Konten dari Pengguna

Cerita Perjalanan Mudik Jakarta-Lampung Naik Motor

Muhammad Fadli Rizal

Muhammad Fadli Rizalverified-green

Maaf, tolong, dan terima kasih.

clock
comment
4
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Muhammad Fadli Rizal tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Apakah kamu termasuk orang yang menjalankan ritual mudik? Jika iya, berbahagialah.

~~

Ada yang berbeda dari perjalanan mudik saya kali ini. Jika sebelumnya saya selalu menggunakan transportasi umum seperti bus dan kereta api, kali ini saya memilih mudik dengan Supri.

Supri adalah nama motor bebek Supra-X jebolan tahun 2009. Ia setia dengan saya sejak ia resmi dikeluarkan dari ringkuk rantai besi showroom motor di tahun yang sama.

Kenapa saya memilih naik motor? alasannya sederhana. Mudik naik motor masuk list ‘Hal yang harus saya lakukan setidaknya satu kali selama hidup’. Tak penting bukan? tapi begitulah adanya.

Setelah berbagai persiapan saya rampungkan, akhirnya tanggal 12 Juni 2018 datang juga.

Malam itu, sepulang dari mencari pundi rupiah, sekitar pukul 21.45 WIB, saya dan Supri siap babat aspal dari Pasar Minggu, Jakarta Selatan-Labuhan Maringgai, Lampung Timur.

Kalau lihat Google Maps, perjalanan saya memakan waktu sekitar 7,5 jam. Dengan rincian, Jakarta-Merak butuh 4 jam, Pelabuhan Merak-Bakauheni 1,5 jam, dan Pelabuhan Bakauheni-Labuhan Maringgai, Lampung Timur 2 jam. Tapi itu jarak tempuh versi mesin, situasi di jalanan sangat cair. Tak selalu bisa diprediksi.

Titik poin pertama saya adalah menuju Jalan Daan Mogot, Jakarta Barat. Malam itu jalanan Jakarta cukup lengang, kupacu Supri dengan kecepatan rendah, 60 km/h saja.

Meter demi meter jalan mulus dilibas dengan mudah. Yah, namanya juga jalanan ibu kota, jarang sekali ada jalan yang berlubang. Memangnya di daerah saya. Ups!

Oke kembali ke Supri. Perjalananku baru sampai daerah Senayan, rasa bosan pasti datang kalau saja tiga motor berpelat BE kala itu tidak menyalip.

Kami berempat berjalan beriringan— saya membuntuti iring-iringan mereka lebih tepatnya,—. Sebenarnya saya tak tahu siapa mereka. Hanya bermodalkan pelat sama-sama BE saja, saya menganggap mereka juga akan mudik ke Lampung.

Titik poin pertama perjalanan saya sudah tercapai. Saya sampai di jalan Daan Mogot, Jakarta Barat. Di sepanjang jalan inilah pemudik dengan motor mendominasi pemandangan saya.

Atmosfer mudik sungguh terasa. Sejak saat itu, saya tak begitu butuh Google Maps lagi. Sebab, jika ragu dengan jalan, saya tinggal membuntuti pemudik lainnya.

“Rasa lelah karena perjalanan menuju pulang adalah sesuatu yang selalu dirindukan perantau.”

Tiga motor yang sedari Senayan saya ikuti menepi untuk istirahat. Saya sudah mencapai titik poin pertama. Selanjutnya, Supri harus mengambil arah ke Jalan Raya Serang menuju Balaradja.

Setelah 2,5 jam perjalanan menyusuri jalan, saya memutuskan untuk berhenti—kasihan mesin Supri sudah panas—, jam menunjukkan pukul 00.30 WIB. Pagi itu jalanan begitu ramai, seakan tak ada celah untuk seekor semut menyeberang jalan.

~Jl. Daan Mogot - Jalan Raya Serang - Balaradja - Terminal Serang - Merak - Bakauheni - Lampung Timur~

Di sepanjang jalan di 2,5 jam perjalanan saya, pom bensin dan mini market menjadi tempat favorit para pemudik untuk istirahat. Ada yang berhenti untuk mengisi tenaga, atau hanya sekadar mengobrol. Sungguh sangat menyenangkan melihat hal-hal semacam itu.

