Kumparan Logo

Bahlil Sebut Rencana Larang Ekspor Gas untuk Bangun Industri Petrokimia

kumparanBISNISverified-green

·waktu baca 3 menit

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Menteri Koordinator Bidang Hilirisasi dan Transisi Energi sekaligus Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia memberikan keterangan kepada media di Kementerian ESDM, Jakarta, Jumat (16/10/2026). Foto: Muhammad Adimaja/ANTARA FOTO
zoom-in-whitePerbesar
Menteri Koordinator Bidang Hilirisasi dan Transisi Energi sekaligus Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia memberikan keterangan kepada media di Kementerian ESDM, Jakarta, Jumat (16/10/2026). Foto: Muhammad Adimaja/ANTARA FOTO

Menko Bidang Hilirisasi dan Transisi Energi, Bahlil Lahadalia, mengungkapkan rencana optimalisasi produksi gas bumi untuk kebutuhan dalam negeri demi pengembangan industri petrokimia.

Bahlil mengungkapkan larangan ekspor gas bumi akan berlaku untuk negara mana pun. Dia menegaskan tidak akan masalah jika negara yang bersangkutan melakukan hal yang sama dengan Indonesia.

"Pemerintah dalam membuat keputusan, setiap langkah sudah memikirkan semuanya, yang jelas bahwa kita menghargai semua hubungan dengan siapa saja, tapi juga asas penghargaan harus sama juga. Ya terserah mereka lah, emang gua pikirin," tegasnya saat ditemui di kantor Kementerian ESDM, Jumat (23/10).

Selama ini, porsi konsumsi dalam negeri mencapai 70 persen dari total produksi gas bumi, sementara sisanya 30 persen untuk diekspor. Ke depannya, porsi ini akan dievaluasi ulang.

Hal ini terutama untuk memenuhi kebutuhan industri petrokimia. Menurut Bahlil, industri ini mengandalkan gas bumi sebagai bahan baku, sehingga keandalan pasokan menjadi sangat krusial.

"Nah ke depan saya akan mencoba untuk melakukan excercise ulang agar mengoptimalkan untuk konsumsi dalam negeri, termasuk dalamnya bahan baku karena ke depan kita akan mendorongkan industri hilirisasi di petrochemical, bahan bakunya adalah gas," jelas Bahlil.

Sebelumnya, Bahlil membuka opsi untuk menyetop atau tidak memperpanjang ekspor gas ke negara tetangga. Hal ini dilakukan karena ia ingin memenuhi terlebih dahulu kebutuhan dalam negeri.

“Jadi kalau negara-negara lain mau pandangan lain untuk kita, hati-hati. Saya juga mungkin memikirkan untuk gas saya tidak perpanjang untuk ekspor ke negara tetangga. Karena kan harus survival kan, harus memenuhi dulu kebutuhan dalam negeri ya. Gitu ya,” kata Bahlil di Istana Merdeka dikutip Kamis (22/10).

video story embed

Di sisi lain, Bahlil bakal mengkaji ulang seluruh kontrak ekspor gas bumi ke negara-negara yang dinilai tidak kooperatif. Langkah tegas ini diambil demi mengutamakan ketahanan energi serta kebutuhan pasokan dalam negeri.

Bahlil memproyeksikan total produksi gas nasional pada periode 2028-2029 dapat menembus 3.000 MMSCFD, dengan produksi kondensat mencapai sekitar 130.000 barel per hari.

"Saya akan mengevaluasi kontrak gas dengan negara-negara yang tidak kooperatif dan tidak saling menghargai," kata Bahlil saat meresmikan pengaliran gas JNE #6 dan Lapangan MAHA di Kalimantan Timur, Kamis, (22/10).

Bahlil menekankan, dirinya tidak ragu untuk menghentikan total pengiriman gas ke negara-negara yang dipandang memandang sebelah mata kedaulatan Indonesia.

Sebaliknya, bagi negara yang menjalin hubungan diplomatik berbasis rasa hormat dan kesetaraan, pemerintah siap membuka kerja sama baru meskipun belum memiliki kontrak sebelumnya.

"Saya tidak segan mempertimbangkan untuk tidak mengekspor gas ke negara yang tidak menghargai Indonesia. Namun bagi negara yang saling menghormati, sekalipun belum punya kontrak, kita akan alokasikan pasokan. Ini asas kesetaraan," tegasnya.