Purbaya Dicopot Lewat Telepon: Ketika Komunikasi Politik Jadi Sorotan Masyarakat

Mahasiswa Universitas Pamulang Fakultas Ilmu Komunikasi
·waktu baca 6 menit
Tulisan dari Muhammad Fajar Al Amin tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan
Purbaya dicopot dan Komunikasi Politik di balik Pergantian Menteri Keuangan

Purbaya dicopot dari jabatan Menteri Keuangan pada 14 September 2026 dalam sebuah keputusan pergantian pejabat pemerintahan. Peristiwa tersebut menjadi perhatian karena informasi mengenai pemberhentiannya disampaikan ketika Purbaya sedang menjalankan tugas bersama Komite IV DPD RI di Kompleks Parlemen, Jakarta. Di balik keputusan tersebut, proses komunikasi politik dalam penyampaian informasi kepada pejabat negara juga menjadi hal yang menarik untuk diperhatikan.
Purbaya menerima informasi mengenai pemberhentiannya ketika sedang mengikuti rapat kerja bersama Komite IV DPD RI di Kompleks Parlemen, Jakarta. Saat sedang menyampaikan paparan mengenai strategi fiskal dan rancangan APBN 2027, Purbaya diminta mengecek telepon yang masuk. Ia kemudian keluar dari ruang rapat dan menerima panggilan tersebut. Belakangan diketahui bahwa telepon berasal dari Menteri Sekretaris Negara Prasetyo Hadi yang menyampaikan informasi mengenai pergantian dirinya.
Tidak lama setelah itu, Presiden Prabowo Subianto melantik Suahasil Nazara sebagai Menteri Keuangan yang baru. Suahasil sebelumnya merupakan Wakil Menteri Keuangan yang mendampingi Purbaya. Pergantian tersebut secara resmi didasarkan pada Keputusan Presiden Nomor 97P Tahun 2026 tentang Pemberhentian dan Pengangkatan Menteri Keuangan untuk sisa masa jabatan 2024–2029.
Ketika Cara Menyampaikan Keputusan Menjadi Perhatian
Peristiwa tersebut menarik apabila dilihat dari perspektif komunikasi politik. Dalam konteks pemerintahan, komunikasi politik tidak hanya berkaitan dengan pidato, kampanye, atau penyampaian kebijakan kepada masyarakat. Komunikasi antara pemimpin dan pejabat negara juga merupakan bagian dari proses komunikasi politik karena di dalamnya terdapat pesan, kekuasaan, kewenangan, dan hubungan antara aktor-aktor pemerintahan.
Dalam kasus Purbaya, persoalan yang kemudian muncul bukan hanya mengenai pergantian Menteri Keuangan, tetapi juga mengenai bagaimana keputusan tersebut disampaikan. Purbaya memperoleh informasi tersebut melalui telepon ketika masih mengikuti agenda resmi sebagai Menteri Keuangan. Kumparan melaporkan bahwa setelah menerima telepon, Purbaya meninggalkan rapat dan kemudian mengirim pesan kepada jurnalis dengan keterangan bahwa dirinya akan diberhentikan.
Cara penyampaian tersebut kemudian mendapatkan perhatian dari pengamat komunikasi politik. Kunto Adi Wibowo menilai pemberhentian melalui pemberitahuan telepon kurang sesuai dengan etika komunikasi kepemimpinan. Menurutnya, terdapat jalur protokoler dan birokrasi yang dapat digunakan untuk menyampaikan keputusan sekaligus memberikan penjelasan kepada publik mengenai alasan pergantian.
Pandangan tersebut menunjukkan bahwa dalam komunikasi politik, cara menyampaikan pesan dapat menjadi bagian dari pesan itu sendiri. Keputusan yang sama dapat dipersepsikan secara berbeda bergantung pada bagaimana keputusan tersebut dikomunikasikan kepada pihak yang menerima maupun kepada masyarakat.
Komunikasi Kekuasaan dan Hubungan antara Pemimpin dengan Pejabat
Kasus Purbaya juga memperlihatkan adanya hubungan antara komunikasi dan kekuasaan. Dalam struktur pemerintahan, Presiden mempunyai kewenangan untuk menentukan susunan kabinet. Akan tetapi, pelaksanaan kewenangan tersebut tetap membutuhkan komunikasi yang jelas agar proses pergantian dapat dipahami oleh pihak-pihak yang berkepentingan.
Komunikasi dalam konteks kekuasaan bukan sekadar pertukaran informasi. Di dalamnya terdapat hubungan antara pihak yang memiliki kewenangan dengan pihak yang menerima keputusan. Karena itu, proses komunikasi dapat menjadi simbol bagaimana hubungan tersebut dijalankan.
Dalam kasus ini, pemberitahuan melalui telepon menjadi bagian dari peristiwa politik yang kemudian mendapat perhatian masyarakat. Hal tersebut menunjukkan bahwa komunikasi politik dapat berlangsung dalam berbagai bentuk, termasuk komunikasi langsung antara pejabat pemerintah. Ketika komunikasi tersebut berkaitan dengan perubahan jabatan publik, dampaknya dapat meluas karena kemudian menjadi bahan pemberitaan media.
