Konten dari Pengguna

Budaya Konsumerisme di Kalangan Remaja, Terkhusus Pada Pelajar

Muhammad Fahmi Rizal

Muhammad Fahmi Rizal

Mahasiswa S1 Hubungan Internasional di Universitas Mulawarman Samarinda

·waktu baca 6 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Muhammad Fahmi Rizal tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Dokumentasi Sosialisasi di SMA Negeri 3 Samarinda. Senin, 25 Oktober 2024. Sumber: Penulis
zoom-in-whitePerbesar
Dokumentasi Sosialisasi di SMA Negeri 3 Samarinda. Senin, 25 Oktober 2024. Sumber: Penulis

Pendahuluan

Konsumerisme belakangan ini telah menjadi gaya hidup yang sangat mempengaruhi kehidupan anak muda, terkhusus pada kalangan pelajar. Generasi muda kini tidak hanya mengkonsumsi barang dan jasa untuk memenuhi kebutuhan dasar, tetapi juga untuk mengekspresikan identitas, gaya hidup, dan status sosial mereka. Bagi banyak anak muda, konsumsi menjadi cara untuk mengikuti tren, menunjukkan kepribadian, dan bahkan membangun citra diri di media sosial.

Teknologi dan media digital memainkan peran penting dalam mempercepat fenomena ini. Dengan akses yang mudah ke internet, anak muda terpapar pada berbagai iklan dan promosi yang mendorong mereka untuk terus mengikuti tren terkini. Media sosial juga menjadi platform di mana gaya hidup konsumtif dipamerkan dan dipromosikan, sehingga menumbuhkan keinginan untuk memiliki barang-barang yang diidolakan oleh tokoh-tokoh populer.

Konsumerisme di kalangan anak muda memiliki dampak yang kompleks, baik positif maupun negatif. Dari sisi positif, budaya konsumsi telah mendorong anak muda untuk lebih kreatif dan inovatif. Mereka tidak hanya menjadi konsumen, tetapi juga sering kali menjadi produsen konten atau pelaku usaha baru yang menjual produk melalui platform digital. Selain itu, meningkatnya pilihan barang dan layanan yang dapat diakses dengan mudah memberi kebebasan bagi anak muda untuk menentukan apa yang paling sesuai dengan kebutuhan dan preferensi mereka.

Namun, di sisi lain, konsumerisme yang berlebihan dapat membawa dampak negatif yang signifikan. Anak muda seringkali terjebak dalam siklus konsumsi yang didorong oleh tren yang terus berubah, sehingga menyebabkan perilaku konsumtif yang tidak sehat. Selain itu, tekanan sosial untuk selalu memiliki barang terbaru atau mengikuti gaya hidup tertentu dapat menyebabkan stres dan ketidakpuasan. Dari sudut pandang lingkungan, konsumerisme yang tidak terkendali juga berkontribusi pada peningkatan limbah dan penggunaan sumber daya alam yang tidak berkelanjutan. Artikel ini akan membahas lebih dalam tentang bagaimana konsumerisme berdampak pada gaya hidup anak muda serta mengapa penting bagi mereka untuk mengelola pola konsumsi secara lebih cerdas dan bijak.

Kondisi Pelajar SMA Tentang Konsumerisme di Masa Sekarang

Kondisi siswa dalam menghadapi konsumerisme di masa sekarang sangat dipengaruhi oleh perkembangan teknologi, media sosial, dan tekanan sosial. beberapa faktor yang memengaruhi fenomena ini:

  • Media Sosial sebagai Katalis Konsumerisme: Media sosial seperti Instagram, TikTok, dan YouTube banyak menampilkan konten-konten yang menunjukkan gaya hidup konsumeris. Influencer sering kali menampilkan produk atau merek tertentu, sehingga mendorong siswa untuk memandang produk tersebut sebagai “kebutuhan” atau simbol status sosial. Akibatnya, dorongan untuk berkonsumsi semakin meningkat demi mengikuti tren dan menghindari rasa tersisih dari lingkungan sosial.

  • Tekanan Sosial dan Budaya Populer: Budaya pop dan sosial yang berkembang saat ini menekankan pentingnya memiliki produk untuk merasa diterima atau dianggap sukses. Misalnya, barang-barang berteknologi tinggi atau produk bermerek mewah sering kali menjadi simbol status. Siswa bisa merasa tertekan untuk membeli barang-barang tersebut meski mungkin melampaui kemampuan finansial mereka, karena adanya dorongan untuk dianggap "keren" atau "modis".

  • Kredit dan Fasilitas Pembayaran: Tersedianya berbagai fasilitas kredit atau pembayaran cicilan membuat konsumerisme menjadi lebih mudah diakses. Berbagai platform pembelian online juga menyediakan opsi pembayaran yang mempermudah siswa dan mahasiswa untuk berbelanja dengan sistem kredit, yang bisa menyebabkan ketergantungan dan pola konsumsi yang tidak sehat.

  • Pola Konsumsi yang Berubah: Saat ini, siswa tidak hanya membeli barang untuk kebutuhan, tetapi juga untuk kepuasan emosional. Dengan meningkatnya konten terkait gaya hidup di media sosial, mereka cenderung menghubungkan identitas diri dengan barang-barang yang mereka konsumsi, misalnya melalui fashion, gadget terbaru, atau produk kecantikan.

