepastian pembayaran bagi listrik dari sumber energi terbarukan yang memenuhi ketentuan dan disalurkan ke jaringan listrik. Kepastian pendapatan tersebut membantu investor memperkirakan pengembalian investasi dan mendorong pembangunan pembangkit listrik tenaga angin dan surya.
Hasilnya cukup signifikan. Menurut Badan Lingkungan Jerman (UBA), porsi energi terbarukan dalam konsumsi listrik bruto negara tersebut meningkat dari sekitar 6,3 persen pada tahun 2000 menjadi 37,8 persen pada 2018 dan 55,1 persen pada 2025. Jerman bahkan telah melampaui target sebelumnya, yaitu mencapai 35 persen listrik dari energi terbarukan pada 2020.
Keberhasilan ini tentu tidak hanya disebabkan oleh EEG. Penurunan biaya teknologi, inovasi, investasi swasta, dan kebijakan pemerintah lainnya turut berperan. Meski demikian, EEG membantu menciptakan kondisi yang memungkinkan energi terbarukan berkembang menjadi bagian penting dari sistem kelistrikan Jerman.
Kini, pemerintah ingin mengubah kerangka kebijakan tersebut.
Rancangan reformasi EEG 2027 disetujui oleh kabinet federal pada Juli 2026. Tujuannya adalah membuat dukungan bagi energi terbarukan lebih berorientasi pada mekanisme pasar, lebih efisien dari segi biaya, dan lebih responsif terhadap kondisi jaringan listrik. Rancangan tersebut dibahas dalam pembacaan pertama di Bundestag pada 24 September 2026 dan masih berada dalam proses legislasi per 20 Oktober 2026.
Perubahan yang diusulkan mencakup peralihan dari skema pembayaran tetap untuk instalasi baru tertentu, peningkatan peran penjualan listrik di pasar, serta aturan baru yang dapat memengaruhi pendapatan ketika harga listrik tinggi atau ketika pembangkit harus membatasi produksi akibat keterbatasan jaringan.
Pemerintah berpendapat bahwa pengembangan energi terbarukan perlu diselaraskan dengan kebutuhan listrik dan kapasitas jaringan. Namun, sejumlah organisasi energi terbarukan dan komunitas energi mengkhawatirkan bahwa perubahan tersebut dapat mengurangi kepastian investasi, terutama bagi produsen skala kecil.
Kekhawatiran ini bukan tanpa alasan. Proyek energi terbarukan membutuhkan modal besar pada tahap awal. Jika pendapatan masa depan semakin sulit diprediksi, pemberi pinjaman dapat meminta tingkat pengembalian lebih tinggi, biaya pendanaan meningkat, dan sebagian proyek berpotensi tertunda. Dampak akhirnya akan bergantung pada isi undang-undang yang disahkan dan karakteristik masing-masing proyek.
Di sinilah reformasi EEG berkaitan langsung dengan keamanan energi Jerman. Krisis akibat ketergantungan pada gas Rusia menunjukkan pentingnya diversifikasi sumber energi. Listrik yang dihasilkan dari sumber terbarukan domestik dapat mengurangi paparan terhadap gejolak pasokan bahan bakar impor. Namun, manfaat tersebut hanya dapat tercapai jika pembangunan pembangkit, jaringan listrik, penyimpanan energi, dan investasi berjalan beriringan.
Jerman kini menghadapi dilema. Sistem yang lebih berorientasi pada pasar mungkin meningkatkan efisiensi, tetapi ketidakpastian yang berlebihan juga dapat memperlambat investasi yang dibutuhkan untuk memperkuat ketahanan energi.
Indonesia: Ambisi Besar, Tantangan Pelaksanaan
Indonesia mengambil pendekatan berbeda melalui Rencana Usaha Penyediaan Tenaga Listrik (RUPTL) 2025 hingga 2034. Rencana yang diumumkan oleh Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral pada Mei 2025 ini menetapkan arah pengembangan sektor ketenagalistrikan untuk satu dekade mendatang.
