Wiro Sableng, Si Pemilik 212 yang Tidak Lekang oleh Waktu

Asisten Redaktur kumparanBisnis. Menulis dan editing konten isu ekonomi dan bisnis. Membuat konten Multichannel.
Tulisan dari Muhammad Darisman tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Wiro Wiro Sableng
Sinto Sinto Gendeng
Wiro murid sableng
Sinto guru gendeng
Dulu, dulu sekali, ketika saya masih sama tingginya dengan meja makan, lagu itu adalah salah satu yang saya nanti-nanti di setiap Minggu pagi. Selain, Satria Baja Hitam, Power Rangers, juga Dragonball, adalah serial aksi Wiro Sableng yang selalu berseliweran dalam ruang imajinasi masa kecil saya.
Hal yang paling saya ingat adalah ikat kepala, baju putih ala-ala pendekar, Kapak Naga Geni 212, serta rajah 212 dengan angka 2 pertamanya terbalik yang terdapat di dada dan tangan si pendekar Wiro Sableng. Karenanya, saya dulu membeli balon-balon berhadiah kapak, mengikat kepala, serta mencoret tangan dan dada saya dengan angka 212 juga.
Selama bertahun-tahun, kira-kira pada rentang waktu 1997-2000an itu saya dan mungkin juga sebagian besar generasi 90-an begitu menyukai serial yang satu ini. Alasannya sederhana, karena ada perkelahian, pertarungan dengan berbagai jurus. Ya, pada tahun itu hanya sesederhana itu saya menyukai sesuatu.
Butuh waktu hampir 2 dekade setelahnya bagi saya untuk tahu bahwa serial laga tersebut merupakan karya ekranisasi dari cerita serial silat yang ditulis oleh mendiang Bastian Tito. Ini terjadi setelah saya secara kebetulan berkuliah di jurusan Sastra Indonesia, dan ternyata karya tersebut masuk dalam antologi sastra yang diterbitkan 2009 berjudul “Seratus Buku Sastra Indonesia yang Patut Dibaca Sebelum Dikuburkan”, bersama dengan sastrawan besar mulai dari angkatan awal seperti Marah Rusli, hingga Sastrawan era reformasi, Ayu Utami.
Serial silat ini awalnya banyak dipertanyakan kenapa ia masuk 100 buku sastra yang harus dibaca. Tetapi bagi saya karya tersebut pantas untuk mendapatkan tempat di dalam kesusastraan Indonesia. Alasan saya lagi-lagi juga sederhana, ia memenuhi fungsi sastra sebagai refleksi kehidupan dan sebagai hiburan; sebagaimana hakikat karya sastra itu adalah penggabungan antara fakta dan imajinasi; realitas fiksi.
Terbukti betapa kuatnya data-data dalam serial silat Wiro Sableng milik mendiang ini, mulai dari pemilihan nama, latar tempat, bahkan peristiwa ditulis dengan melakukan riset ke berbagai daerah terlebih dahulu. Penulis membawa kita berkelana ke dalam sejarah, budaya, hingga kebiasaan suatu masyarakat. Tidak hanya di Indonesia, bahkan Nanking, Jepang, juga pernah menjadi latar cerita.
Kemudian dari sisi imajinasi, saya rasa banyak yang setuju kalau imajinasi karya yang ditulis sebanyak 185 judul dan kemudian diteruskan menjadi 192 oleh Mike ini tidak terbatas. Baik itu pemilihan ide tiap serinya, penciptaan tokohnya, sampai jurus-jurus yang dimiliki Wiro Sableng. Sebut saja beberapa jurusnya, pukulan benteng topan melanda samudra, pukulan angin es, ilmu silat orang gila, pukulan pendekar harimau dewa, serta masih banyak lagi. Selain Wiro Sableng, ada ratusan tokoh unik dalam cerita tersebut, di antaranya adalah Dewa Tuak, Dewi Kerudung Biru, Dewa Ketawa, Dewa Sedih, Kakek Segala Tahu, dan lainnya.
Karya sastra yang kuat itu biasanya mampu melampaui semangat zamannya. Caranya yaitu dengan menghadirkan cerita yang relevan sampai semangat zaman jauh ke depan, mendokumentasikan sejarah, atau dengan menciptakan tokoh dan fantasi yang tidak lekang oleh waktu. Seperti misalnya tokoh Siti Nurbaya-nya Marah Rusli, Zainuddin milik HAMKA, atau si Doel-nya Aman Dt. Madjoindo. Dalam hal ini, si penulis Wiro Sableng berhasil di sisi dokumentasi dan penciptaan tokoh serta fantasinya. Hingga menjadikan si pemilik 212 tidak lekang oleh waktu.

