Konten dari Pengguna

Rapor Pancasila Pelajar Dapat A tapi Medsos Hobi Doxing: Ada Apa dengan Gen Z?

oleh : Muhammad bintang akbar zaelani

ilustrasi gen z (sumber : gemini ai )
zoom-in-whitePerbesar
ilustrasi gen z (sumber : gemini ai )

Pernahkah Anda memperhatikan kolom komentar di media sosial saat ada isu yang sedang viral? Isinya sering kali mengerikan: caci maki, pelabelan buruk, hingga tindakan menyebarkan data pribadi (doxing) demi menjatuhkan orang lain.

Ironisnya, jika kita mengintip profil akun-akun yang berkomentar kasar tersebut, tidak sedikit yang mencantumkan status sebagai pelajar atau mahasiswa dari institusi pendidikan ternama.

Di sinilah letak paradoks terbesar generasi digital native kita hari ini. Di atas kertas, dalam dunia pendidikan formal, pemahaman terhadap ideologi negara tampak sangat aman. Data dari Litbang Kompas bahkan sempat mencatat mayoritas pelajar SMA berhasil meraih nilai "A" untuk mata pelajaran Pendidikan Pancasila.

Namun, di balik angka gemilang di lembar rapor tersebut, survei yang sama menyimpan fakta yang bikin mengelus dada: hampir separuh dari mereka mengaku pernah menyebarkan informasi di ruang digital tanpa melakukan verifikasi terlebih dahulu.

Kita sedang menghadapi fenomena pelik: pintar secara teori, namun kering dalam praktik. Pancasila lancar dihafal di luar kepala demi lulus ujian, tetapi mendadak amnesia ketika jempol sudah menyentuh layar ponsel.

Polusi Digital dan Hilangnya Kompas Moral

Dunia digital hari ini bukan lagi sekadar alat komunikasi, mirisnya sudah menjadi ruang hidup kedua. Generasi muda menghabiskan waktu berjam-jam setiap harinya untuk berselancar di internet. Sayangnya, ekosistem digital kita sedang tidak baik-baik saja.

Polusi informasi berupa hoaks, ujaran kebencian (hate speech), dan konten radikalisme bertebaran secara masif. Lebih ngeri lagi, algoritma media sosial zaman sekarang dirancang untuk menciptakan echo chamber—sebuah ruang gema yang membuat kita hanya berkumpul dengan orang-orang yang sepemikiran, lalu memandang kelompok yang berbeda sebagai musuh yang sah untuk diserang.

Ketika semua orang bebas bersuara tanpa etika, teknologi yang sejatinya diciptakan untuk memajukan peradaban justru berbalik menjadi mesin pemecah belah. Tanpa integritas yang kuat, kecakapan digital yang tinggi dari anak muda kita justru bisa berubah menjadi senjata sosial yang berbahaya. Kita kekurangan filter moral, bukan kekurangan kuota internet.

Membawa Pancasila Keluar dari Papan Tulis

Mengapa hal ini bisa terjadi? Jawabannya ada pada cara kita mengajarkan nilai kebangsaan itu sendiri. Selama ini, Pendidikan Pancasila sering kali terjebak dalam pendekatan yang kuno, teoretis, dan monoton. Murid dipaksa menghafal butir-butir sila, namun jarang diajak berdiskusi tentang bagaimana mengaplikasikannya dalam kehidupan siber mereka sehari-hari.

Sudah saatnya kita mengubah strategi. Pelajaran Pancasila tidak boleh lagi berhenti di papan tulis atau lembar jawaban ujian. Ia harus bertransformasi menjadi sebuah panduan bertahan hidup (survival guide) di tengah liarnya dunia internet.

Nilai-nilai luhur Pancasila harus dikontekstualisasikan langsung dengan realitas digital anak muda saat ini:

  • Sila Kedua (Kemanusiaan yang Adil dan Beradab): Harus diterjemahkan menjadi gerakan stop cyberbullying, stop doxing, dan stop meninggalkan komentar jahat di akun orang lain. Menghargai manusia berarti juga menghargai martabat mereka di dunia maya.

  • Sila Ketiga (Persatuan Indonesia): Diwujudkan dengan menjadi penangkal hoaks. Sebelum menekan tombol share pada berita yang belum jelas kebenarannya, anak muda harus sadar bahwa jempol mereka punya andil dalam menjaga atau merusak persatuan bangsa.

  • Sila Keempat (Kerakyatan yang Dipimpin oleh Hikmat Kebijaksanaan...): Menjadi fondasi etika berdiskusi di kolom komentar. Perbedaan pendapat di media sosial tidak harus diselesaikan dengan saling blokir atau caci maki, melainkan dengan kepala dingin dan argumen yang sehat.

Pembelajaran di kelas pun harus bergeser dari sekadar ceramah satu arah menjadi proyek kolaboratif yang interaktif. Alih-alih menyuruh siswa merangkum buku yang tebal, guru bisa menantang mereka untuk membuat konten video pendek tentang indahnya toleransi, kampanye literasi digital di TikTok, atau membuat infografis anti-hoaks di Instagram.

Dengan begitu, siswa tidak lagi menjadi objek pasif, melainkan agen aktif pembawa nilai perdamaian di linimasa mereka sendiri.

Tugas Bersama Khas Indonesia

Tentu saja, beban ini tidak bisa sepenuhnya ditumpukan pada pundak guru di sekolah saja. Mengubah perilaku digital generasi muda membutuhkan kerja sama lintas sektor: mulai dari pemerintah, akademisi, komunitas masyarakat, media massa, hingga penyedia platform digital itu sendiri.

Keluarga di rumah wajib menjadi benteng pertama. Orang tua perlu memberikan contoh nyata bagaimana menyikapi perbedaan dan bersikap bijak dalam menggunakan gawai. Sementara itu, platform media sosial juga harus ikut bertanggung jawab dalam menekan penyebaran konten-konten negatif yang merusak hubungan sosial antarwarga.

Pancasila bukanlah pusaka kuno yang kaku dan anti-kemajuan. Sebaliknya, ia adalah ideologi terbuka yang sangat fleksibel dan adaptif terhadap perkembangan zaman. Ia adalah sistem imun yang menjaga bangsa ini tetap utuh, baik di dunia nyata maupun di dunia maya.

Generasi muda Indonesia tidak perlu memilih antara menjadi anak muda yang global dan modern, atau menjadi orang kaku demi dicap Pancasilais. Mereka bisa dan harus menjadi keduanya: warga global yang melek teknologi, namun tetap berakar kuat pada identitas dan kompas moral bangsanya sendiri. Membuka diri pada dunia luar, tanpa pernah kehilangan arah pulang.

Daftar Pustaka

Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT). (2025). Laporan tahunan paparan konten radikalisme di media sosial. BNPT Press.

Kementerian Komunikasi dan Informatika RI. (2024). Laporan penanganan konten negatif dan hoaks semester I 2024. Kominfo.

Noe, W. (2025). Literasi digital dan pendidikan karakter di era disrupsi. Prosiding Seminar Nasional PPKn Universitas Khairun, 45-58.

Sari, P. K., & Rahayu, S. (2025). Pengaruh media flashcard terhadap hasil belajar pendidikan Pancasila pada siswa sekolah dasar. Indo-MathEdu Intellectuals Journal, 6(6), 112-125.

Utami, D., & Prasetyo, A. (2024). Pengaruh pendidikan karakter Pancasila terhadap karakter kebhinekaan global pada mahasiswa FKIP. Universitas Sriwijaya Press.