Salah satu target utamanya adalah sekitar 76 persen dari tambahan kapasitas pembangkit dan penyimpanan energi yang direncanakan berasal dari energi terbarukan dan penyimpanan energi. Angka ini merujuk pada tambahan kapasitas yang direncanakan, bukan berarti energi terbarukan akan memasok 76 persen dari seluruh konsumsi listrik Indonesia.
Target tersebut menunjukkan ambisi untuk memperluas pemanfaatan energi bersih sekaligus memperkuat sistem kelistrikan guna mendukung pembangunan ekonomi. Namun, menambah kapasitas pembangkit saja tidak cukup. Infrastruktur jaringan dan penyimpanan energi juga diperlukan agar listrik dari sumber yang produksinya berubah-ubah, seperti matahari dan angin, dapat dimanfaatkan secara andal.
Tantangan terbesar Indonesia adalah mengubah rencana menjadi proyek nyata. Hal ini membutuhkan proyek yang layak secara finansial, investasi yang memadai, pembangunan jaringan transmisi, proses perizinan dan pengadaan yang efektif, serta kepastian akses ke jaringan listrik.
Kondisi geografis Indonesia menambah kompleksitas persoalan. Sumber energi dan kebutuhan listrik tersebar di berbagai pulau, sehingga lokasi proyek dan kemampuan menyalurkan listrik menjadi sangat penting. Pembangkit tenaga surya yang dirancang dengan baik pun tidak akan memberikan manfaat maksimal jika tidak memiliki akses jaringan atau listriknya tidak dapat disalurkan kepada konsumen ketika dibutuhkan.
Karena itu, RUPTL sebaiknya dipandang sebagai langkah awal yang penting, bukan jaminan bahwa seluruh target akan tercapai. Keberhasilannya bergantung pada konsistensi pelaksanaan, tersedianya peluang investasi yang menarik, serta koordinasi antara pemerintah, PLN, pengembang, dan pemangku kepentingan lainnya.
Bagi Indonesia, peluangnya bukan hanya meningkatkan kapasitas energi terbarukan, tetapi juga memperkuat ketahanan energi melalui pemanfaatan sumber daya domestik. Namun, manfaat tersebut baru akan terasa ketika rencana berubah menjadi pembangkit yang beroperasi dan memasok listrik secara andal dengan biaya yang terjangkau.
Dua Negara, Satu Tantangan Utama
Jerman dan Indonesia berada pada tahap transisi energi yang berbeda. Jerman sedang meninjau ulang cara mendukung sektor energi terbarukan yang sudah berkembang, sementara Indonesia merencanakan ekspansi besar sembari membangun infrastruktur dan kondisi investasi yang diperlukan.
Instrumen kebijakan mereka berbeda, tetapi tantangan dasarnya sama. Jerman perlu memastikan bahwa reformasi tidak melemahkan investasi yang dibutuhkan untuk melanjutkan transisi energi. Indonesia perlu memastikan bahwa target ambisiusnya benar-benar diwujudkan menjadi proyek yang dibiayai, dibangun, dan terhubung ke jaringan listrik.
Kedua negara juga menunjukkan bahwa ketahanan energi dan keberlanjutan lingkungan tidak dapat dipisahkan. Target energi terbarukan yang tinggi tidak otomatis menghasilkan sistem energi yang lebih aman atau emisi yang lebih rendah. Tanpa infrastruktur yang memadai, aturan investasi yang jelas, dan pelaksanaan yang efektif, target tersebut bisa sulit diwujudkan.
Transisi energi bukan sekadar perlombaan untuk mengumumkan target terbesar atau memperkenalkan kebijakan terbaru. Ini adalah upaya jangka panjang untuk membangun sistem kelistrikan yang mampu menghadapi guncangan eksternal, mendukung pertumbuhan ekonomi, dan mengurangi dampak lingkungan.
Pemerintah dapat menentukan arah, tetapi dunia usaha, investor, insinyur, masyarakat, dan konsumen listrik juga memengaruhi hasilnya melalui keputusan sehari-hari.
Ketika Jerman mengubah aturan energi terbarukannya dan Indonesia berupaya mewujudkan ambisinya, apa yang dapat Anda lakukan melalui pekerjaan, investasi, atau pilihan energi sehari-hari untuk membantu membangun masa depan energi yang lebih aman dan berkelanjutan?
