BNPB Alihkan Pesawat dan Helikopter Pemadam Karhutla dari Kalimantan ke Jatim

kumparanNEWSverified-green

·waktu baca 2 menit

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Prajurit TNI Angkatan Udara melakukan dukungan operasi penerbangan helikopter water bombing BNPB untuk penanganan kebakaran hutan dan lahan (Karhutla) di Lanud Sjamsudin Noor, Kota Banjar Baru, Kalimantan Selatan, Kamis (10/9/2026). Foto: Asprilla Dwi Adha/ANTARA FOTO
zoom-in-whitePerbesar
Prajurit TNI Angkatan Udara melakukan dukungan operasi penerbangan helikopter water bombing BNPB untuk penanganan kebakaran hutan dan lahan (Karhutla) di Lanud Sjamsudin Noor, Kota Banjar Baru, Kalimantan Selatan, Kamis (10/9/2026). Foto: Asprilla Dwi Adha/ANTARA FOTO

BNPB menggeser sejumlah armada udara dari Kalimantan Barat dan Kalimantan Selatan ke Jawa Timur untuk mendukung penanganan kebakaran hutan dan lahan (karhutla). Pemindahan dilakukan dengan mempertimbangkan kebutuhan operasi, kondisi cuaca, dan keselamatan penerbangan.

“Setelah reposisi, Kalimantan Barat masih didukung tujuh (7) pesawat water bombing (WB), terdiri atas tiga (3) pesawat dari TNI dan empat (4) pesawat dari BNPB. Adapun armada pesawat patroli/OMC yang masih disiagakan berjumlah dua (2) unit,” ujar Plt. Kepala Pusat Data, Informasi, dan Komunikasi Kebencanaan BNPB, Berton SP Panjaitan, Minggu (25/10).

Setelah pemindahan tersebut, Kalimantan Barat masih didukung tujuh pesawat water bombing, terdiri atas tiga pesawat TNI dan empat pesawat BNPB. Selain itu, dua pesawat patroli/OMC masih disiagakan di wilayah tersebut.

Sementara itu, satu helikopter water bombing dari Kalimantan Selatan juga dialihkan ke Jawa Timur. Saat ini, Kalimantan Selatan masih memiliki sembilan pesawat OMC dan patroli serta enam helikopter water bombing.

Berton mengatakan, kondisi jarak pandang yang belum memungkinkan penerbangan helikopter untuk misi pemadaman menjadi salah satu pertimbangan pemindahan armada dari Kalimantan Selatan.

“Penempatan armada akan disesuaikan secara dinamis berdasarkan kondisi cuaca, kebutuhan operasi, dan aspek keselamatan penerbangan,” ujarnya.

Penanganan karhutla di wilayah tersebut lebih diutamakan melalui OMC dengan menggunakan bahan semai dry ice dan natrium klorida (NaCl) untuk mendukung pembentukan hujan sesuai kondisi atmosfer.

BNPB tetap berkoordinasi dengan TNI, BPBD, pemerintah daerah, dan pihak terkait untuk memantau perkembangan karhutla serta menyesuaikan kebutuhan armada udara berdasarkan kondisi di lapangan.

Hingga 24 Oktober 2026 pukul 15.00 WIB, tercatat 13.910 titik panas dengan luas area terbakar sekitar 25.409 hektare. Dari total tersebut, sekitar 17.942 hektare area masih belum padam.

Kalimantan Tengah menjadi salah satu wilayah dengan jumlah titik panas tertinggi, yakni 8.049 titik. Luas area terbakar di wilayah tersebut mencapai 13.944 hektare, dengan 11.786 hektare di antaranya masih belum padam.

Meski demikian, jumlah titik panas di Kalimantan Tengah turun sekitar 52 persen, sedangkan luas area yang belum padam berkurang sekitar 43 persen dibandingkan hari sebelumnya.