Keriuhan jalanan ibu kota seperti berpindah ke sepanjang jalan menuju ke Merak. Begitu kira-kira kata bapak penjual kopi di jalan arah Balaradja yang saya pilih jadi tempat rehat sejenak.

Sekitar 15 menit mengobrol—dengan bapak penjual kopi yang saya belum tahu namanya hingga tulisan ini saya bikin—, sepasang pemudik asal Bandung juga beristirahat di warung yang sama dengan saya.

Wajah mereka lelah sekali. Kasihan. Usut punya usut, keduanya belum berstatus suami istri. Keduanya menuju Kota Metro, Lampung.

Mereka berangkat dari Bandung sekitar pukul 15.00 WIB. Mereka sudah memacu motor selama 10 jam. Pantas saja lelah. Luar biasa.

Setelah mengobrol ngalor-ngidul, akhirnya saya dan pasangan asal Bandung itu memutuskan untuk melanjutkan perjalanan dengan beriringan.

Sepertinya itu salah satu keputusan saya yang kurang tepat.

Bagaimana tidak? waktu tempuh antara warkop dan pelabuhan Merak masih sekitar 2 jam lagi. Tapi kedua sejoli itu memacu motornya seperti sedang mengarak pengantin. Hanya dengan kecepatan 30-40km/h.

Sebenarnya itu bukan satu-satunya masalah.

Sejak sepuluh menit pertama saya berada di belakang mereka, saya disuguhkan pemandangan yang sangat menyenangkan. Yah, menyenangkan bagi mereka.

Mereka asik mengobrol, bercanda, dan tertawa. Sesekali pundak si laki-laki dipijit-pijit oleh pacarnya. Menyenangkan bukan?

Sungguh saya sangat ingin mendahului mereka. Tapi saya lebih memilih untuk tetap berada di belakang mereka sambil membayangkan suatu saat saya yang seperti itu, hehe.

~Memacu Supri di antara pemudik lain~

Jalanan antara Balaradja-Terminal Serang cukup bergelombang, kondisi itu jauh lebih baik ketimbang jalanan yang halus. Sebab, saat berkendara jarak jauh dengan jalanan yang mulus itu hanya bikin mengantuk. Tak ada sensasinya.

Jika kondisi lancar, kira-kira satu jam lagi sampai Merak, hal itu yang terlintas di kepala saya waktu itu. Saya melihat sumber tenaga untuk Supri masih ada tiga garis.

Saya tersenyum ketika melihat sebuah tulisan di bagian belakang motor yang ada di depan saya.

“Urip ora gur nggo nggolek bondo, Cuk! Bale’o, mamak bapak mu pengen ndelok awakmu, uduk gur ndelok kiriman hasil kerjomu,”

Begini artinya ‘Hidup enggak cuma untuk nyari harta. Pulanglah, ibu bapakmu ingin melihat kamu, bukan hanya melihat kiriman hasil kerjamu’

Entah kenapa saya tersenyum melihat tulisan itu—padahal itu bukan satu-satunya tulisan di motor pemudik yang saya lihat—, mungkin karena saya teringat dengan orang-orang yang suka meremehkan pentingnya pulang (mudik) ke rumah.

Dengan pertanyaan, “Mau ngapain sih pulang?”, tapi entahlah.

*Salah satu tulisan di motor pemudik

Pangkal flyover tol Merak-Jakarta sudah berada di sebelah kanan saya. Saya sudah sampai daerah Pelabuhan Merak. Saya akhirnya memutuskan untuk berhenti,

Harusnya waktu itu, 20 menit lagi saya bisa sampai di dermaga atau malah sudah di atas kapal.

Tapi kondisi berbicara lain. Selan karena dermaga memang sedang padat, saya butuh makan sahur dan liputan tipis-tipis.

Sejak sekitar pukul 9 malam, jalanan mulai padat, bukan macet. Begitu ujar petugas yang sedang mengatur lalu lintas pagi itu.

“Ini kondisi terpadat jika dibanding hari sebelumnya. Padat ya, bukan macet. Buka-tutup jalan agar dermaga tak begitu padat dengan pemudik yang menunggu kapal datang,” begitu imbuhnya.

Setelah berbasa basi dengan petugas dan pedagang, saya langsung masuk ke area dermaga. Ramai sekali dermaga pagi itu. Lautan manusia menanti kapal datang. Setiap kapal yang datang, suara riuh motor langsung menyambutnya.