Respons Purbaya dan Munculnya Pesan Politik
Selain cara pemberhentian, respons Purbaya setelah menerima keputusan juga menjadi bagian penting dalam pemberitaan. Dalam laporan Kumparan, Purbaya menyebut dirinya sempat merasa sebal setelah diberhentikan, tetapi kemudian mengaku merasa lebih lega. Ia juga menyatakan bahwa setelah tidak lagi menjabat, persoalan tertentu yang sebelumnya menjadi tanggung jawabnya tidak lagi berada di bawah tanggung jawabnya.
Respons tersebut dapat dilihat sebagai bentuk komunikasi politik dari pihak yang menjadi objek keputusan. Artinya, komunikasi politik tidak hanya berlangsung dari pemerintah kepada pejabat atau masyarakat. Pejabat yang menerima keputusan juga dapat memberikan respons yang kemudian menjadi bagian dari wacana publik.
Sikap Purbaya yang tetap memberikan keterangan kepada media membuat masyarakat memperoleh perspektif lain mengenai peristiwa tersebut. Publik tidak hanya mendapatkan informasi mengenai keputusan pergantian Menteri Keuangan, tetapi juga dapat mengetahui bagaimana pihak yang diberhentikan merespons keputusan tersebut.
Media sebagai Penghubung antara Pemerintah dan Publik
Media memiliki posisi penting dalam proses komunikasi politik karena berperan sebagai penghubung antara aktor politik dan masyarakat. Peristiwa yang awalnya terjadi dalam ruang pemerintahan dapat menjadi konsumsi publik setelah diberitakan oleh media.
Dalam pemberitaan Kumparan, misalnya, perhatian tidak hanya diarahkan pada pergantian Purbaya, tetapi juga pada momen ketika ia menerima telepon saat sedang mengikuti rapat DPD. Kumparan bahkan melaporkan bahwa momen tersebut terekam ketika Purbaya keluar dari ruang rapat untuk menerima panggilan.
Hal ini dapat dikaitkan dengan konsep framing media. Media memiliki proses seleksi dalam menentukan aspek mana yang akan ditonjolkan dalam pemberitaan. Ketika momen pemberhentian melalui telepon ditempatkan sebagai bagian penting dalam berita, pembaca kemudian tidak hanya melihat pergantian menteri sebagai keputusan administratif, tetapi juga sebagai peristiwa komunikasi politik.
Namun, framing media tidak berarti bahwa publik hanya memiliki satu cara untuk memahami peristiwa. Pembaca dapat memiliki interpretasi berbeda berdasarkan informasi, pengalaman, dan sumber lain yang mereka gunakan. Karena itu, penting bagi masyarakat untuk melihat beberapa sumber ketika memahami sebuah peristiwa politik.
Antara Kewenangan dan Etika Komunikasi
Kasus pemberhentian Purbaya memperlihatkan adanya dua aspek yang perlu dibedakan, yaitu kewenangan politik dan etika komunikasi. Kewenangan Presiden untuk melakukan pergantian menteri merupakan satu persoalan, sedangkan bagaimana keputusan tersebut disampaikan kepada menteri yang bersangkutan merupakan persoalan komunikasi.
Pembedaan tersebut penting agar pembahasan tidak berhenti pada pertanyaan mengenai siapa yang berhak melakukan pergantian. Dari perspektif komunikasi politik, yang juga perlu dilihat adalah bagaimana pesan politik disampaikan, saluran apa yang digunakan, bagaimana pihak yang menerima pesan merespons, serta bagaimana media kemudian menyampaikan peristiwa tersebut kepada masyarakat.
Perdebatan mengenai etika komunikasi dalam kasus ini juga menunjukkan bahwa masyarakat semakin memperhatikan proses di balik keputusan politik. Publik tidak hanya melihat hasil akhir berupa pergantian pejabat, tetapi juga memperhatikan bagaimana proses tersebut berlangsung.
Pelajaran dari Kasus Purbaya
Kasus Purbaya menunjukkan bahwa komunikasi politik dapat muncul dalam situasi yang sederhana, termasuk melalui sebuah panggilan telepon. Ketika pesan yang disampaikan berkaitan dengan jabatan publik, komunikasi tersebut dapat memiliki konsekuensi yang lebih luas dan menjadi perhatian masyarakat.
Peristiwa ini juga memperlihatkan hubungan antara kekuasaan, komunikasi kepemimpinan, respons pejabat, media, dan persepsi publik. Sebuah keputusan politik tidak berdiri sendiri. Cara keputusan tersebut dikomunikasikan dapat memengaruhi bagaimana peristiwa dipahami oleh pihak yang terlibat maupun masyarakat.
Pada akhirnya, kasus pemberhentian Purbaya bukan hanya persoalan pergantian Menteri Keuangan. Peristiwa tersebut dapat menjadi contoh bagaimana komunikasi politik bekerja dalam praktik pemerintahan. Sebuah keputusan dapat disampaikan dalam waktu singkat, tetapi ketika menyangkut jabatan publik, proses komunikasi tersebut dapat berkembang menjadi perbincangan yang lebih luas di ruang publik.
Satu panggilan telepon mungkin berlangsung hanya beberapa menit, tetapi pesan politik yang dibawanya dapat menjadi pembahasan publik jauh lebih lama.
