Konten dari Pengguna

AI dan Penggunaan Air Bersih di Data Center

Muhammad Fariz Arrasyid

Muhammad Fariz Arrasyid

Mahasiswa Ilmu Komunikasi Univeritas Pancasila yang menaruh minat pada isu lingkungan, kebencanaan, dan kebijakan publik. Aktif menulis artikel opini dan analisis berbasis data dengan pendekatan kritis dan komunikatif.

·waktu baca 4 menit

comment
1
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Muhammad Fariz Arrasyid tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Ilustrasi Artificial Intelligence (AI). Foto: Shutterstock
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi Artificial Intelligence (AI). Foto: Shutterstock

Infrastruktur Digital dan Konsumsi Air yang Tak Terlihat

Perkembangan kecerdasan buatan (AI) dalam beberapa tahun terakhir telah mendorong pertumbuhan pesat pusat data (data center) di berbagai belahan dunia. Infrastruktur ini menjadi tulang punggung layanan digital, mulai dari komputasi awan, mesin pencari, hingga pengembangan model AI berskala besar. Namun, di balik kemajuan tersebut, muncul satu persoalan lingkungan yang relatif jarang dibahas di ruang publik: penggunaan air bersih untuk sistem pendinginan data center.

Sebagian besar pusat data modern membutuhkan sistem pendinginan intensif agar server dapat beroperasi secara stabil. Selain pendinginan berbasis udara, banyak fasilitas menggunakan water-based cooling atau liquid cooling, yang memanfaatkan air dalam jumlah besar untuk menyerap panas dari perangkat keras. Praktik ini efisien secara teknis, tetapi menimbulkan pertanyaan tentang keberlanjutan sumber daya air di tengah krisis iklim global.

Konsumsi Air yang Terus Meningkat

Laporan Morgan Stanley memperkirakan bahwa konsumsi air tahunan data center yang menopang teknologi AI dapat mencapai lebih dari 1.000 miliar liter pada 2028, meningkat tajam seiring melonjaknya kebutuhan komputasi dan ekspansi layanan berbasis AI. Sementara itu, studi yang dikutip oleh berbagai lembaga riset lingkungan menunjukkan bahwa konsumsi air global terkait operasi data center pada pertengahan dekade ini berada pada kisaran ratusan miliar liter per tahun.

Angka-angka tersebut tidak serta-merta berarti seluruh air “habis” digunakan, karena sebagian berada dalam sistem daur ulang. Namun, dalam praktiknya, kehilangan air melalui evaporasi dan pelepasan ke lingkungan tetap terjadi, terutama di wilayah dengan iklim panas dan kering.

Ketika Data Center Bertemu Krisis Air

Beberapa negara telah merasakan langsung dampak ekspansi data center terhadap pengelolaan air. Di Uruguay, rencana pembangunan pusat data oleh perusahaan teknologi global sempat menuai kritik publik karena bertepatan dengan periode kekeringan yang membatasi akses air bersih bagi warga. Situasi serupa juga terjadi di sejumlah wilayah Amerika Serikat dan Australia, di mana pemerintah lokal mulai meninjau ulang izin pembangunan data center akibat kekhawatiran terhadap kapasitas pasokan air jangka panjang.

Profesor Tim Fletcher dari University of Melbourne menilai bahwa persoalan ini tidak bisa dilihat semata sebagai isu teknis. “Pusat data adalah infrastruktur penting, tetapi penggunaannya terhadap air harus dipertimbangkan secara serius, terutama di daerah yang sudah berada di bawah tekanan sumber daya,” ujarnya dalam sebuah wawancara mengenai dampak lingkungan infrastruktur digital.

Kasus-kasus tersebut menunjukkan bahwa transformasi digital tidak berdiri di ruang hampa, melainkan bersinggungan langsung dengan kondisi ekologis dan kebutuhan dasar masyarakat lokal.

Efisiensi dan Inovasi Pendinginan

Dari sisi industri, sejumlah perusahaan teknologi mengakui tantangan tersebut dan mulai mengembangkan pendekatan yang lebih efisien. Beberapa operator data center mengadopsi sistem closed-loop cooling, yang memungkinkan air digunakan kembali dalam sirkulasi tertutup untuk meminimalkan konsumsi air segar.

Equinix, salah satu operator data center global, dalam laporan keberlanjutannya menyatakan bahwa efisiensi penggunaan air menjadi salah satu indikator utama operasional mereka. “Kami berupaya mengurangi ketergantungan pada air bersih dengan meningkatkan efisiensi pendinginan dan transparansi pelaporan penggunaan air,” tulis perusahaan tersebut dalam pernyataan resminya.

Meski demikian, para pengamat menilai bahwa inovasi teknis saja tidak cukup jika tidak disertai regulasi dan keterbukaan data yang memadai.

Antara Kekhawatiran dan Pendekatan Proporsional

Penting untuk menempatkan isu ini secara proporsional. Tidak semua pusat data menggunakan air dalam jumlah yang sama, dan tidak semua berada di wilayah rawan krisis air. Beberapa fasilitas bahkan mengklaim menggunakan air non-potabel atau air daur ulang sebagai bagian dari strategi keberlanjutan.

Namun, minimnya standar pelaporan global membuat publik sulit menilai sejauh mana klaim tersebut benar-benar berdampak. Dalam konteks ini, isu konsumsi air oleh AI bukan soal menciptakan kepanikan, melainkan mendorong diskusi yang lebih terbuka dan berbasis data tentang dampak lingkungan teknologi digital.

Ekspansi AI membawa banyak manfaat, tetapi juga menuntut kehati-hatian dalam pengelolaan sumber daya. Air bersih adalah kebutuhan dasar yang tidak tergantikan, dan penggunaannya untuk kepentingan teknologi perlu diimbangi dengan kepentingan sosial yang lebih luas.

Ke depan, pemerintah dan pelaku industri dapat mempertimbangkan beberapa langkah, seperti kewajiban pelaporan penggunaan air oleh data center, insentif bagi teknologi pendinginan yang lebih hemat sumber daya, serta integrasi perencanaan digital dengan kebijakan lingkungan.

Pada akhirnya, keberhasilan AI tidak hanya diukur dari kecanggihan algoritma, tetapi juga dari kemampuan teknologi tersebut untuk tumbuh selaras dengan keberlanjutan lingkungan dan kebutuhan manusia. Dalam konteks inilah, jejak air di balik perkembangan AI menjadi refleksi penting bagi masa depan transformasi digital.