Lebih kurang, Wiro Sableng menyelinap dan terekam dalam memori saya melalui media audio visual dan media tulis, meskipun media yang pertama lebih dominan dalam kepala saya. Aktor pada waktu itu dan sampai sekarang yang paling identik dengan Wiro Sableng adalah Ken Ken (Herning Sukendro), aktor di sinetronnya episode 1-58. Walaupun ada Tony Hidayat sebagai aktor seri filmnya, dan pengganti Ken Ken untuk sinetron, Abhi Cancer (episode 59-91).
Upaya Mengingat 212
Dua dekade kemudian, ketika saya tenggelam dalam hari-hari yang sibuk dan telah jauh meninggalkan masa kanak di belakang, termasuk Wiro Sableng, ada saja hal yang membuat saya kembali bernostalgia dengan angka 212. Entah kebetulan atau tidak, di Ibu Kota terjadi Aksi Bela Islam yang juga dikenal dengan angka 212, sebab aksi itu diadakan tanggal 2 Desember 2016.
Saya, yang pada waktu itu masih berstatus anak daerah (belum merantau ke Ibu Kota seperti sekarang) tentu tidak sepenuhnya tau apa yang melatarbelakangi aksi tersebut. Tetapi yang saya tau dari pemberitaan aksi ini bertujuan untuk membela Islam dari Ahok yang waktu itu disebut-sebut telah “menjahati” agama.
Kemudian, 1 tahun setelahnya, pada tanggal yang sama ada lagi aksi yang bernama Reuni 212. Sama-sama memiliki ciri khas serba putih dengan massa ratusan ribu, bedanya, yang namanya reuni ya sekadar bernostalgia saja atas keberhasilan membela agama dari Ahok. Dan, saya juga telah berada di Ibu Kota, ya walaupun tidak merasakan langsung, tetapi sayup sampailah suasana reunian itu kepada saya.
Bahasan mengenai aksi 212 kita cukupkan sampai di sini, karena bukan ranah tulisan ini. Maksudnya tadi ya hanya sebagai alasan kenapa saya mengingat kembali Wiro Sableng. Kebetulan namanya 212 dan pakai putih-putih juga, Jadi pada waktu itu yang pertama kali melintas dalam kepala saya tak lain adalah Wiro Sableng.
Di episode awal-awal, ketika Wiro telah berusia 17 tahun dan akan memulai pengembaraannya, Sinto Gendeng merajah dada serta tapak tangannya dengan angka 212. Kemudian, sang guru menjelaskan bahwa 2 berarti keseimbangan dunia dan 1 adalah hubungan antara manusia dengan pencipta. Jadi kurang lebih tetap mengingat Tuhan di antara kehidupan dunia. Demi menjaga keseimbangan tersebut, ia yang merupakan seorang pendekar dengan kekuatan sakti harus menggunakan kekuatannya untuk kebenaran dan jangan sampai salah langkah.
Tetapi, si tokoh cerita tetap saja digambarkan bukan tokoh sempurna. Sepanjang pengembaraan ia juga sering usil dan berhubungan dengan banyak perempuan. Pengembaraan dan pencarian jati dirilah yang akhirnya membuat ia makin lama makin menjadi tokoh yang baik. Begitu kira-kira si pemilik Kapak Naga Geni 212 tersebut.
Pada tulisan ini juga, karena tujuannya tadi adalah mengingat, tentu dunia perfilman Indonesia patut diapresiasi. Tidak saja untuk serial silat ini sebenarnya, adanya ekranisasi karya sastra ke film yang sampai saat ini barangkali sudah lebih dari 200 karya sastra, membuat tokoh dan cerita sastra terdokumentasikan dan sampai dengan baik kepada khalayak yang lebih luas.
Ekranisasi atau yang lebih dikenal dengan adaptasi, alih wahana, menjadi salah satu cara yang afektif untuk menyalurkan sastra lewat media lain. Sebab, tidak semua masyarakat Indonesia sampai hari ini telah menjadi pembaca yang baik, tetapi siapapun, bisa menjadi penonton. Beberapa karya sastra seperti Siti Nurbaya, Laskar Pelangi, Tenggelamnya Kapal Van der Wijck, 5 Cm, dan masih banyak lagi, merupakan karya sastra yang mengalami proses ekranisasi dan menjadi terkenal, termasuk juga Wiro Sableng.

Sekarang, sungguh kebetulan yang luar biasa, kita akan melihat kembali sosok Wiro Sableng melalui anak bungsu mendiang Bastian Tito, Vino G Bastian. Sebuah film layar lebar dengan sentuhan Hollywood melalui kerjasama Lifelike Pictures dengan Fox International Productions. Sang produser, Sheila Timothy mengatakan bahwa film tersebut akan tayang di akhir tahun ini dan akan ada sekuelnya.
Selain Vino, film yang diarahkan Angga Dwimas Sasongko ini juga melibatkan istri Vino, Marsha Timothy, ditambah Sherina Munaf, Dwi Sasono, Lukman Sardi, Happy Salma, Marcella Zalianty, Rifnu Wikana, Marcel Siahaan, dan Andy. Bahkan penulisan naskah juga mengikutsertakan Seno Gumira Ajidarma.
Hal menarik bagi saya adalah mengenai Vino yang berperan sebagai Wiro Sableng. Saya merasa itu bukan hanya kebetulan. Saya membayangkan, bisa saja dulu mendiang membayangkan tokoh Wiro Sableng memiliki gambaran yang sesuai dengan anaknya ketika dewasa, serta dengan harapan bahwa karekter tersebut akan cocok sekali dengan anaknya. Dengan keluasan imajinasi, bisa saja seorang penulis sampai berpikir demikian. Tetapi kemungkinan lainnya, bisa juga sebagai upaya lanjutan dari ekranisasi tadi, atau malah untuk tetap membuat kita mengingat bahwa 212 itu Wiro Sableng, bukan yang lain.
Terlepas dari segala kemungkinan itu, tentu saja kita bisa berbahagia dengan kehadiran layar lebarnya nanti. Bagi saya khususnya, saya membayangkan tentu akan jauh lebih bagus nanti si tokoh Wiro Sableng yang diperankan Vino dengan segala teknik perfilman yang juga telah jauh berkembang dibanding dulu.
Sisi positif lainnya yang saya harapkan adalah, bagi dunia kesusastraan, semoga dengan hadirnya film ini, orang-orang akan membaca kembali serial silat Wiro Sableng karya Bastian Tito, sebagai bentuk apresiasi terhadap penulis dan karyanya.
Semoga film ini tayang sesuai rencana dan saya dapat bernostalgia dengan 212!
(kumparan, 2018. Mengenang Bastian Tito dan Wiro Sableng)