Bukan hanya tak sabar ingin pulang, menanti di antara padatnya manusia dan motor bukan kondisi yang bisa dibilang enak. Selain karena kondisinya panas, bau asap kendaraan begitu menyengat.

Teriakan ‘wuuu, woy,’ dan umpatan lainnya, selalu terdengar bila mana petugas terpaksa memotong antrean motor yang akan naik ke kapal. Hal itu dilakukan karena memang kapasitas kapal yang terbatas.

Saya tak bisa membayangkan bagaimana kondisi di siang hari, apalagi saat banyak pemudik dengan motor yang juga membawa balita. Kasihan bocil-bocil itu, pasti terpaksa kepanasan juga.

Saya mencoba mengorek info ke beberapa orang yang ada di sebelah saya, berdasarkan pengalaman mereka, ternyata kondisi pagi itu jauh lebih buruk dari tahun-tahun sebelumnya.

Lebih padat, lebih ‘rusuh’, lebih lama dan lebih panas. Intinya kondisi pagi itu jauh lebih buruk dari tahun sebelumnya. Saya dan mereka sama-sama tak tahu apa penyebabnya.

Saat itu saya masih antre menuju loket.

Saya butuh merogoh kocek sebesar Rp 51 ribu untuk bisa membawa Supri naik ke atas kapal. Yah, tak apalah, demi bisa membawa Supri ke tanah kelahirannya.

Setelah membayar, saya kira bisa langsung tancap gas ke atas kapal. Ternyata saya juga merasakan menjadi antrean yang terpotong oleh petugas karena kapasitas kapal yang terbatas tadi.

Lagi-lagi teriakan ‘wuuu, woy’ dan segala umpatan lainnya menggema. Saya lebih memilih diam. Sebenarnya saya juga ingin teriak untuk menambah keriuhan itu. Tapi toh tak ada gunanya, kapal sudah berangkat, kami harus menunggu kapal berikutnya.

Lagian, waktu itu sudah lewat waktu imsak, jadi otomatis saya sudah dalam masa puasa. Kan puasa enggak boleh marah, kata pak ustaz kalau marah nanti bisa mengurangi pahala puasa, loh!

Saya lebih memilih puasa, sebab saya tak begitu sepakat dengan konsep Musafir. Bagi saya, saat ini konsep tersebut tak begitu tepat untuk dipakai.

Mungkin konsep Musafir tetap relevan dipakai, jika kita mudik atau bepergian masih menggunakan onta atau kuda.

Lah saat ini era modern, bung! perjalanan lebih mudah.

Supri dan saya akhirnya menuju kapal, setelah lebih dari 1,5 jam berada di tengah kerumunan pemudik yang setia menanti kapal. Eh, terpaksa menanti kapal lebih tepatnya.

Padahal, jika di hari biasa, dari loket tiket hingga ke kapal, hanya butuh sekitar setengah jam.

Tak ada yang mencolok selama di atas kapal, hanya ada hamparan motor di dek kendaraan, dan hamparan manusia di setiap sudut kapal bahkan hingga di dek kendaraan. Semua lelah, semua mengantuk, semua menanti untuk bisa pulang dengan selamat.

Pelabuhan Merak-Pelabuhan Bakauheni memakan waktu hampir tiga jam. Hitungan saya di awal tadi meleset lagi.

Setelah bersiap-siap, kapal akhirnya menyandar di Pelabuhan Bakauheni, Lampung. Tanah kelahiranku.

~Setelah hampir lima tahun, Supri akhirnya bisa mengaspal lagi di Lampung~

Pagi itu cuaca sangat bersahabat. Hanya butuh waktu dua jam dari Pelabuhan Bakauheni menuju rumah saya. Prediksi saya kali ini tepat.

Lampung tempat yang ramah bagi mereka yang tak ada niat macam-macam.

Oh iya, kalau ada yang menganggap Lampung itu tempat yang mengerikan, luangkanlah sesekali waktu untuk berkunjung. Lihat bagaimana Indahnya tanah kelahiran saya.

Selamat menikmati rendang, opor, ketupat, dan kue nastar.

Selamat Lebaran.

Semoga hati kita masih bisa saling memaafkan.