Latihan Dasar Kepemimpinan Mahasiswa: Mengapa Wajib Ikut?

Mahasiswa Hukum Universitas Muhammadiyah Surabaya
ยทwaktu baca 4 menit
Tulisan dari Mochammad Diki Wildan Huda tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan
Latihan Dasar Kepemimpinan Mahasiswa: Kepemimpinan Bukan Soal Jabatan

Mengapa Mahasiswa Perlu Mengikuti Latihan Dasar Kepemimpinan?
Saya berangkat ke Wonosalam, Jombang, dengan perasaan setengah hati. Kegiatan pada 4-6 September itu bentrok dengan rencana akhir pekan santai saya. Dalam benak saya, Latihan Dasar Kepemimpinan Mahasiswa (LDKM) hanyalah rangkaian acara seremonial: duduk berjam-jam, mendengarkan ceramah, lalu pulang membawa sertifikat. Ternyata saya keliru besar. Tiga hari di kaki Gunung Anjasmoro itu mengubah cara pandang saya tentang makna menjadi seorang mahasiswa.
Kepemimpinan Bukan Soal Jabatan
Pelajaran pertama yang melekat di ingatan saya adalah cara menjadi pemimpin yang baik dalam berorganisasi. Selama ini saya mengira pemimpin adalah orang yang berdiri paling depan, memegang mikrofon, dan memberi perintah. Pemateri justru membalikkan anggapan itu. Pemimpin yang baik adalah orang yang mau mendengar sebelum berbicara, berani bertanggung jawab saat keadaan sulit, dan tidak segan mengakui kesalahan.
Materi itu mengingatkan saya pada pengalaman di sebuah organisasi kecil di kampus. Setiap kali rapat berjalan alot, saya cenderung diam dan menunggu orang lain mengambil keputusan. Setelah sesi tersebut, saya sadar bahwa diam tidak berarti netral. Terkadang, sikap diam justru membuat kelompok jalan di tempat. Kepemimpinan ternyata dimulai dari hal-hal kecil, seperti berani menyampaikan pendapat dan bersedia menerima kritik tanpa tersinggung.
Kuliah Adalah Persiapan, Bukan Tujuan Akhir
Sesi lain yang tak kalah menggugah membahas hal yang perlu dipersiapkan selama kuliah agar kita siap setelah lulus. Jujur saja, banyak dari kita menjalani perkuliahan dengan pola yang sama: datang, mengisi daftar hadir, mengerjakan tugas, lalu mengejar IPK tinggi. Padahal, dunia setelah wisuda tidak hanya menanyakan nilai.
Pemateri mengingatkan bahwa gelar sarjana hanyalah tiket masuk. Hal yang menentukan apakah kita mampu bertahan adalah kemampuan berkomunikasi, jejaring pertemanan, pengalaman berorganisasi, dan kemauan untuk terus belajar di luar kelas. Kalimat itu terasa menohok, tetapi dalam arti yang baik. Saya mulai bertanya kepada diri sendiri: selama beberapa semester ini, keterampilan apa yang telah saya kumpulkan selain teori di buku catatan? Pertanyaan itu belum sepenuhnya terjawab, tetapi setidaknya kini saya memiliki arah untuk memperbaiki diri.
Berani Berbicara di Depan Banyak Orang
Bagian yang paling menegangkan sekaligus paling berkesan bagi saya adalah sesi public speaking. Kami tidak hanya mendapat teori tentang intonasi, kontak mata, dan bahasa tubuh, tetapi juga langsung diminta berlatih di hadapan peserta lain. Telapak tangan saya basah, suara bergetar, dan beberapa kali saya kehilangan kata di tengah kalimat.
Anehnya, setelah turun dari panggung, saya justru merasa lega. Ternyata sebagian besar rasa takut itu hanya ada di kepala. Tidak ada yang menertawakan saya. Semua peserta berada dalam posisi yang sama: sama-sama gugup dan sama-sama belajar. Dari pengalaman itu, saya memahami bahwa kemampuan berbicara bukanlah bakat bawaan, melainkan keterampilan yang dapat diasah lewat latihan berulang. Dalam organisasi maupun dunia kerja, orang yang mampu menyampaikan gagasan dengan jelas hampir selalu lebih mudah didengar.
Disiplin Waktu dan Kerja Sama Tim
Di luar materi, ada pelajaran yang datang dari praktik langsung. Panitia menerapkan jadwal yang ketat. Bangun terlambat berarti satu kelompok mendapat sanksi, dan sanksi itu ditanggung bersama. Awalnya hal ini terasa menjengkelkan. Namun, justru dari situ saya belajar bahwa kedisiplinan seseorang berdampak pada orang lain. Satu anggota yang terlambat dapat menghambat seluruh kelompok.
Kerja sama antarkelompok juga diuji melalui berbagai permainan dan tugas bersama. Ada kelompok yang cepat kompak, ada pula yang sempat berselisih karena perbedaan pendapat. Seiring waktu, kami belajar menurunkan ego, membagi peran sesuai kemampuan masing-masing, dan saling menutupi kekurangan. Orang-orang yang semula asing bagi saya menjadi teman akrab hanya dalam tiga hari. Menurut saya, ini membuktikan bahwa menghadapi tantangan bersama jauh lebih ampuh membangun hubungan daripada sekadar bertegur sapa di kelas.
Jadi, Mengapa Harus Ikut?
Setelah mengalaminya sendiri, jawaban saya sederhana: karena kampus tidak dapat mengajarkan segalanya di ruang kuliah. Mata kuliah memberi kita pengetahuan, sedangkan LDKM melatih sikap. Keberanian, tanggung jawab, kedisiplinan, dan kemampuan bekerja sama tidak bisa dihafal menjelang ujian. Semuanya harus dialami dan dilatih.
Tentu tidak semua orang akan menjadi ketua organisasi atau pemimpin besar. Namun, setiap orang pasti akan memimpin sesuatu, entah itu tim kerja, usaha sendiri, keluarga, atau minimal dirinya sendiri. Bekal kepemimpinan dasar akan berguna dalam semua peran tersebut.
Saya pulang dari Wonosalam dengan badan lelah, tetapi pikiran terasa lebih jernih. Kini saya tidak lagi memandang organisasi sebagai beban tambahan di luar perkuliahan, melainkan sebagai ruang belajar yang sama pentingnya. Bagi teman-teman mahasiswa yang masih ragu atau menganggap kegiatan seperti ini hanya membuang waktu, saya ingin mengatakan: cobalah terlebih dahulu. Siapa tahu, seperti saya, kalian akan pulang dengan versi diri yang sedikit lebih berani dan lebih siap menghadapi masa depan.
