Konten dari Pengguna

Ternyata Dokter Bisa Juga Main Teater

Muhammad Darisman

Muhammad Darismanverified-green

Asisten Redaktur kumparanBisnis. Menulis dan editing konten isu ekonomi dan bisnis. Membuat konten Multichannel.

clock
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Muhammad Darisman tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Bimanesh Sutarjo (Foto: Chandra Dyah A/kumparan)
zoom-in-whitePerbesar
Bimanesh Sutarjo (Foto: Chandra Dyah A/kumparan)

Semakin hari, perkembangan kasus korupsi e-KTP jadi semakin seksi saja. Setelah melalui serentetan drama nan begitu menguras emosi (sebelas duabelas lah sama Drama Korea), sekarang mulai terkuak fakta bahwa banyak 'aktor hebat' yang terlibat.

Eits, ini secara subjektifku saja sebenarnya memberi gelar aktor hebat. Soalnya aktor di balik layar "Demi Kemewahan" (judul drama Pak Setnov dalam imajinasiku) ini mengalahkan aktor-aktor teater yang sebelum mereka berperan, harus mendalami segala bentuk materi keaktoran dengan segala penghayatannya.

Justru mereka memiliki latar belakang profesi yang jauh dari dunia seni peran. Mulai dari wartawan, pengacara, hingga dokter, ternyata jago juga aktingnya.

Meskipun begitu, soal penghayatan mereka tidak kalah dari aktor. Bahkan bisa dikatakan lebihlah menurutku yang juga bertahun-tahun mencoba teater, walaupun jarang jadi aktor.

Persiapan mereka menjelang pertunjukan itu sangat singkat sekali waktunya. Jadi sudah pasti mereka tidak punya banyak waktu untuk latihan dulu. Ini nih yang bikin mereka jadi lebih hebat, meskipun kejar tayang, tetap mereka membuktikan totalitasnya.

Kalau anak teater menyebut ini sebagai jurus improvisasi pemain serta chemistry yang luar biasa juga dari semua aktornya. Bayangkan saja, mereka hanya butuh waktu kurang dari sehari sejak Pak Setnov diburu KPK. Alhasil, mereka sampai menyiapkan ruang VIP di rumah sakit, peristiwa kecelakaan, sampai luka sebesar bakpao.

Aksi Bakpao di KPK (Foto: Fanny Kusumawardhani/kumparan)
zoom-in-whitePerbesar
Aksi Bakpao di KPK (Foto: Fanny Kusumawardhani/kumparan)

Sekali lagi ini hanya sekadar menyampaikan kekagumanku, selaku orang yang coba-coba main teater tapi gagal dan malah jadi penata artistik panggung terus.

Jujur saja pasti irilah ya liat kerja sama yang alot dan totalitas mereka. Sayangnya, waktu itu pemilihan propertinya salah. Coba kalau kecelakaannya bukan sama tiang listrik, pasti tidak menimbulkan kecurigaan dan berjalan mulus (naluri penata artistikku mendadak muncul). Masa iya nabrak tiang listrik bisa separah itu?

Barangkali, kesalahan memilih properti ini juga yang akhirnya sampai membawa wartawan, pengacara elegan, sampai dokter, mesti mendapat status tersangka dari KPK. Sayang sekali, ini drama sad ending sepertinya.

Ya, di luar soal kegagalan mereka itu. Tulisanku ini tetap merupakan bentuk kekagumanku atas kelihaian peran mereka. Profesi ketiganya yang menuntut mereka harus menjunjung tinggi etika, kode etik, profesionalisme, idealisme, serta bergerak demi kemanusiaan, tidak menjadi penghalang untuk menyalurkan kemampuan bermain teater (kalau orang dulu taunya berpura-pura/ bersandiwara).

Lah, kok bisa ya mereka senatural itu? Pertanyaan itu yang langsung menghantuiku. Memang benar di dunia seni peran diri kita yang sebenarnya harus dilupakan demi memulai sandiwara. Jadi, jika menggunakan hukum aktor, ya sah-sah saja sumpah profesi dikesampingkan; demi mencapai kesempurnaan kemewahan itu (judul drama tadi).

Berkat mereka juga, aku baru sadar alasan kegagalanku dulu jadi aktor untuk naskah drama "Operasi" karya Putu Wijaya yang menuntut untuk berperan jadi dokter. Ternyata syarat-syarat untuk menjadi dokter bertentangan dengan karakterku sebelumnya yang suka berpura-pura.

Pada akhirnya, aku hanya ingin mengatakan, "Pak, aku ngefans banget sama aktingnya!"