Bill Gates Dukung Seruan Paus Leo XIV untuk Lindungi Martabat Manusia dari AI

Pendiri Microsoft Bill Gates mendukung seruan Paus Leo XIV agar pengembangan kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI) tetap melindungi martabat manusia. Gates menilai ensiklik Magnifica Humanitas dapat menjadi landasan untuk menghadapi risiko ketika mesin semakin mampu melampaui kemampuan berpikir manusia.
Dukungan tersebut disampaikan Gates melalui esai panjang yang terbit pada 26 Agustus. Dalam tulisannya, ia membahas berbagai risiko yang dapat muncul apabila pengembangan dan penggunaan AI berlangsung tanpa pengawasan memadai.
Gates menilai pemimpin agama dapat memainkan peran penting dalam menjawab persoalan yang muncul akibat perkembangan AI. Menurutnya, tokoh agama menghabiskan hidup mereka untuk memikirkan makna menjadi manusia.
Perspektif tersebut dinilai relevan ketika masyarakat harus menentukan cara mempertahankan nilai kemanusiaan di tengah kemampuan mesin yang terus meningkat.
"Saya terpesona oleh ensiklik Paus Leo XIV tentang AI," tulis Gates dalam esainya. "Dokumen itu memberikan fondasi yang kuat bagi pekerjaan yang perlu dilakukan."
Apa itu Magnifica Humanitas yang Didukung Bill Gates?
Magnifica Humanitas, yang berarti “Kemanusiaan yang Luhur”, dirilis Vatikan pada Mei 2026 lalu. Ensiklik sepanjang lebih dari 42.000 kata tersebut membahas perlindungan manusia pada era kecerdasan buatan.
Dokumen itu menempatkan martabat dan kesetaraan manusia sebagai dua prinsip utama dalam pengembangan AI. Teknologi tersebut harus membantu memperkuat penilaian, kreativitas, dan kebijaksanaan manusia, alih-alih menggantikan peran mereka.
Ensiklik itu juga mengingatkan manusia agar menerima keterbatasan, ketidaksempurnaan, dan kematian sebagai bagian dari kemanusiaan. Paus Leo XIV menolak gagasan bahwa teknologi dapat digunakan untuk mengejar kemampuan layaknya Tuhan.
Pengaruh Magnifica Humanitas sempat diragukan. Direktur Artificial Intelligence and Emerging Technology Initiative di Brookings Institution, Elham Tabassi, sebelumnya mengatakan ensiklik tersebut kemungkinan tidak akan menjadi pendorong langsung bagi lahirnya undang-undang baru.
Meski demikian, Tabassi menilai dokumen itu tetap dapat memengaruhi percakapan penting tentang AI. Perkembangan selama tiga bulan setelah penerbitannya mulai memperlihatkan pengaruh tersebut di kalangan pemimpin politik dan industri teknologi.
Anggota Kongres AS, Ro Khanna misalnya, menggunakan prinsip dalam ensiklik itu untuk meminta pertanggungjawaban perusahaan teknologi. Setelah bertemu Paus Leo XIV di Vatikan, Khanna mengirim surat kepada pimpinan Amazon, Anthropic, Apple, Google, Meta, Microsoft, Nvidia, dan OpenAI.
Khanna meminta delapan perusahaan tersebut menjelaskan cara mereka menyelaraskan pengembangan teknologi dengan prinsip-prinsip Magnifica Humanitas. Ia menyebut Paus Leo XIV telah menawarkan kerangka etika AI yang jelas, dengan martabat dan kesetaraan manusia sebagai fondasinya.
"AI harus memperkuat penilaian, kreativitas, dan kebijaksanaan manusia, bukan berusaha menggantikannya," tulis Khanna dalam surat kepada CEO Meta Mark Zuckerberg, mengutip National Catholic Reporter (NCR).
Selain Gates dan Khanna, Magnifica Humanitas memperoleh dukungan dari sejumlah pemimpin dunia. Wakil Presiden AS JD Vance dan Presiden Meksiko Claudia Sheinbaum termasuk tokoh yang menyambut positif dokumen tersebut. Sheinbaum bahkan membacakan dua paragraf dari ensiklik itu dalam sebuah konferensi pers.
Namun, seruan Paus mengenai pengawasan dan regulasi AI juga menuai penolakan. Salah satu pendiri Palantir dan PayPal, Peter Thiel, melontarkan kritik keras terhadap sikap Paus yang mendukung regulasi teknologi tersebut.
David Sacks, mantan pejabat urusan kripto dan AI pemerintahan Donald Trump, juga mempertanyakan risiko pemberian kewenangan besar kepada pemerintah. Ia khawatir regulasi atas nama keamanan dapat digunakan untuk menyensor, mengawasi, dan mengendalikan masyarakat.
Perbedaan pandangan itu menunjukkan bahwa Magnifica Humanitas telah masuk ke pusat perdebatan mengenai masa depan AI. Dukungan Gates memperkuat posisi ensiklik tersebut sebagai salah satu rujukan dalam membahas cara mengembangkan teknologi tanpa mengorbankan nilai kemanusiaan.
