Airlangga Soroti Pasir Silika-Baja RI Kena Tarif Impor di Banyak Negara

Menko Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto menyoroti semakin banyak negara maju yang mengenakan tarif impor terhadap komoditas pasir silika hingga baja dari Indonesia.
Airlangga mengatakan, indeks ketahanan energi Indonesia terus meningkat menjadi 7,13. Pemerintah membidik berbagai proyek energi baru terbarukan (EBT) di dalam negeri, seperti PLTS 100 GW dan hilirisasi mineral.
Menurutnya, sumber daya Indonesia terutama sektor mineral seperti nikel, timah, bauksit, tembaga, emas, dan batu bara sangat penting untuk dikembangkan apalagi jika ditopang oleh energi yang bersih dan andal dengan harga yang terjangkau.
"Ekosistem ini membuat Indonesia menjadi pemain strategis di transisi energi global, baik negara-negara EU, Amerika Serikat, Kanada, seluruhnya menginginkan kerja sama di bidang critical mineral dengan Indonesia," jelas Airlangga saat Investor Trust Seminar Nasional Green Economy 2045, Selasa (29/9).
Airlangga menuturkan bahwa Asia Tenggara, terutama Indonesia, menjadi alternatif pasokan mineral kritis global selain China. Dia menilai momentum ini perlu dimanfaatkan sesegera mungkin.
Salah satunya bahan baku penting untuk transisi energi adalah pasir silika, yang sangat penting untuk pembuatan solar panel. Kendati demikian, ekspor pasir silika Indonesia dikenakan tarif tinggi oleh AS hingga 110 persen.
"Ini bisa mendorong kita menjadi tuan rumah untuk solar panel. Hari ini untuk membangun solar panel Indonesia setara dengan 10-11 GW per tahun kapasitas. Namun karena ekspornya meningkat ke Amerika Serikat, maka dikenakan bea masuk 110 persen," ungkap AIrlangga.
Dengan kenaikan ekspor pasir silika tersebut, lanjut dia, AS melihat Indonesia memiliki peran yang sangat kuat dalam rantai pasok energi global. Oleh karena itu, negeri Paman Sam itu menekan Indonesia dengan tarif tinggi.
Sama halnya dengan komoditas baja, Airlangga menilai tarif impor tinggi dikenakan tidak hanya oleh AS, melainkan negara maju lain seperti Uni Eropa, hingga Inggris mencapai 50 persen.
"Kita juga punya kekuatan besar di stainless steel, Amerika mengenakan bea masuk 50 persen, Eropa 50 persen, Inggris enggak mau kalah 50 persen juga. Jadi kalau kita mempunyai kemampuan kuat, pasti negara lain akan khawatir," tegas Airlangga.
Airlangga menilai, jika negara adidaya tersebut mengenakan tarif yang sama terhadap eksportir baja lain, maka produk Indonesia tidak akan kalah saing. Berbeda kondisinya jika hanya Indonesia yang terkena tarif tinggi.
"Dengan bea masuk 50 persen pun kita masih bisa ekspor, baik itu ke Amerika maupun ke Eropa. Asal saya bilang level playing field. Kalau satu negara 50 persen, sedunia kena 50 persen kita masih tetap bisa bersaing. Yang kita enggak bisa bersaing kalau kita kena 50 persen sendirian, nah itu sulit untuk bersaing," tuturnya.
