Harga Diesel AS Tembus Rp 115.915/Galon, Rekor Tertinggi Sejak 2022

Harga diesel di Amerika Serikat (AS) menembus level USD 6,50 per galon atau sekitar Rp 115.915 (kurs Rp 17.833) untuk pertama kalinya. Kenaikan harga bahan bakar tersebut terjadi di tengah terganggunya pasokan global akibat perang AS-Iran dan pembatasan jalur perdagangan minyak.
Data American Automobile Association (AAA) menunjukkan harga rata-rata diesel secara nasional mencapai USD 6,505 per galon atau sekitar Rp 116.004. Harga tersebut melonjak lebih dari USD 0,87 atau sekitar Rp 15.625 sepanjang September.
Mengutip Bloomberg, kenaikan harga juga terjadi hampir setiap hari dan telah melewati rekor yang tercatat pada 2022.
Pasokan diesel global ikut tertekan akibat perang AS-Iran. Pengiriman melalui Selat Hormuz, salah satu jalur penting perdagangan minyak dunia, masih terbatas. Pengiriman minyak mentah dari kawasan tersebut juga belum sepenuhnya kembali ke level sebelum perang.
Kondisi itu membuat produksi bahan bakar di sejumlah kilang dunia ikut terhambat. Tekanan pasokan semakin besar setelah Rusia melarang sebagian besar ekspor diesel dan berpotensi memperpanjang pembatasan tersebut hingga Oktober.
Di saat yang sama, serangan drone Ukraina masih menyasar kilang minyak Rusia. Pada akhir pekan lalu, Moscow Oil Refinery menjadi salah satu target serangan yang disebut sebagai bagian dari serangan udara terbesar dalam satu malam sepanjang tahun ini.
Kenaikan harga diesel tidak hanya berdampak pada pengemudi kendaraan diesel. Bahan bakar tersebut banyak digunakan untuk truk, peralatan pertanian, generator listrik, kapal, kereta api, hingga sistem pemanas rumah.
Artinya, lonjakan harga diesel berpotensi meningkatkan biaya di berbagai sektor perekonomian AS.
Rekor harga diesel juga terjadi menjelang pemilu paruh waktu AS. Kondisi tersebut berpotensi menjadi tekanan politik bagi Partai Republik yang dipimpin Presiden Donald Trump, terutama di negara bagian pertanian seperti Iowa dan wilayah yang banyak menggunakan minyak untuk pemanas rumah seperti Maine.
Meski demikian, harga diesel saat ini masih memiliki satu sisi positif. Jika telah disesuaikan dengan inflasi, harga diesel masih berada di bawah level tertingginya pada 2022, menurut Institute for Progress, lembaga pemikir yang berbasis di Washington.
Lonjakan harga di tingkat konsumen juga memunculkan spekulasi mengenai kemungkinan pemerintahan Trump membatasi ekspor bahan bakar untuk menjaga pasokan domestik.
Namun, Menteri Dalam Negeri AS Doug Burgum, yang memimpin National Energy Dominance Council milik Trump, mengatakan larangan ekspor tidak akan menurunkan harga.
Sementara itu, inflasi AS yang masih tinggi menjadi salah satu faktor yang mendorong Federal Reserve menaikkan suku bunga sebesar 0,25 poin persentase pada pekan lalu. Kenaikan tersebut menjadi yang pertama sejak 2023.
Presiden Federal Reserve Bank of Minneapolis Neel Kashkari mengatakan inflasi masih terlalu tinggi. Tekanan inflasi juga dinilai semakin meluas di luar dampak kenaikan harga minyak.
Goldman Sachs Group Inc. dalam catatan terbarunya memperkirakan harga diesel masih berpotensi naik karena pasokan global yang terbatas.
Bank investasi tersebut juga menilai bensin saat ini mungkin menawarkan peluang yang lebih besar bagi investor untuk mengambil posisi di pasar.
