Konten dari Pengguna

Pay it Forward, Berjuta Pesan dalam Balutan Cerita Sederhananya. Ada yang Tahu Film Ini?

Muhammad Fadli Rizal

Muhammad Fadli Rizalverified-green

Maaf, tolong, dan terima kasih.

clock
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Muhammad Fadli Rizal tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Pay it Forward, Berjuta Pesan dalam Balutan Cerita Sederhananya. Ada yang Tahu Film Ini?
zoom-in-whitePerbesar

Pay it Forward, ada yang tahu film ini?

Mungkin tidak banyak yang tahu. Terang saja, film yang diadaptasi dari novel--dengan judul yang sama, karya Catherine Ryan Hyde ini, sudah dilahirkan lebih dari 15 tahun yang lalu.

Pay it Forward bisa dimasukkan dalam kelompok film lawas--jika kita melihatnya dari bagaimana geliat industri film Amerika.

Menurut saya, selain mudah dimengerti, film ini memiliki cerita yang sangat sederhana.Tapi jangan salah, meski sederhana, film ini tidak bisa dipandang sebelah mata.

Ceritanya, hanya tentang seorang guru yang menantang muridnya untuk menemukan cara merubah dunia, atau lebih tepatnya tentang bagaimana setiap manusia bisa berguna untuk manusia lain.

Trevor McKinney, dia adalah tokoh utama dalam film berlatar di negeri Paman Sam ini.

Suatu ketika, di pelajaran sosial, Trevor mendapat tugas dari gurunya.

Menurut saya, seharusnya tugas itu cukup menguras pikiran anak usia 12 tahun. Bagaimana tidak? anak kecil seusianya mendapat tugas yang menantang--mengubah dunia dengan ide dan gagasannya sendiri.

Pay it Forward, Berjuta Pesan dalam Balutan Cerita Sederhananya. Ada yang Tahu Film Ini?  (1)
zoom-in-whitePerbesar

Namun, kebingungan itu sama sekali tak mampir ke pikiran seorang Trevor.

Pay it Forward kuncinya, itu gagasan sederhana yang lahir dari pemikirannya sendiri.

Kira-kira begini skenarionya;

Trevor akan berbuat baik untuk tiga orang.

Tentu kebaikannya ini bersyarat, syaratnya mudah. Setiap orang yang telah Trevor tolong, harus berjanji untuk menolong tiga orang lainnya. Dan begitu seterusnya.

Secara matemastis, setiap satu orang akan menolong tiga orang, tiga orang itu akan menolong sembilan orang dan sembilan orang itu akan menolong dua puluh tujuh orang. Dan begitu seterusnya.

Banyak yang akan berbuat baik, dan hal tersebut akan terus berlipat ganda. Dengan kata lain, semua orang akan berbuat baik untuk orang lain.

Jika dilihat, di dalam konsep ini tergambar keluguan seorang Trevor. Tentu untuk anak seusianya itu lumrah. Ia berpikir sebuah tanggung jawab moral akan cukup kuat untuk mengikat seseorang dalam sebuah janji.

Tetapi itu bukan masalah untuknya, mungkin ia beranggapan sama seperti saya--kalau hasil, tidak akan pernah mengkhianati proses.

Kembali lagi ke Pay It Forward. Ya, seperti di dunia nyata, gagasan unik sering kali hanya dilihat dari satu sudut pandang saja.

Singkatnya, gagasan ini dianggap aneh dan terlalu utopis.

Trevor kecewa? tentu tidak. Semua anggapan yang datang, tidak menyurutkan niatnya untuk menjawab tantangan dari gurunya.

Mulai dari gelandangan, guru hingga orang tuanya sendiri dijadikan kelinci percobaan olehnya.

Namun apa daya, seiring berjalannya waktu, Trevor sadar. Ia seperti paham bahwa tanggung jawab moral saja tidak cukup kuat untuk mengikat janji orang dewasa.

Alhasil, Trevor anggap konsep ini gagal.

Pay it Forward, Berjuta Pesan dalam Balutan Cerita Sederhananya. Ada yang Tahu Film Ini?  (2)
zoom-in-whitePerbesar

Namun siapa yang mengira, di balik prasangka tidak baik yang terlanjur menggerogoti semangat Sang Maestro Pay It Forward, Trevor. Ternyata Konsep ini berjalan dengan sangat baik di kota lain.

Ketika seorang pewarta menyambanginya, Trevor mulai sadar kalau usahanya mulai membuahkan hasil.

Keajaiban Pay it Forward semakin terlihat, ketika ratusan orang datang ke rumahnya. Mereka datang dengan membawa lilin dan bunga.

Luar biasa bukan? tapi tunggu dulu.

Orang-orang itu datang bukan untuk sebuah perayaan. Mereka datang untuk mengucapkan belasungkawa atas meninggalnya Trevor.

Siapa yang sangka? Trevor tewas di tengah keberhasilannya. Dan cerita selesai.

Sederhana bukan? maaf kalau penggambarannya tak menarik--saat ini, saya bukan guru yang baik.

Soal nilai apa yang dapat diulik dari film ini. Menurut saya, sebaiknya kalian bisa lihat sendiri filmnya.

Karena, saya rasa, bisa jadi kita menganut nilai-nilai yang berbeda. Jadi, nanti pemaknaannya juga bisa berbeda.

Selain itu, alasannya sudah jelas--saat ini, saya bukan guru yang baik.