Dari Dapur, Ibu-Ibu Nagari Cupak Menemukan Nilai yang Selama Ini Terlewat

Saya Mahasiswa Kimia FMIPA Universitas Andalas dengan ketertarikan pada ilmu kimia, sains lingkungan, dan pengembangan pengetahuan berbasis riset.
·waktu baca 2 menit
Tulisan dari Muhammad Faruqi Aidi tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Selama ini, dapur kerap diposisikan sebagai ruang paling sederhana di rumah. Tempat memasak, mencuci, lalu selesai. Namun bagi sejumlah ibu di Nagari Cupak, dapur justru menjadi ruang belajar yang membuka cara pandang baru terhadap bahan-bahan yang selama ini dianggap biasa.
Kelapa, beras, dan minyak bekas dapur umumnya hanya dimanfaatkan sebatas kebutuhan sehari-hari. Bahkan, sebagian berakhir sebagai limbah tanpa pernah dipikirkan ulang. Padahal, dengan pengetahuan yang tepat, bahan-bahan sederhana tersebut menyimpan potensi untuk diolah menjadi sesuatu yang lebih bermanfaat dan bernilai tambah.
Kesadaran inilah yang perlahan tumbuh melalui kegiatan belajar bersama yang berlangsung di Nagari Cupak, Kabupaten Solok. Alih-alih hadir sebagai pelatihan formal, kegiatan ini lebih menyerupai ruang berbagi pengalaman. Para peserta diajak berdiskusi, mencoba, dan melihat kembali dapur rumah tangga sebagai bagian dari proses pembelajaran yang dekat dengan kehidupan mereka sendiri.
Beberapa bahan dapur digunakan sebagai contoh sederhana. Minyak bekas, misalnya, tidak lagi dipandang sebagai sisa yang harus dibuang, melainkan sesuatu yang masih bisa dimanfaatkan. Kelapa dan beras pun diperkenalkan sebagai bahan lokal yang akrab, namun sering luput dari upaya pengolahan lebih lanjut.
Salah seorang peserta mengaku baru menyadari potensi tersebut setelah mengikuti kegiatan ini.
“Selama ini minyak bekas dan beras hanya digunakan seadanya. Setelah ikut kegiatan ini, kami jadi tahu kalau bahan-bahan tersebut bisa diolah lebih lanjut,” ungkapnya.
Proses belajar berlangsung secara santai dan partisipatif. Mahasiswa yang terlibat berperan sebagai pendamping, membantu peserta memahami proses tanpa kesan menggurui. Diskusi dan praktik berjalan beriringan, menciptakan suasana yang cair dan komunikatif.
Selain berbicara soal pengolahan bahan rumah tangga, kegiatan ini juga menyinggung pentingnya memberi nilai tambah pada produk lokal. Selama ini, banyak komoditas daerah dijual dalam bentuk mentah tanpa upaya pengembangan lebih lanjut. Padahal, inovasi sederhana di tingkat rumah tangga dapat membuka peluang ekonomi baru, sekecil apa pun skalanya.
Pengalaman di Nagari Cupak menunjukkan bahwa pengabdian masyarakat tidak selalu harus dilakukan dengan pendekatan yang rumit. Ketika pengetahuan kampus bertemu dengan kebutuhan rumah tangga, proses belajar dapat berlangsung secara alami dan relevan dengan kehidupan sehari-hari.
Bagi ibu-ibu PKK Cupak, kegiatan ini bukan sekadar soal teknik mengolah bahan. Lebih dari itu, dapur kembali dipahami sebagai ruang yang menyimpan potensi—tempat di mana kesadaran, kemandirian, dan kepedulian terhadap lingkungan bisa tumbuh dari hal-hal yang paling dekat dengan kehidupan mereka.
Penulis: Muhammad Faruqi Aidi, mahasiswa Kimia Universitas Andalas, bersama tim.
