Wall Street Menguat, Nasdaq Cetak Rekor Ditopang Nvidia dan Microsoft

Bursa saham Amerika Serikat (AS) atau Wall Street ditutup menguat pada Senin (5/10) dengan Nasdaq mencatat penutupan pada level tertinggi sepanjang masa. Penguatan ini ditopang oleh saham Nvidia dan Microsoft.
Investor juga mencermati penurunan harga minyak serta menantikan laporan kinerja kuartalan perusahaan.
Mengutip Reuters, indeks S&P 500 naik 0,66 persen dan berakhir di level 7.773,95. Nasdaq menguat 1,05 persen menjadi 27.477,31, sedangkan Dow Jones Industrial Average naik 0,18 persen ke level 51.267,90.
Kenaikan Nasdaq pada Senin (5/10) menjadi penguatan tajam untuk hari kedua berturut-turut setelah data ketenagakerjaan yang lebih lemah dari perkiraan pada Jumat (2/10) meredam ekspektasi kenaikan suku bunga Federal Reserve (The Fed)dalam pertemuan kebijakan bulan ini.
S&P 500 juga menguat dan berada sekitar 0,3 persen di bawah rekor penutupan yang dicapai pada 13 Agustus.
Saham Nvidia, perusahaan raksasa di bidang kecerdasan buatan (AI), naik 2,1 persen dan turut mencatat rekor penutupan. Kenaikan tersebut membawa kapitalisasi pasar Nvidia menjadi USD 5,76 triliun. Microsoft menguat 1,5 persen, sementara saham Meta Platforms dan Tesla masing-masing naik sekitar 2 persen.
Di sisi lain, harga minyak turun setelah ekspor minyak mentah dari Timur Tengah meningkat dan negara-negara anggota Group of Seven (G7) berkomitmen untuk meningkatkan pasokan.
“Dengan kalender data ekonomi yang sepi dan laporan kinerja perusahaan baru akan keluar sekitar satu minggu lagi, investor benar-benar mencari hal positif untuk dijadikan pegangan, dan jelas mereka melihat harga energi yang lebih rendah,” kata chief market strategist di B. Riley Wealth, Art. Hoganz
Bank Mulai Rilis Kinerja Kuartal III
Musim laporan kinerja kuartal III pun akan dimulai pekan depan dengan laporan dari sejumlah bank besar AS.
Analis rata-rata memperkirakan laba perusahaan-perusahaan yang tergabung dalam S&P 500 melonjak lebih dari 30 persen secara tahunan. Kenaikan ini terutama didorong oleh saham-saham yang berkaitan dengan AI, berdasarkan data LSEG.
Setelah data ketenagakerjaan yang dirilis Jumat (2/10) menunjukkan pertumbuhan lapangan kerja AS melambat lebih dari perkiraan pada September, pelaku pasar kini melihat peluang kenaikan suku bunga dalam pertemuan The Fed Oktober hanya sebesar 24 persen. Angka itu turun dari 70 persen sepekan sebelumnya, berdasarkan CME FedWatch Tool.
Saham PTC melonjak 33 persen setelah Schneider Electric asal Prancis menyepakati akuisisi perusahaan perangkat lunak tersebut senilai USD 22,6 miliar secara tunai.
Sebanyak 10 dari 11 indeks sektor dalam S&P 500 menguat. Sektor material memimpin kenaikan dengan 1,22 persen, diikuti sektor jasa komunikasi yang naik 1,14 persen.
Optimisme terhadap kinerja perusahaan yang kuat juga telah membantu saham-saham AS mengungguli pasar global dalam enam bulan terakhir. Hal itu terjadi meski imbal hasil Treasury AS meningkat dan harga minyak naik akibat perang AS dengan Iran.
Saham RXO melonjak lebih dari 22 persen setelah perusahaan logistik C.H. Robinson Worldwide menyepakati pembelian perusahaan broker transportasi tersebut melalui transaksi tunai dan saham senilai USD 5,8 miliar. Saham C.H. Robinson turun hampir 11 persen.
Saham Cerebras Systems naik 9 persen setelah CEO OpenAI Sam Altman menyebut perusahaan pembuat chip tersebut sebagai “mitra dekat” dan mengatakan kedua perusahaan memiliki keterlibatan yang mendalam dalam mendorong batas-batas kecepatan.
Saham yang menguat di S&P 500 lebih banyak dibandingkan saham yang turun dengan rasio 1,7 banding 1.
S&P 500 mencatat 13 saham yang mencapai level tertinggi baru dan 20 saham yang mencatat level terendah baru. Sementara itu, Nasdaq mencatat 57 saham yang mencapai level tertinggi baru dan 243 saham yang mencatat level terendah baru.
Volume perdagangan di bursa AS relatif rendah, dengan 16,8 miliar saham diperdagangkan. Angka tersebut di bawah rata-rata 17,3 miliar saham dalam 20 sesi perdagangan sebelumnya.
