Konten dari Pengguna

Antrean Pangan Murah: Alarm, Bukan Prestasi

Elly

Elly

Mahasiswi Universitas Pamulang Pendidikan Ekonomi S1

·waktu baca 2 menit

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Elly tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Antrean panjang warga dalam program pangan murah di tingkat kelurahan sering dipotret sebagai bukti kehadiran negara di tengah kesulitan ekonomi. Namun, narasi tersebut perlu ditinjau ulang secara lebih kritis.Di balik tertibnya barisan warga yang menunggu giliran, tersimpan realitas yang lebih getir, yakni melemahnya daya beli dan belum optimalnya kebijakan ekonomi dalam menjamin akses pangan yang layak.Fenomena ini bukan sekadar persoalan teknis distribusi bantuan, melainkan sinyal adanya tekanan struktural dalam perekonomian.

Ketika masyarakat harus bergantung pada pangan bersubsidi untuk memenuhi kebutuhan dasar, hal itu menunjukkan bahwa mekanisme pasar tidak lagi sepenuhnya mampu menjangkau semua lapisan. Harga kebutuhan pokok yang terus merangkak naik tanpa diimbangi peningkatan pendapatan telah menciptakan jurang antara kebutuhan dan kemampuan.

Pemerintah memang menjadikan program pangan murah sebagai instrumen stabilisasi harga dan pengendalian inflasi. Dalam jangka pendek, langkah ini dapat meredam gejolak harga sekaligus memberikan ruang napas bagi masyarakat berpenghasilan rendah. Namun, jika antrean justru semakin panjang dan berulang, yang patut dipertanyakan bukan lagi efektivitas programnya, melainkan akar persoalan yang belum terselesaikan.Ketergantungan pada program tersebut berpotensi menciptakan ilusi stabilitas.

Di satu sisi, angka inflasi mungkin terlihat terkendali di atas kertas. Di sisi lain, realitas di lapangan menunjukkan bahwa sebagian masyarakat masih kesulitan mengakses kebutuhan pokok tanpa bantuan. Hal ini mengindikasikan adanya kesenjangan antara indikator makroekonomi dan kondisi riil masyarakat.

Lebih jauh, fenomena antrean juga menyingkap persoalan distribusi dan ketahanan pangan yang belum merata. Jika pasokan dan distribusi berjalan optimal, kebutuhan dasar semestinya dapat diakses dengan harga yang relatif stabil tanpa harus menunggu intervensi berkala. Oleh karena itu, pendekatan yang terlalu berfokus pada solusi jangka pendek berisiko menunda pembenahan sistemik yang lebih mendasar.Sudah saatnya pemerintah tidak hanya hadir sebagai pemadam kebakaran melalui program pangan murah, tetapi juga sebagai arsitek kebijakan yang mampu memperkuat fondasi ekonomi masyarakat.

Antrean warga dalam program pangan murah di tingkat kelurahan sebagai upaya pemerintah menjaga stabilitas harga. Foto: Dok. Pribadi, 17/9/2026, Hari Kamis Jam 9 Pagi

Upaya seperti peningkatan pendapatan, penciptaan lapangan kerja, penguatan sektor produksi pangan, serta perbaikan rantai distribusi harus menjadi prioritas utama.Antrean pangan murah seharusnya dibaca sebagai alarm, bukan prestasi. Ia adalah tanda bahwa masih ada pekerjaan rumah besar dalam menjaga keseimbangan ekonomi dan kesejahteraan rakyat.