Data Survei Yang Sudah di Kumpulkan di Lapangan

Berdasarkan data survei lapangan yang melibatkan 36 murid kelas XII F terdiri dari 24 perempuan dan 12 laki-laki, di sekolah SMA Negeri 3 Samarinda, berikut ini merupakan kesimpulan data dari temuan mengenai pengaruh konsumerisme terhadap prefemsi fashion siswa :

  1. Pengaruh Tren Media Sosial dan Influencer: Sebagian besar siswa (61,11%) merasa tren di media sosial dan influencer cukup memengaruhi keputusan mereka dalam membeli pakaian. Perempuan cenderung lebih terpengaruh secara signifikan dibandingkan laki-laki, dengan 29,2% perempuan merasa pengaruhnya sangat besar dibandingkan 8,3% laki-laki.

  2. Faktor Utama dalam Keputusan Pembelian: Mayoritas siswa memilih kualitas (47,22%) dan desain atau tren (41,67%) sebagai faktor utama saat membeli pakaian, sementara harga kurang menjadi prioritas. Laki-laki lebih memperhatikan kualitas (58,3%), sedangkan perempuan lebih tertarik pada desain atau tren (50%).

  3. Pengaruh Diskon dan Promosi: Sebanyak 47,22% siswa merasa cukup terpengaruh oleh diskon atau promosi dalam membeli pakaian, dengan 38,89% merasa sangat terpengaruh. Pengaruh diskon dan promosi ini dirasakan hampir sama besar baik oleh siswa perempuan maupun laki-laki.

  4. Kepekaan terhadap Tren Fashion: Mayoritas siswa (61,11%) tidak merasa perlu mengikuti tren fashion terbaru jika pakaian mereka masih layak. Namun, sekitar 38,89% merasa ketinggalan zaman jika tidak mengikuti tren, menunjukkan bahwa pengaruh tren masih cukup kuat, khususnya pada kelompok perempuan.

  5. Preferensi Membeli Pakaian Baru karena Tren: Sebagian besar siswa laki-laki cenderung tidak membeli pakaian baru hanya karena pakaian lama mereka ketinggalan tren (50%), sementara sebagian besar perempuan (58,3%) pernah membeli pakaian baru karena alasan ini, menunjukkan perempuan lebih sensitif terhadap tren dibandingkan laki-laki.

Kesimpulan dari data diatas, menunjukan bahwa tren media sosial dan influencer memengaruhi sebagian besar siswa, terutama dalam preferensi fashion mereka. Faktor kualitas dan tren desain lebih mempengaruhi keputusan pembelian daripada harga. Diskon dan promosi juga cukup efektif dalam mendorong pembelian. Meskipun sebagian besar siswa tidak merasa perlu selalu mengikuti tren, perempuan lebih cenderung mengganti pakaian demi tren dibandingkan laki-laki.

Upaya Yang Akan di Lakukan

Di balik harga yang murah dan koleksi yang cepat berganti, terdapat dampak lingkungan dan sosial yang serius dari industri fast fashion. Industri fast fashion menjadi penyumbang besar limbah tekstil, polusi air, dan emisi karbon, serta kerap dikaitkan dengan kondisi kerja yang tidak adil di negara-negara berkembang. Mengurangi konsumerisme dalam fast fashion tidak hanya menjadi tanggung jawab individu, tetapi juga merupakan langkah kolektif untuk menciptakan perubahan. Berikut adalah beberapa upaya yang bisa dilakukan untuk mengurangi konsumerisme fast fashion.

  • Edukasi Konsumen tentang Dampak Fast Fashion

  • Memilih Gaya Hidup Berbasis Keberlanjutan

  • Beralih ke Merek Berkelanjutan

  • Mengurangi Belanja Impulsif

  • Mengikuti Tantangan Tanpa Belanja di Media Sosial

Kesimpulan

Konsumerisme dikalangan remaja, khususnya pada kalangan pelajar SMA sangat dipengaruhi oleh media sosial, tekanan sosial, serta kemudahan dalam mengakses fasilitas pembayaran. Tren yang dipopulerkan oleh para influencer di media sosial menjadi salah satu faktor pendorong utama dalam pengambilan keputusan oleh kaum pelajar SMA ini dalam membeli barang, terutama pakaian, hal ini disebabkan banyak dari kalangan pelajar SMA cenderung menghubungkan gaya hidup dan identitas diri dengan produk-produk yang sedang trending. Meski dalam konsumsi barang-barang ini dapat mendorong kreativitas dan inovasi, namun dampak negatif yang diberikan juga cukup signifikan. Tekanan sosial dalam mengikuti tren ini sendiri menyebabkan perilaku konsumtif yang tak sehat di kalangan pelajar, serta bisa berdampak pada aspek finansial dan psikologis. Selain dampak-dampak kebiasaan belanja yang berlebihan, ini juga berkontribusi pada masalah lingkungan akibat peningkatan limbah dan penggunaan sumber daya alam secara berlebihan, terutama dalam industri fast fashion.

Oleh karena itu, upaya dalam mengurangi budaya konsumerisme di kalangan pelajar ini sangat penting. Dengan adanya edukasi tentang dampak negatif fast fashion dan mulai beralih ke merek yang berkelanjutan, serta mengurangi belanja impulsif, ini merupakan langkah-langkah yang diambil untuk mendorong gaya hidup yang lebih bijak dan berkelanjutan. Dengan melakukan sosialisasi ini, diharapkan anak muda dapat mengelola pola konsumsi mereka dengan lebih cerdas terkhusus pada pelajar SMA dan sosialisasi ini diharapkan dapat mendukung keberlanjutan lingkungan.