Kumparan Logo

RI Mau Ubah Batu Bara Jadi BBM, Nilai Keekonomian Dinilai Masih Jadi Persoalan

kumparanBISNISverified-green

·waktu baca 3 menit

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Sejumlah kapal tongkang bermuatan batu bara melintas perairan Sungai Mahakam di Samarinda, Kalimantan Timur, Rabu (6/11/2024). Foto: M Risyal Hidayat/ANTARA FOTO
zoom-in-whitePerbesar
Sejumlah kapal tongkang bermuatan batu bara melintas perairan Sungai Mahakam di Samarinda, Kalimantan Timur, Rabu (6/11/2024). Foto: M Risyal Hidayat/ANTARA FOTO

Indonesia berencana mengolah batu bara menjadi BBM untuk menekan impor. Meski demikian, harga BBM yang dihasilkan dari batu bara dinilai akan lebih mahal.

Maka dari itu, Direktur Eksekutif Pusat Studi Hukum Energi dan Pertambangan (PUSHEP) Bisman Bhaktiar melihat jika rencana tersebut diimplementasi, hal yang akan menjadi masalah pertama dan harus diatasi adalah nilai keekonomian.

“Kalau soal keekonomian memang yang jadi masalah utama, karena CTL (crude to liquid) itu membutuhkan modal dan investasi yang sangat besar, serta biaya produksinya juga tinggi. Harga per liternya bisa lebih mahal dari BBM minyak bumi, apalagi jika harga crude oil rendah maka pasti akan lebih mahal harga BBM CTL,” kata Bisman kepada kumparan, Senin (28/9).

Meski demikian, persoalan tersebut menurutnya masih bisa diatasi dengan beberapa cara seperti subsidi dan kompensasi secara bertahap, blending dengan BBM, sampai pemberian investasi dan ToT agar biaya produksi CTL bisa turun.

Adapun untuk tingkat posibilitas CTL dikembangkan di Indonesia, ia menilai potensinya sangat tinggi. Di samping itu, teknologi untuk membuat CTL juga bukanlah hal baru karena sudah diterapkan di Afrika Selatan dan China.

Meski demikian, untuk mengembangkan CTL memang masih diperlukan teknologi dari negara-negara yang sudah mengimplementasikan CTL sebelumnya.

“Indonesia kan memiliki SDA batu bara kalori rendah yang besar jadi sangat mungkin mengembangkan ini. Ya tentu perlu teknologi antara lain fasilitas gasifikasi, sintesis, upgrading, serta teknologi yang sesuai dengan karakter batu bara Indonesia. Kalau ToT atau mitra bisa berasal dari China atau Afrika Selatan,” ujarnya.

Turut merespons, Direktur Eksekutif IESR, Fabby Tumiwa menjelaskan bahwa memang sebenarnya mengubah batu bara menjadi BBM teknologinya saat ini sudah komersial. Dengan begitu, pemerintah tinggal memilih saja mana teknologi yang akan digunakan.

Secara teknis, terdapat beberapa teknologi yang bisa dipakai yakni Coal Liquefaction (DCL), Fischer Tropsch (FT), atau Coal to Gasoline. Namun, teknologi yang sudah diadopsi oleh China dan Afrika Selatan adalah FT.

Sedangkan untuk keekonomian, hal itu sangat bergantung pada berapa harga batu bara muda yang menjadi bahan baku untuk dicairkan menjadi BBM dan teknologi yang dipakai.

“Apakah menggunakan teknologi Carbon Capture and Storage (CCS) atau tidak. Untuk teknologi DCL di China tanpa CCS, harga produk coal to liquid (CTL) sekitar USD 89-141 per barrel,” ujarnya.

Untuk Indonesia, Fabby juga membuat simulasi bahwa produk BBM berbahan batu bara layak di jual jika harga minyak dunia sudah menembus USD 100 sampai 115 barel per barrel.

“Dalam konteks Indonesia, dengan menggunakan teknologi CCS, untuk penggunaan teknologi FT, pada harga batubara USD 22-29 per ton, dengan CCS untuk kapasitas pabrik 50 ribu barrel per hari, harga BBM di pabrik USD 91 - 125 per barrel. Jadi produk batubara menjadi BBM layak apabila harga minyak dunia berada di USD 100-115 per barrel sehingga setara dengan impor BBM,” kata Fabby.