Konten dari Pengguna

Hati-hati,"Jangan Ambil Sekali"

Muhammad Dio
Mahasiswa Ilmu Komunikasi Universitas Andalas
26 Februari 2025 11:32 WIB
·
waktu baca 2 menit
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-link-circle
more-vertical
Tulisan dari Muhammad Dio tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan
Made in canva.com
zoom-in-whitePerbesar
Made in canva.com
ADVERTISEMENT
Dunia maya mampu membuat manusia melakukan tindakan-tindakan besar di dunia nyata. Salah satu contoh yang mencuri perhatian adalah cerita Binsar Saragih, seorang pemuda asal Medan, yang rela melakukan perjalanan tujuh jam menuju Kupang, Nusa Tenggara Timur (NTT), demi bertemu langsung dengan idolanya, Cristiano Ronaldo. Binsar yang mengikuti kabar kedatangan sang idola lewat media sosial, harus menerima kenyataan tidak mengenakkan. Ia mendapati bahwa kabar tersebut hanyalah berita bohong.
ADVERTISEMENT
Pada zaman yang serba digital seperti saat sekarang, informasi dapat diakses dari mana saja. Masyarakat tidak hanya memperoleh informasi lewat media konvensional seperti televisi atau surat kabar saja, melainkan juga lewat media online. Menurut laporan Digital News Report 2024 yang dirilis oleh Reuters Institute, media online menjadi sumber berita paling populer di Indonesia, dengan 79% masyarakat mengakses berita melalui platform digital. Sayangnya, kehadiran media online menghadapi berbagai tantangan, salah satunya kredibilitas dari informasi yang disampaikan.
Dalam dunia sepak bola, seruan "Jangan Ambil Sekali" sering diteriakkan dari pinggir lapangan kepada pemain bertahan agar tidak buru-buru merebut bola dalam satu usaha saja. Seruan ini mengajarkan pemain untuk bermain dengan lebih sabar, tenang, dan tidak gegabah dalam mengambil Keputusan. Lalu, apa kaitannya dengan literasi digital?
ADVERTISEMENT
Konsep "Jangan Ambil Sekali" dalam sepak bola memiliki kesamaan dengan cara kita mengonsumsi informasi di media sosial. Prinsip ini mengingatkan kita untuk tidak serta-merta mempercayai atau menyebarkan informasi tanpa terlebih dahulu melakukan pengecekan dan pertimbangan yang matang. Seperti dalam sepak bola, ada tahapan yang perlu dilakukan agar tidak terjebak dalam kesalahan:
1. Baca dan Pahami Terlebih Dahulu
Jangan terburu-buru membagikan informasi yang baru dilihat. Sama seperti pemain yang tidak langsung merebut bola, kita perlu membaca informasi hingga tuntas dan memahami isinya sebelum mengambil tindakan.
2. Periksa Sumber Informasi
Pastikan informasi berasal dari sumber yang kredibel. Jika terdapat keraguan terhadap keabsahan sumber, lebih baik menahan diri daripada terjebak dalam hoaks—seperti pemain yang terkecoh oleh pergerakan lawan.
ADVERTISEMENT
3. Cari Fakta Tambahan
Sebagaimana pemain harus membaca pergerakan lawan sebelum merebut bola, penting untuk mencari informasi tambahan dari sumber lain. Langkah ini membantu memastikan kebenaran informasi yang diterima.
4. Kendalikan Emosi
Informasi di media sosial sering kali disajikan dengan tujuan memicu emosi. Jangan langsung bereaksi atau membagikan informasi tanpa berpikir panjang. Tenangkan diri agar dapat mengambil keputusan yang lebih bijak.
Dengan demikian, sebagaimana dalam sepak bola, cara terbaik dalam mengonsumsi dan menyebarkan informasi adalah dengan bersikap sabar, bijaksana, dan tidak gegabah. Jika ada keraguan, lebih baik menahan diri terlebih dahulu.