Kumparan Logo

FAO Proyeksi Pasar Gula Dunia Surplus pada 2026

kumparanBISNISverified-green

·waktu baca 3 menit

google
Tambah ke Prefensi Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Ilustrasi gula pasir. Foto: ANTARA FOTO/Fauzan
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi gula pasir. Foto: ANTARA FOTO/Fauzan

Organisasi Pangan dan Pertanian Perserikatan Bangsa-Bangsa (Food and Agriculture Organization/FAO) memperkirakan pasar gula internasional akan berbalik mengalami surplus produksi pada musim 2025/2026 (Oktober-September), seiring pemulihan produksi global dan pertumbuhan konsumsi yang relatif terbatas.

Dalam laporan Food Outlook Biannual Report on Global Food Markets edisi Juni 2026, FAO memproyeksi produksi gula dunia mencapai 183,2 juta ton atau meningkat 3,5 persen dibandingkan musim sebelumnya yang mengalami penurunan.

“Pasar gula internasional diperkirakan akan beralih menuju kondisi surplus produksi pada musim 2025/2026 (Oktober/September), mencerminkan pemulihan produksi global dan hanya pertumbuhan konsumsi yang moderat,” tulis dokumen FAO, dikutip Minggu (21/6).

Kenaikan produksi terutama didorong oleh peningkatan output di sejumlah negara produsen utama di Asia. Di India, produksi gula diperkirakan pulih meskipun curah hujan berlebihan mempengaruhi produktivitas tebu di sejumlah wilayah penghasil utama. Kondisi itu membuat proyeksi produksi lebih rendah dibanding perkiraan sebelumnya.

Sementara Thailand diperkirakan mencatat lonjakan produksi yang kuat berkat kondisi cuaca yang lebih mendukung. Produksi gula juga diperkirakan meningkat di China dan Pakistan.

Sebaliknya, Brasil diproyeksikan mengalami penurunan produksi gula untuk musim kedua berturut-turut. Penurunan tersebut terutama disebabkan oleh berkurangnya porsi tebu yang dialokasikan untuk produksi gula karena meningkatnya permintaan etanol.

Di Uni Eropa, produksi gula juga diperkirakan menurun akibat berkurangnya luas area tanam bit gula. Di sisi permintaan, konsumsi gula dunia pada musim 2025/2026 diperkirakan tumbuh 0,9 persen dibanding musim sebelumnya. Angka tersebut lebih rendah dari perkiraan sebelumnya.

“Perlambatan terutama mencerminkan melemahnya aktivitas ekonomi global yang diperkirakan akan menekan permintaan dari sektor minuman dan industri pengolahan makanan,” lanjut dokumen FAO.

Meski demikian, konsumsi gula global diperkirakan tetap meningkat, terutama didorong oleh pertumbuhan permintaan di kawasan Afrika dan Asia.

instagram embed

FAO juga memperkirakan perdagangan gula dunia pada musim 2025/2026 mencapai 64,1 juta ton atau meningkat 0,6 persen dibandingkan musim sebelumnya.

Peningkatan ketersediaan ekspor dari Thailand diperkirakan bakal lebih dari cukup untuk menutupi penurunan ekspor dari Uni Eropa. Sementara itu, ekspor gula Brasil diproyeksikan relatif stabil dan pengiriman dari India diperkirakan hanya meningkat secara terbatas.

Dari sisi impor, pertumbuhan perdagangan gula global akan didorong oleh meningkatnya pembelian dari China, pulihnya impor Uni Eropa, serta permintaan yang tetap kuat dari negara-negara Afrika.

Namun FAO mencatat konflik yang terjadi di kawasan Timur Tengah pada 2026 telah mengganggu arus perdagangan gula regional melalui Selat Hormuz. Gangguan turut mempengaruhi pengiriman gula menuju dan dari pusat-pusat pemurnian gula di kawasan Teluk, sehingga menambah tantangan bagi rantai pasok komoditas tersebut di tengah proses pemulihan pasar global.