Konten dari Pengguna

Bullying Dapat Merusak Mental Seorang Anak

Muhammad Dwiki
Mahasiswa Misterius yang sedang berkuliah di UIN Syarif Hidayatullah Jakarta - Fakultas Dakwah dan Ilmu Komunikasi - Jurusan Bimbingan Penyuluhan Islam
12 Juni 2024 9:45 WIB
·
waktu baca 4 menit
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-link-circle
more-vertical
Tulisan dari Muhammad Dwiki tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan
foto anak di bully (sumber:https://pixabay.com/id/)
zoom-in-whitePerbesar
foto anak di bully (sumber:https://pixabay.com/id/)
ADVERTISEMENT
sosmed-whatsapp-green
kumparan Hadir di WhatsApp Channel
Follow
Bullying adalah tindak kekerasan atau intimidasi yang dilakukan secara terus-menerus terhadap seseorang oleh individu atau kelompok yang lebih kuat secara fisik atau psikologis. Ini bisa terjadi di tempat kerja, sekolah, rumah, atau di tempat lainnya.
ADVERTISEMENT
Bullying dapat terjadi dalam berbagai bentuk, termasuk verbal, fisik, dan online. Contohnya, seseorang dapat mengejek, menghina, mengancam, memukul, atau menyebarkan fitnah tentang seseorang. Ini dapat terjadi secara langsung, misalnya melalui tindakan fisik atau verbal, atau secara tidak langsung, misalnya melalui media sosial atau pesan teks.
Bullying dapat memiliki konsekuensi yang sangat serius bagi korban, termasuk masalah kesehatan mental, rendahnya rasa percaya diri, dan masalah akademik. Korban bullying juga dapat mengalami stres yang berkepanjangan, yang dapat menyebabkan masalah fisik seperti insomnia atau masalah pencernaan.
Untuk menangani permasalahan bullying, pertama-tama perlu diketahui bahwa ini adalah masalah serius yang tidak boleh diabaikan. Orang tua, guru, dan pemimpin sekolah harus membuat jelas bahwa bullying tidak bisa dibiarkan begitu saja dan harus menjadi prioritas untuk menangani masalah ini.
ADVERTISEMENT
Pembelajaran tentang empati dan respek terhadap orang lain juga penting untuk mencegah bullying. Ini dapat dilakukan dengan memasukkan pelajaran tentang bullying ke dalam kurikulum sekolah dan menciptakan lingkungan yang menghargai perbedaan.
Seseorang yang menjadi korban bullying juga perlu diberikan dukungan dan bantuan untuk menangani situasi tersebut. Ini bisa meliputi bantuan psikologis atau terapi untuk membantu mengatasi rasa takut atau rendah diri yang mungkin akan muncul akibat bullying.
Bullying merupakan masalah serius yang perlu mendapat perhatian dan tindakan yang tepat. Dengan menciptakan lingkungan yang aman dan menghargai, kita dapat membantu mencegah bullying dan memberikan dukungan kepada mereka yang telah menjadi korban.
Dari penelitian Riauskima dkk mengemukakan ketika mengalami bullying korban merasakan banyak emosi negatif seperti marah, dendam, kesal, tertekan, takut, malu dan sedih. Yang paling ekstrem dari dampak psikologis ini adalah kemungkinan untuk timbulnya gangguan psikologis pada korban bullying seperti rasa cemas berlebihan, selalu merasa takut, depresi, ingin bunuh diri dan gejala-gejala gangguan stres setelah trauma (Trisnani dan Wardani 2016, 3).
ADVERTISEMENT
Bullying akan selalu melibatkan adanya ketidakseimbangan kekuatan, niat untuk mencederai, ancaman agresi lebih lanjut, dan teror. Bullying berasal dari bahasa Inggris (bully) yang berarti menggertak atau mengganggu. Banyak definisi tentang bullying ini, terutama yang terjadi dalam konteks lain ( tempat kerja, masyarakat. komunitas virtual). Perilaku bullying adalah salah satu bentuk kekerasan dan agresif siswa di sekolah. Bullying bisa berasal dari teman sebaya, senior atau kakak kelas, dan bahkan guru dan staf sekolah itu sendiri.
Seperti kisah bullying yang dialami oleh Fikri Dolasmantya, mahasiswa ITN Malang. Sebagai mahasiswa baru, Fikri mengikuti Kemah Bakti Desa (KBD) pada Oktober 2013 lalu. Menurut beberapa keterangan saksi, Fikri mengalami tindak kekerasan fisik dari seniornya. Kemudian saat mengikuti rangkaian acara KBD, Fikri sempat mengeluh sesak nafas dan akhirnya dilarikan ke puskesmas terdekat. Namun, nyawa Fikri sudah tak tertolong lagi (Wahyuningsih 2021, 10)
ADVERTISEMENT
Bullying ini kerap sekali terjadi pada Anak-anak yang paling rentan menghadapi risiko lebih tinggi untuk di-bully yaitu anak-anak yang berasal dari masyarakat yang terpinggirkan, anak-anak dari keluarga berpenghasilan rendah, anak-anak dengan penampilan atau ukuran tubuh yang berbeda, anak-anak penyandang disabilitas, atau anak-anak migran dan pengungsi.
Banyak cara untuk kita yang sudah mengalami hal semacam ini. Jika kamu merasa tersiksa dengan bullying, jangan pernah mengabaikannya. Buat dirimu merasa lebih baik, ceritalah pada orang lain. Jangan pernah takut bercerita pada orang lain. Jika bullying benar-benar membuatmu merasa terganggu, ceritalah. Dengan bercerita, kamu membagikan bebanmu pada orang lain sehingga penderitaanmu berkurang. Segala hal akan lebih mudah bila dihadapi bersama. Itulah gunanya keluarga dan teman. Mereka ada di saat kamu senang dan tidak akan meninggalkanmu ketika kamu sedih dan terpuruk.
ADVERTISEMENT
Sumber acuan :
Trisnani, Rischa Pramudia. dan Wardani, Silvia Yula. (2016). Perilaku Bullying di Sekolah. Jurnal Bimbingan dan Konseling. Vol.1 (1), hal. 1-10. diakses pada : 27 Desember 2022, dari : https://journal.upy.ac.id/index.php/bk/article/view/37/31
Wahyuningsih, Sri. (2021). Stop Perundungan/Bullying Yuk!. Jakarta: Direktorat Sekolah Dasar.