Titiek Soeharto Minta Stok Beras Kelamaan di Gudang Tak Dijadikan Bansos Pangan
·waktu baca 2 menit

Ketua Komisi IV DPR RI, Siti Hediati Hariyadi (Titiek Soeharto), menyoroti adanya beras yang terlalu lama tersimpan di dalam gudang sehingga kualitasnya menurun. Ia meminta agar beras tersebut tak dijadikan bantuan pangan.
Titiek mengungkap ada 1,3 juta ton beras dari total stok sekitar 5 juta ton, yang sudah berusia 1,5 tahun.
“Jadi, tolong diperhatiin lagi stoknya supaya berputarnya lebih cepat lagi. Bantuan-bantuan kalau emang jangan sampai ada lagi nih, kalau saya minta supaya yang di atas satu tahun, satu setengah tahun itu dijadiin buat pakan aja lah Pak. Jangan jangan buat bantuan pangan lagi,” kata Titiek kepada Mentan Amran Sulaiman dalam rapat kerja Kementan dengan Komisi IV DPR RI di Gedung Parlemen, Jakarta pada Rabu (10/6).
Merespons itu, Amran juga sudah melakukan koordinasi langsung dengan Direktur Utama Bulog, Ahmad Rizal Ramdhani.
“Kami sudah panggil Dirutnya kemarin dan tadi pagi, baru tiba dari Cina. Saya katakan Pak Dirut, ini pasti ditanya besok. Ini jangan Bapak yang berbuat masalahnya ke saya. Oh siap Pak Menteri (kata Rizal ke Amran), rincikan saya berapa yang rusak, you harus terbuka,” ujar Amran.
Amran menjelaskan, saat ini memang dari 5.305.594 ton stok beras, sekitar 1,76 persen atau 93.488 ton di antaranya memang mengalami penurunan mutu. Namun, dari jumlah tersebut sebagian besar masih bisa diolah.
Sementara untuk beras turun mutu yang sudah tak bisa diolah kembali, Amran menjelaskan nantinya beras turun mutu itu bisa diolah menjadi tepung.
“Masih bisa diolah, diperbaiki 93.488 ton. Ini masih bisa diperbaiki sebagian besar. Atau tapi kalau tidak, mungkin 10 persen, katakanlah 9.000 ton itu menjadi tepung. Dan harganya masih bagus,” kata Amran.
